Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

HATI-HATI! Konsumsi Minuman Instan Picu Gagal Ginjal, Ini Penjelasannya

Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh manusia. Fungsi ginjal menyaring darah sebelum mengirimnya kembali ke jantung

iStockphoto / Tharakorn
7 kebiasaan harian yang menyebabkan gagal ginjal 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh manusia. Fungsi ginjal menyaring darah sebelum mengirimnya kembali ke jantung, membuang limbah dan racun dari tubuh serta membantu mengeluarkannya sebagai urine. Hari Ginjal Sedunia biasa diperingati tiap Kamis pekan kedua di bulan Maret.

Belakangan ini tren penyakit ginjal kronis terutama gagal ginjal mengalami peningkatan serius di Jawa Tengah. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2TM) Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Arfian Nevi, menuturkan setiap tahun penderita gagal ginjal makin meningkat.

"Makin meningkat trennya. Tidak hanya tren penyakit ginjal, penyakit tidak menular lain seperti kanker, jantung juga seperti itu," kata Arfian. Berdasarkan data di Riset Kesehatan Dasar 2018 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes, Jateng menempati urutan ke-15 jumlah pravelensi penyakit ginjal kronis di Indonesia.

Estimasi pravelensi pengidap ginjal di Jateng mencapai 4,1 permil atau perseribu penduduk. Urutan pertama ditempati Provinsi Kalimantan Utara dengan jumlah pravelensi 6,4 persen.

Jumlah itu meningkat dibandingkan hasil Riskesdas 2013 yang mencapai pravelensi 3,0 permil. Namun, angka penderita di Jateng masih lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata nasional. Berdasarkan pemeriksaan, pravelensi ginjal secaa nasional naik dari 2 persen menjadi 3,8 persen.

Angka tersebut baru perkiraan berdasarkan pemeriksaan dokter. Belum ada data yang benar-benar akurat. Bahkan, bisa dikatakan penderita bisa lebih besar ketimbang data yang ada di Kementerian Kesehatan itu. "Penyakit tidak menular yang paling tinggi di Jateng yakni jantung, kanker, gagal ginjal dan lain sebagainya," katanya.

Arfian menjelaskan penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan kondisi dimana terdapat kelainan dari fungsi dan struktur ginjal. Artinya, organ tubuh ini tidak dapat berfungsi dengan baik seperti menyaring kotoran, mengontrol jumlah air dalam tubuh, mengatur kadar garam dan kalsium dalam darah.

"Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menderita ginjal. Tapi kebanyakan karena faktor terlalu sering mengonsumsi minuman instan," terangnya. Penyabab lain diantaranya tekanan darah tinggi, diabetes, narkotika, psikotropika, zat adiktif lain serta rokok.

"Banyak orang awam yang tidak paham, terutama terkait minuman instan. Mereka tahunya minuman itu membuat badan jadi segar dan sebagainya, padahal keliru," tandasnya.

Menurutnya, konsumsi minuman instan satu atau dua kali tidak jadi masalah. Yang berbahaya, jika diminum rutin dan sudah menjadi pola hidup atau kebiasaan seseorang. Mungkin orang merasa kurang bergairah kemudian mengkonsumsi minuman instan sehingga badan jadi segar. Jika di kemudian hari dia mengalami hal yang sama, dia akan meminumnya kembali dan seterusnya.
Hal itu bisa jadi bencana bagi tubuh. Padahal, kata Arfian, minuman instan memiliki efek samping.

Banyak cara yang dapat dilakukan agar badan jadi segar kembali selain konsumsi minuman instan.
"Pokoknya yang paling aman dan sehat itu air putih. Itu sudah diajarkan turun temurun oleh simbah (nenek moyang) kita. Atau bisa juga konsumsi minuman sehat seperti minuman jahe, rempah-rempah, dan sebagainya," tuturnya.

Untuk mengetahui seseorang menderita ginjal, diperlukan pemeriksaan darah dan biospi. Hal ini penting karena penyakit ginjal tidak selalu tampak dan dirasakan saat stadium awal. Gejala penyakit ginjal biasanya penderita kehilangan nafsu makan, tekanan darah tinggi atau hipertensi, perubahan frekuensi kencing dalam sehari, dan sakit kepala.

Gejala-gejala itu kerap dijumpai dan dialami serta sangat lazim di masyarakat. Karena itu penderita terkadang tidak tahu persis yang dialaminya yakni penyakit ginjal. "Masyarkat perlu mengenali diri sendiri sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit ginjal. Cek urine dan gula darah juga penting untuk mengecek kondisi ginjal," kata Arfian.

Untuk penanganan atau terapi, bisa ditempuh pasien dengan cara peritoneal dialysis atau continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), hemodialisis (HD) atau cuci darah, dan tranplantasi ginjal.

Saat ini, lanjutnya, pasien penyakit ginjal lebih banyak memilih HD daripada dua pilihan lainnya. CAPD sedikit diakses penderita lantaran kurangnya tenaga perawat dan cairannya yang masih didistribusi dari luar negeri.

Sedangkan untuk tranplantasi ginjal harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, donatur ginjal juga harus berasal dari saudara atau keturunan sedarah. "Kalau sudah parah, pasien bisa melakukan cuci darah seminggu dua kali atau sekali, tergantung kondisi. Untuk tranplantasi itu sangat mahal," ucapnya.

Penderita gagal ginjal dan menjalani terapi atau pengobatan biasanya tidak bertahan lama, hanya beberapa tahun. "Ini bukan menakut-nakuti. Lebih baik memang mencegah penyakit tidak menular itu. Masyarakat yang banyak uang, tidak asal membeli minuman olahan atau instan seenaknya, mending air putih dan jahe gepuk," ujarnya.

Pemerintah Provinsi sendiri telah melakukan sosialisasi agar masyarakat sadar bahaya penyakit ginjal yang mengintip setiap saat. Strategi dalam pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular yakni pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat.

Slogan CERDIK pun digaungkan pemprov kepada masyarakat yang berpotensi terkena penyakit ginjal. CERDIK merupakan kepanjangan dari cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin berolahraga, diet sehat, istirahat cukup, dan kelola stres. Ini untuk mendorong warga agar mandiri dalam penerapan gaya hidup sehat melalui berbagai cara strategis. (tim)

Nancy Akui Ibunya Takut Operasi

MATA Nancy Dian Puspita berkaca-kaca saat mengingat bagaimana perjuangan ibunya yang dulu ingin berusaha sembuh dari penyakit ginjal. Menurut Nancy, jangankan sembuh, untuk bisa bertahan hidup saja butuh perjuangan yang tidak mudah. Setiap dua kali seminggu harus rutin pergi ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah.

Biasanya proses cuci darah berlangsung selama tiga sampai empat jam. Di daerah tempat tinggalnya Demak tidak ada rumah sakit yang menyediakan fasilitas tersebut sehingga harus pergi ke Semarang menempuh perjalanan panjang.

Nancy tidak mengetahui seperti apa efek yang dirasakan jika terlambat atau tidak melakukan cuci darah. Sebab sejauh ini ibunya tertib melakukan cuci darah sesuai jadwal, yaitu seminggu dua kali.
Ia bercerita dulu sekali, ketika Nancy duduk di bangku sekolah dasar, ibunya pernah mengalami penyakit batu ginjal. Barulah sekitar 10 tahun kemudian divonis gagal ginjal oleh dokter.

“Ibu saya dulu orang yang jarang minum. Apalagi air putih, paling teh segelas kalau pagi. Mungkin karena itu jadinya ginjalnya sakit,” ujarnya.

Sebelum didiagnosis mengalami gagal ginjal, Ibunya sering mengeluh sakit pada pinggang belakang. Selain itu, tubuhnya terlihat membengkak lalu tak sadarkan diri. “Sempat koma dua hari, kejadian itu tepat usai perayaan pesta ulang tahun kakak saya. Jadi saya masih ingat. Ketika diperiksa sejak saat itulah ketahuan kalau ibu saya kena penyakit ginjal ditambah hepatitis,” kata Nancy.

Ketika tersadar ibunya kaget melihat bagian dada telah “bolong” dan terpasang alat untuk proses cuci darah. Sejak saat itu harus rutin melakukan cuci darah selama dua kali dalam seminggu.

Menurut Nancy, ibunya merupakan orang yang takut dengan segala hal yang berkaitan dengan rumah sakit. Setiap kali cuci darah, selalu ngedrop karena merasa takut. Kondisi mental seperti itu turut berpengaruh terhadap jalannya proses penyembuhan.

Terkait biaya, dua kali cuci darah dalam seminggu dicover oleh BPJS. Namun jika lebih dari itu maka sisanya harus ditanggung sendiri. Sepengetahuannya setiap kali cuci darah paling tidak membutuhkan biaya Rp1,5 juta. “Paling cuma biaya perawatan dan transportasi yang harus ditanggung sendiri. Tapi kalau dihitung-hitung juga lumayan, satu sampai dua jutaan rupiah ada per bulannya,” kata Nancy.

Sejak divonis gagal ginjal dan menjalani cuci darah rutin, ibunya hanya mampu bertahan tak lebih dari satu tahun. Ketika koma yang kedua kalinya ia tidak bisa diselamatkan dan meninggal dunia.
Ketika sakit, pernah ada niatan Nancy untuk melakukan donor ginjal. Ia meyakini cara tersebutlah yang paling ampuh untuk proses penyembuhan. Namun oleh ibunya niatan tersebut dilarang. “Ibu saya gak mau, katanya saya masih muda nggak mau melihat anaknya hidup dengan satu ginjal. Selain itu ibu saya juga takut operasi,” ujarnya.

Menurut Nancy bagi yang mengalami penyakit ginjal kronis terpenting adalah motivasi untuk tetap hidup. Memerangi rasa malas untuk pergi ke rumah sakit melakukan cuci darah. Sehingga dibutuhkan dukungan suport dari orang terdekat seperti keluarga. “Karena ada yang sejak tujuh tahun sampai sekarang rutin cuci darah. Dia semangat walau harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit,” ujarnya. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved