Bandara Semarang : Airnav Masih Belum Gunakan ILS di Bandara Ahmad Yani

Air Navigasi (Airnav) Cabang Semarang, hingga saat ini, masih terus memperbaiki Instrument Landing System (ILS)

Bandara Semarang :  Airnav Masih Belum Gunakan ILS di Bandara Ahmad Yani
TRIBUN JATENG/RAHDYAN TRIJOKO PAMUNGKAS
Petugas air traffic control (ATC) Airnav Semarang pandu pesawat Kepresidenan saat akan lepas landas di Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. Kondisi steril setelah dikeluarkan Notice To Airman dari Airnav. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Air Navigasi (Airnav) Cabang Semarang, hingga saat ini, masih terus memperbaiki Instrument Landing System (ILS) yang rencananya akan dioperasionalkan di Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang.

Instrument Landing System (ILS) sendiri, merupakan sistem pemandu pendaratan pesawat udara dengan menggunakan instrument elektronika.

Sistem tersebut, membantu pesawat udara untuk mendarat tepat pada centre line (garis tengah) runway, dengan sudut pendaratan yang tepat. Dengan bantuan pemanduan, pilot dapat mengetahui jarak pesawat terhadap area pendaratan (touchdown zone) pada runway.

"Dengan begitu, pemandu dapat mengatur posisi kanan dan kiri (center line) pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat di garis tengah landasan. Selain itu, juga bisa mengatur posisi atas bawah pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat pada sudut ± 3° terhadap landasan, itulah fungsi dari ILS selama ini," kata Manager Operasi Airnav Cabang Semarang, Kelik Widjanarko, Kamis (21/3).

Meski begitu, Kelik menyampaikan, ILS belum digunakan, masih terus diperbaiki. Airnav saat ini menggunakan Very High Frequency Omni Range (VOR).

"VOR ini merupakan alat bantu navigasi jarak sedang, yang bekerja menggunakan frekuensi radio sangat tinggi (VHF/Very High Frequency), di mana fasilitas VOR memungkinkan pesawat menuju tujuan dengan memanfaatkan stasiun VOR di darat tanpa tergantung dari keadaan cuaca (yaitu dengan menggunakan bantuan instrument atau dengan bantuan autopilot)," ujarnya.

Di sisi lain, peralatan VOR yang ada di pesawat terbang menunjukkan setiap deviasi dalam derajat dari jalur penerbangan yang dipilih, bahkan tidak tergantung dari heading pesawat.

"Penerbang dapat memanfaatkan stasiun VOR di darat pada saat tinggal landas dengan memilih jalur penerbangan VOR dan selanjutnya terbang menuju stasiun VOR lain," sebutnya.

Adapun manfaat dari VOR untuk penerbangan adalah perlengkapan penermia VOR di pesawat terbang yang mempunyai 3 macam fungsi.

"Di antaranya untuk garis yang menghubungkan stasiun dengan pesawat terbang. Untuk menunjukkan deviasi kepada pilot, apakah pesawat berada di kiri, di kanan atau tepat pada jalur penerbangan yang benar/dipilih.

Kemudian, menunjukkan apakah arah pesawat terbang menuju atau meninggalkan stasiun VOR," paparnya.

Selain itu, VOR tersebut akan dipasangi DME atau Distance Measuring Equipment untuk melengkapi, sehingga posisi pesawat terbang secara teliti dapat terus menerus diketahui oleh para penerbang.

"Dengan kata lain, DME juga dapat dipergunakan pada fasilitas navigasi udara ILS (Instrument landing System) guna memberikan informasi jarak secara terus menerus/tak terputus kepada penerbang pada saat pendekatan/pendaratan. Dan kamu juga masih terus bekerja, untuk segera ILS ini segera terealisasi di Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang," pungkas Kelik.(hei)

Penulis: galih permadi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved