Dua Tahun Kasus Novel Baswedan: Dua Sepeda Masih Nangkring di Kantor KPK
Kamis, 11 April 2019, menjadi genap dua tahun belum terungkapnya kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Kamis, 11 April 2019, menjadi genap dua tahun belum terungkapnya kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.
Dalam rangka mendorong pengungkapan kasus Novel yang masih gelap gulita di kepolisian, Wadah Pegawai KPK atau WP KPK sempat membuat aksi sayembara pada 27 Juli 2018. Mereka menyiapkan dua buah sepeda sebagai hadiah bagi siapa saja yang mampu mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan.
Sejak hari itu, dua sepeda tersebut dipajang di depan lobi kantor KPK. Sebuah banner bertuliskan 'Hayo Coba Sebutkan 1 Penyerang Novel, yang Bisa Silakan Ambil Sepeda' dipasang di samping sepeda yang masih terbungkus plastik. Pesan di banner tersebut mirip kalimat yang biasa disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat mengadakan kuis berhadiah sepeda.
Hingga hari ini atau genap dua tahun kasus Novel berlangsung, kedua sepeda itu masih tetap berada di depan kantor KPK. Belum ada yang bisa menjawab pertanyaan dalam sayembara tersebut.
Ketua WP KPK Yudi Purnomo mengatakan pihaknya akan tetap memajang sepeda tersebut hingga pelaku penyerangan terhadap Novel bisa tertangkap. "Sepeda ini akan terus ada di depan lobi KPK sampai pelakunya ditemukan," ujar Yudi Purnomo.
Sepeda dari WP KPK merupakan sepeda BMX berkelir hitam. Sepeda ini khusus dibeli WP KPK di Pasar Manggarai bagi masyarakat yang bisa mengungkap kasus Novel.
Tidak hanya dari WP KPK, sebuah sepeda lainnya berwarna merah muda juga dipersembahkan oleh Madrasah Anti Korupsi bagi masyarakat yang bisa menyebut nama pelaku teror.
Sepeda dari Madrasah Anti Korupsi ini merupakan sepeda untuk anak perempuan. Dilengkapi dengan keranjang merah di depan dan bangku bergambar Barbie di belakang.
Kini, plastik-plastik pembungkus sadel kedua sepeda sudah tampak berdebu. Warnanya yang tadi bening telah terlihat kusam.
Hal yang tak sedap dipandang mata juga terlihat pada ban sepeda. Masing-masing ban pada sepeda sudah mengempis, tidak ada lagi angin terisi di dalamnya.
Di belakang posisi sepeda, terdapat TV layar datar yang menunjukkan angka 720 hari 14 jam 06 menit 22 detik. Angka-angka itu merupakan penunjuk sejak bergulirnya kasus terhadap Novel. Tepat di bawah angka tersebut, terdapat tulisan menggunakan huruf kapital, 'SEJAK NOVEL BASWEDA DISERANG, SELAMA ITU PULA POLISI GAGAL UNGKAP PELAKU'.
Teror terhadap Novel bermula ketika ia tengah berjalan pada Selasa, 11 April 2017 menuju rumahnya sesuai melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Akibat siraman air korosif itu, mata kiri penyidik senior KPK itu mengalami kerusakan hingga 95 persen. Mata kanannya juga mengalami kerusakan dan kini tidak lagi bisa melihat dengan sempurna. (tribun network/ilh/coz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/novel-baswedan_20180727_154623.jpg)