Breaking News
Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Pembentukan Pasukan Elit Kopassus, Pernah Sandang Nama RPKAD dan Kopassandha

Berikut ini kisah Kopassus mulai dari pendiriannya, kemudian bernama RPKAD dan Kopassandha hingga perkembangan mutakhir

Tayang:
Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Kopassus yang pernah bernama RPKAD dan Kopassandha 

Berikut ini kisah Kopassus mulai dari pendiriannya, kemudian bernama RPKAD hingga perkembangan mutakhir 

TRIBUNJATENG.COM - Indonesia yang memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945 mulai memahami kebutuhan akan militer untuk mempertahankan kedaulatan.

Pemerintah yang baru terbentuk melebur Pembela Tanah Air yang dibentuk Jepang menjadi Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Mereka pun mulai bergerak melucuti senjata Jepang.

Status Peta dan BKR meningkat menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian terbagi dalam tiga matra, yaitu darat, laut, dan udara.

TKR kemudian berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan membuat satuan-satuan khusus untuk mengatasi sejumlah tantangan saat itu, salah satunya separatisme.

Inilah Nama-nama Komandan Pasukan Elit Kopassus, Bermula dari Mayor Inf Idjon Djanbi

Akhirnya, pada 16 April 1952 salah satu pasukan elite yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus ( Kopassus) akhirnya dibentuk.

Satuan ini dikenal dengan baret merahnya. 

Kedaulatan Indonesia terganggu ketika beberapa kelompok daerah melakukan pemberontakan untuk memisahkan diri.

Salah satunya adalah ketika Indonesia menghadapi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Dilansir dari Kopassus.mil.id, perwira militer ketika itu mulai melakukan serangkaian operasi untuk menumpas pemberontakan tersebut.

Namun, operasi ini memakan korban dari pihak TNI yang tak sedikit.

Kendalanya bukan dari perlengkapan yang lebih baik, namun karena semangat dari pasukan musuh lebih tinggi dibarengi dengan taktik pengalaman tempur yang lebih baik.

Akhirnya, Kolonel AE Kawilarang dan Letnan Kolonel Slamet Riyadi mempunyai gagasan untuk membentuk pasukan khusus untuk menumpas gerakan tersebut dengan kualifikasi pasukan yang lebih baik.

Belum sempat terwujud, Slamet RIyadi gugur dalam misi perebutan pertahanan terakhir RMS di Benteng Niew Victoria, Ambon.

Gagasan itu baru dapat diwujudkan dua tahun kemudian oleh Kawilarang yang saat itu menjabat Panglima Tentara dan Teritorium (TT) III/ Siliwangi.

Dikutip dari Harian Kompas yang terbit pada 16 April 1992, Kawilarang dibantu Mayor RB Visser alias Mochamad Idjon Djanbi.

Idjon Djanbi merupakan mantan anggota Korps Speciale Troepen (KST), pasukan khusus tentara Kerajaan Belanda dan tercatat pernah bertempur dalam Perang Dunia II.

Akhirnya, pada 16 April 1952, Tentara dan Teritorium III/Siliwangi ditetapkan menjadi Kesatuan Komando Tentara dan Teritorium (Kesko TT) III/ Siliwangi.

Djanbi dipercaya menjadi komandan pertama.

Pendidikan komando angkatan pertama dibuka pada 1 Juli 1952 di Batujajar, diikuti 400 siswa.

Lulusan dari pendidikan ini merupakan militer dengan kualifikasi komando yang mempunyai keahlian khusus.

Pada 1953 status teritorial Kesko dialihtugaskan dari Panglima III/Siliwangi kepada Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).

Nama Kesko TT III berubah menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD).

Pada 1955 satuan KKAD dikembangkan menjadi resimen sehingga namanya pun diubah menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Akhirnya pada 26 Oktober 1959 nama RPKAD diubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Pangkalan RPKAD dipindahkan ke Cijantung dan SPKAD tetap di Batujajar.

Dalam kurun 1962-1966, nama resimen ini disingkat Menparkoad.

Pada 1966, resimen ini ditingkatkan menjadi Pusat Pasukan Khusus (Puspassus) AD, kemudian berganti nama lagi pada tahun 1971 menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) TNI AD.

Pusat pendidikannya juga berubah nama menjadi Pusat Sandi Yudha dan Lintas Udara (Pussandha Linud).

Kopassandha berubah menjadi Komando Pasukan Khusus ( Kopassus) sejak tahun 1985.

Pasukan yang khas dengan baret merah ini memiliki moto Tribuana Chandraca Satya Dharma yang memiliki arti "Berani, Benar, Berhasil".

Peran dari pasukan Kopassus begitu banyak.

Dari operasi menghadapi Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga operasi pemberontak lainnya.

Namun, ternyata ada sederet operasi yang menyita banyak perhatian.

Dikutip dari Harian Kompas yang terbit pada 16 April 2016, Resimen Kopassus (saat itu masih bernama Para Komando Angkatan Darat/RPKAD), jadi bagian dari Kontingen Garuda III di Kongo 1962-1963.

Mereka berhasil mengalahkan sekitar 2.000 pasukan pemberontak Kongo di tepi Danau Tanganyika.

Keberhasilan Ini menjadi salah satu legenda hingga kini.

Keberhasilan itu merupakan buah dari pendidikan Para Komando yang antara lain mengajarkan untuk mengenal sosial-budaya wilayah penugasan.

Ketika itu, prajurit RPKAD di Kongo mengetahui adanya takhayul dan beragam kepercayaan yang hidup di masyarakat.

Takhayul itu termasuk dipercaya para pemberontak yang sebagian tinggal di tepian barat Danau Tanganyika.

Pasukan RPKAD yang membungkus diri dengan jubah putih dan diiringi berbagai bunyi-bunyian, menyerang para pemberontak saat hari masih gelap.

Mereka menyerbu dari Danau Tanganyika menggunakan perahu yang disamarkan.

Serangan ”hantu putih” itu mengejutkan pemberontak yang kemudian menyerah.

Sementara itu pada 1 April 1981, Kopassus juga melakukan operasi Woyla. Berada di Bandara Don Muang, Bangkok, mereka melakukan infiltrasi.

Sebanyak 24 pasukan berbaret merah menuju bagian belakang pesawat Garuda DC-9 yang dibajak oleh teroris.

Sementara, 11 lainnya bergabung degan Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF).

Sesudah pintu darurat dan pintu bagian ekor terbuka, rentetan suara senapan memecah keheningan pada hari itu.

Bersamaan dengan itu terlihat pintu kokpit pesawat terbuka yang kemudian disusul dengan rentetan-rentetan suara senapan baru dan mengalirnya para penumpang DC-9 keluar pesawat.

Akhirnya operasi itu berhasil, sebanyak lima orang pembajak dilumpuhkan.

57 orang penumpang berhasil selamat. Operasi Woyla ini berhasil memantapkan kekuatan Kopassus di mata militer dunia. (kompas.com/aswab nanda prattama)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dari RPKAD ke Kopassus, Ini Perjalanan Pasukan Baret Merah TNI AD"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved