Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Alasan Sopir Tak Lewat Jalan Tol dan Istirahat Ngadem Ban

Kebanyakan dari sopir mengaku jatah uang jalan dari bosnya tidak termasuk bayar uang tol di Pantura Jawa. Sehingga sopir pilih jalur bukan tol

Tribun Jateng/Yasmine Aulia Gunawan
Ilustrasi truk besar 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Ada beberapa pertimbangan bagi sopir truk sehingga memilih jalan bukan tol.

Kebanyakan dari sopir mengaku jatah uang jalan dari bosnya tidak termasuk bayar uang tol di Pantura Jawa. Sehingga sopir pilih jalur bukan tol supaya ada sisa dana baginya.

Selain itu, ban truk yang angkut beban berat, misalnya di atas 10 ton, maka harus berhenti untuk pendinginan ban serta ngadem mesin.

Sekitar satu jam berhenti sudah cukup untuk bikin ban truk dingin lagi. Truk muatan berat ngebut di jalan bisa bikin ban cepat panas sehingga riskan pecah ban. Itu yang sering terjadi.

"Truk yang lewat tol berarti benar-benar sudah dipertimbangkan tidak bisa lewat jalur biasa. Misalnya target kejar waktu atau jalur non tol padat merayap, maka harus lewat tol tak ada pilihan lain," kata Andika seorang sopir truk.

Pengamat Transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno menilai ada angkutan barang yang memang membutuhkan cepat tiba di tujuan.

Namun ada juga angkutan barang tidak perlu cepat sampai di tujuan.

“Percuma cepat tiba di tujuan jika masih harus menunggu beberapa hari antre bongkar muat barang. Barang yang diangkut itu seperti layaknya gudang berjalan.

Sementara angkutan barang yang perlu tepat waktu tiba, seperti ikan segar, lombok dan sayur mayur. Jika terlambat, harga jual bisa turun atau barang rusak,” imbuhnya.

Maka jangan heran jika selama ini ada truk pilih lewat jalan pantura bahkan ngebut zig zag untuk menyalip kendaraan.

Setelah jalan tol terhubung, angkutan barang seperti ini sangat menikmati perjalanan di jalan tol kecepatan sekitar 60 km per jam.

Jika kecepatan 60 km ke bawah biasanya overload atau kelebihan muatan. Jika masuk jalan tol juga mengganggu laju kendaraan yang lain dan sering menimbulkan kecelakaan. Fenomena tabrak belakang di jalan tol bisa berakibat fatal hingga menelan korban jiwa.

Djoko Setijowarno menambahkan, pilihan pengusaha memang hanya memberi uang tol antara ruas tol Cikampek-Jakarta ada maksudnya. Pilhan jalan non tol antara Jakarta-Cikampek tidak ada.

Jika menggunakan jalan non tol antara Jakarta -Cikampek bisa lebih lama lagi. Jalan non tol antara Cikampek-Jakarta sudah menjadi jalan local yang tidak layak digunakan sebagai jalan nasional arteri primer.

Memang ruas jalan tol Brebes-Semarang tidak seramai tol Jakarta-Cikampek. "Mungkin sopir truk di jalur pantura bisa beralasan untuk istirahat dan makan di rumah makan di sepanjang jalan pantura. Meskipun memakai tol bisa lebih cepat. Tetapi cepat bukan tujuan ternyata. Pertimbangan harga juga menjadi penting, karena terbatasnya uang saku yang diberikan,” imbuhnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved