Ngopi Pagi
Fokus ; Keangkeran Wanamarta
KOCAP kacarita, Duryudana dan 99 saudaranya kaget bukan kepalang, ketika mendapati ternyata Pandawa masih hidup.
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Achiar M Permana
Wartawan Tribun Jateng
KOCAP kacarita, Duryudana dan 99 saudaranya kaget bukan kepalang, ketika mendapati ternyata Pandawa masih hidup. Semula, mereka menyangka lima putra mendiang Prabu Pandu Dewanata telah menemui ajal, saat Bale Sigala-gala menjadi arang.
Persoalan menjadi pelik lantaran sulung Prabu Destarastra telah menahbiskan diri sebagai putra mahkota Astinapura, dan dalam waktu dekat segera menggantikan sang ayah di singgasana. Padahal, Duryudana tahu benar, Pandawa juga berhak atas Kerajaan Astinapura.
Duryudana yang tidak ingin Astina kembali pada Pandawa, lalu mencari cara agar bisa melenyapkan Puntadewa dan keempat adiknya. Lebih-lebih Sengkuni, patih yang terkenal licik, selalu mengipasi niatnya.
Di sisi lain, Destrarastra panik. Dia khawatir, Duryudana bunuh diri, jika sampai Puntadewa yang akhirnya naik takhta. Maka, dia kemudian memberikan Alas Wanamarta kepada Pandawa, supaya dibangun menjadi kerajaan baru. Puntadewa yang terkenal lembut hati pun menurut.
Rupanya, upaya membuka hutan Wanamarta bukanlah hal sederhana, Hutan itu terkenal sangar. Para dalang kerap menggambarkan keangkeran Alas Wanamarta dengan ungkapan "jalma mara jalma mati sato mara sato mati, manusia datang, manusia mati, binatang datang, binatang mati".
Bima, penegak Pandawa yang terkenal gagah pideksa, nyaris patah arang. Upayanya menebang pohon, membuka hutan, seperti membentuk dinding padas. Tiap kali Bima, yang kekuatannya konon setara 70 ekor gajah, berhasil merobohkan pohon raksasa di hutan itu, seketika pula pohon itu berdiri lagi. Begitu pula yang dialami para ksatria Pandawa lainnya.
Kesulitan Pandawa dalam membuka hutan Wanamarta tidak lain karena hutan itu dikuasai lima jin, atau kalau dalam istilah wong Jawa jim setan peri prayangan. Anehnya, wajah jin-jin itu mirip benar dengan para Pandawa. Mereka adalah Yudistira yang mirip dengan Puntadewa, Dandungwacana yang sama persis dengan Bima,
Dananjaya yang berwajah Arjuna, serta Nakula dan Sadewa yang sulit dibedakan dari kembar Pinten dan Tansen. Ketenangan kelima penguasa Wanamarta itu terusik oleh upaya para Pandawa membuka hutan.
Untunglah, Arjuna mempunyai minyak Jayengkaton pemberian Begawan Wilawuk, yang bisa membuat seseorang melihat makhluk halus apabila pada kelopak matanya dioleskan minyak tersebut. Kemudian Arjuna mengoleskan minyak itu ke setiap mata Pandawa, agar dapat melihat kelima makluk halus penguasa Wanamarta.
Singkat cerita, Pandawa dapat mengalahkan kelima penguasa Wanamarta tersebut dan kelimanya menitis masuk kedalam tubuh para Pandawa. Hal itulah yang membuat para Pandawa kemudian memiliki nama yang sama dengan para penguasa hutan Wanamarta.
Setelah halangan utama terselesaikan, langkah para Pandawa membuka hutan Wanamarta pun menjadi lempang. Seperti kita dengar dalam lakon Babad Alas Wanamarta, bagian dari wiracarita Mahabarata, hutan itu pun berubah menjadi kerajaan yang megah bernama Indraprastha atau Amarta.
Kisah para Pandawa membuka hutan, saya kira menjadi kontekstual, seiring dengan rencana Presiden Joko Widodo memindahkan ibu kota negara. Kendati tidak persis benar, upaya menghadirkan ibu kota baru tidak semudah membalik telapak tangan.
"Nek cara Sampean, sapa sing dadi jim peri prayangane?" tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk.
Wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta kembali mencuat setelah Jokowi menggelar rapat tertutup membahas persoalan itu di Kantor Presiden, Jakarta, 29 April 2019 lalu. Selasa (7/5/2019) pagi, Jokowi melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah di Pulau Kalimantan. Berdasarkan siaran pers resmi Istana, kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut keseriusan pemerintah dalam hal pemindahan ibu kota negara.
Sebelumnya, di hadapan para kepala lembaga tinggi negara saat acara buka puasa bersama di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/5/2019), Jokowi kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak main-main terkait rencana pemindahan ibu kota negara.
"Kita serius dalam hal ini karena sejak tiga tahun yang lalu sebetulnya ini telah kita bahas internal. Kemudian 1,5 tahun yang lalu kami minta Bappenas untuk melakukan kajian-kajian yang lebih detail baik dari sisi ekonomi, sosial-politik, dan juga dari sisi lingkungan," ujar Jokowi.
Sejatinya, pemindahan ibukota negara, sama sekali bukan barang baru. Pada tahun 1957, 62 tahun silam (!), ketika meresmikan Kota Palangkaraya sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Bung Karno telah menyatakan keinginan untuk menjadikan kota di tepi Sungai Kahayan itu sebagai ibukota negara. Yang baru.
Di dunia, tak kurang dari 30 negara yang memindahkan ibu kotanya dan, nyatanya, sukses. Brasil, satu di antaranya. Brasil memindahkan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia, pada 1960. Negeri Tirai Besi, Rusia, juga telah memindahkan ibu kota ke Moskow, pada 1918, dari sebelumnya St Petersburg, yang menjadi ibu kota negeri itu selama 200 tahun lebih.
Di Asia Tenggara, Malaysia telah terlebih dahulu memindahkan ibukota dari Kuala Lumpur ke Putrajaya, pada 1999. Myanmar menyusul enam tahun kemudian, pada 2005, memindahkan ibukota dari Yangoon ke Naypyidaw.
"Tapi, Kang, kalau ibukotane pindah seka Jakarta, apa meneh ke luar Jawa, mudike dadi repot lo. Adoh!" Dawir nyeletuk lagi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/achiar-m-permana_20161007_144055.jpg)