Peternak Lele Kudus Pakai Sistem Budidaya Bioflok : Ikan Lebih Higienis
Peternak lele di Kudus ini menggunakan metode budi daya yang tak biasa digunakan peternak pada umumnya. Yaitu menggunakan metode bioflok.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Peternak lele di Kudus ini menggunakan metode budi daya yang tak biasa digunakan peternak pada umumnya.
Yaitu menggunakan metode bioflok.
Dia adalah Muhammad Sofyan Hadi.
Warga Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, itu menuturkan, bioflok yaitu suatu sistem pemeliharaan ikan lele yang menumbuhkan suatu mikroorganisme, yang memiliki fungsi untuk menggelola limbah budi daya itu sendiri, hingga menjadi gumpalan kecil (floc) yang dimanfaatkan langsung sebagai makanan alami.
Pertumbuhan mikrooganisme ini ditumbuhkan (dipacu) dengan cara memberikan probiotik atau kultur bakteri non pathogen.
Kemudian juga dilakukan pemasangan aerator penyuplai oksigen sekaligus untuk mengaduk air dalam kolam.
“Saat mengikuti bimbingan teknis dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) di Sukabumi.
Di sana dijelaskan bahwa sistem ini hemat air dan mengurangi jumlah pakan 15-20 persen.
Ini menyenangkan pembudidaya lele, sebab biaya terbesar ada di pakan,” kata Sofyan saat ditemui di rumahnya, Minggu (19/5/2019).
Selanjutnya, kata dia, hasil panen budi daya lele dibandingkan dengan budi daya kolam tanah.
Kemudian untuk pakannya, katanya, dalam budi daya ini menggunakan pelet pabrikan yang terukur kandungan isisnya.
“Sistem bioflok ini juga memiliki keunggulan pada tebar padat.
Yakni per meter bisa menebar bibit seribu ekor.
Rata-rata kolam bundar saat ini berukuran 3 meter, sehingga bisa diisi 3 ribuan ekor,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kolam-bioflok_20170731_172834.jpg)