Rabu, 29 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Lima Teroris Gagal ke Jakarta Ditangkap Tim Gabungan di Garut

Pergerakan massa ke Jakarta untuk menggelar aksi demo 22 Mei 2019, rupanya benar-benar disusupi kelompok teroris

Tayang:
ISTIMEWA
Petugas mengamankan lima orang terduga teroris di Malangbong, Garut, Selasa (21/5/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, GARUT -- Pergerakan massa ke Jakarta untuk menggelar aksi demo 22 Mei 2019, rupanya benar-benar disusupi kelompok teroris. Polisi menangkap lima orang terduga teroris di Kecamatan Malangbong, Garut, Jawa Barat.

Mereka ditangkap dalam mobil dari arah Tasikmalaya menuju Garut, Selasa (21/5), sekira pukul 16.30 WIB. "Ada mobil dari arah Tasikmalaya ke Garut, namun kemudian putar balik lagi. Anggota curiga lalu mengejar mobil tersebut," ujar Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna.

Penangkapan tersebut dilakukan tim dari Polres Garut, Brimob, dan Kodim 0611 Garut yang sedang menggelar operasi. Anggota merasa curiga karena mobil tersebut tak mau menghampiri petugas.

"Kami berhasil mengejar mobil tersebut. Lalu bisa diamankan di sekitar tanjakan Malangbong arah Gentong," katanya. Petugas lalu memeriksa para penumpang dan memeriksa isi mobil. Hasil pemeriksaan, kelima orang tersebut merupakan jaringan teroris yang bergerak dari Ciamis.

"Tujuannya mau ke Jakarta. Mereka mau ikut aksi tanggal 22 Mei," ucapnya. Budi menyebut belum bisa memberi keterangan lebih lanjut terkait penanganan kelima terduga teroris itu. Mereka telah dibawa aparat gabungan untuk diperiksa.

"Ada yang khusus menangani mereka. Kami hanya bertugas melakukan pengamanan," ujarnya.

Para terduga teroris itu menumpang mobil Isuzu Mu-X warna hitam. Mobil berplat Ciamis itu disebut akan mengarah ke Jakarta.

Tak ada perlawanan dari kelima orang tersebut. Tangan kelima terduga teroris itu langsung diikat dan diperiksa. Hasil pemeriksaan, kelima orang tersebut merupakan jaringan teroris yang bergerak dari Ciamis.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan adanya penyusupan kelompok teroris terkait aksi 22 Mei bukanlah isapan jempol semata. Menurutnya sudah ada 29 orang terduga teroris yang ditangkap.

Luhut membantah tudingan kubu pasangan Prabowo-Sandiaga Uno yang menyebut isu terorisme hanya politis semata. Pemerintah, menurut Luhut, tidak ingin disalahkan jika benar-benar terjadi aksi tersebut.

'Tidak (politis), saya jamin tidak. Saya mantan perwira, jadi kalau ada yang mengaku perwira saya juga perwira. Kalau menyangkut integritas, boleh integritas yang mana. Jangan asal ngomong. Saya juga nggak mau sembarangan, saya punya anak juga perwira," kata Luhut ditemui di kawasan Menteng, Jakarta.

Luhut juga menuturkan kepada masyarakat, informasi mengenai teroris bukan untuk menakut-nakuti. "Kami nggak nakut-nakuti. Itu kan dimulai dari Sibolga. Ayahnya bilang anaknya bikin bom, ditangkaplah oleh polisi," katanya.

Hasil interogasi terhadap para terduga teroris menyebut mereka akan melakukan pengeboman kepada semua yang dianggap kafir, termasuk aparat keamanan. Pemerintah harus memberi penjelasan dong, kalau pemerintah tidak me-warning, ternyata terjadi celaka, pemerintah salah," tambahnya.

Polrestabes Semarang gelar razia

Anggota Polrestabes Semarang melakukan operasi dan cipta kondisi dengan merazia kendaraan yang mengarah ke Jakarta. Razia menyasar mobil penumpang serta barang yang melintas di Jalan Semarang-Kendal, tepatnya di depan Terminal Mangkang, Selasa (21/5) dini hari.

Razia diikuti anggota Satlantas dan Sat Sabhara Polrestabes Semarang. Diawali apel di halaman Polrestabes Semarang. Sesuai instruksi Kapolri giat tersebut akan dijalankan hingga empat hari ke depan.

"Target kita malam ini adalah razia senjata tajam, bahan peledak, senjata api, Miras dan termasuk Narkoba," ucap Kabag Ops Polrestabes Semarang AKBP I GA Dwi Perbawa Nugraha.

Operasi serupa juga digelar oleh jajaran Polrestabes Semarang di sejumlah objek vital seperti akses masuk keluar Kota Semarang dan stasiun. Polisi tidak menemukan mobilisasi masa ke jakarta maupun barang target operasi dalam razia yang digelar.

Massa Demonstrasi di Bawaslu

Ribuan demonstran membubarkan diri dari depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Selasa (21/5) malam. Sambil melantunkan salawatan, mereka membubarkan diri untuk kembali menggelar aksi serupa di depan kantor Bawaslu.

Pembubaran itu diarahkan oleh seorang orator yang berada di atas mobil komando. Orator itu berteriak agar massa membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.

"Ayo saudara-saudaraku, kita bubarkan diri dengan tertib. Mari simpan tenaga, kembali ke rumah masing-masing untuk esok hari (hari ini, red). Takbir," ujar pria tersebut. "Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar," jawab para demonstran atas pekikan takbir itu.

Ia kemudian mengajak para demonstran untuk kembali mengawal dan mengamankan Bawaslu pukul 14.00 WIB. Massa turut diminta untuk tidak terprovokasi dengan melakukan aksi kekerasan dan tetap tertib saat meninggalkan Bawaslu. Pantauan Tribun Network, massa pun mulai membubarkan diri sambil melantunkan salawatan pukul 20.15 WIB.

Tak lama, mobil komando turut bergerak dari lokasi, namun sang orator tak hentinya berteriak. Ia mengingatkan bagi para demonstran yang tempat tinggalnya jauh untuk beristirahat di masjid sekitar kawasan Bawaslu. Tujuannya agar mereka dapat langsung bergabung untuk berunjuk rasa kembali.

"Bagi yang tempat tinggalnya jauh, bisa menginap di masjid di sekitar kawasan ini. Istirahat dulu untuk kemudian besok (hari ini, red) bergabung kembali," kata dia.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal menegaskan aparat keamanan yang mengamankan aksi demonstrasi pernyataan ketidakpuasan terhadap hasil pemilihan umum 2019 tidak akan dibekali senjata api dan peluru tajam. Ia mengatakan hal itu adalah standar operasional prosedur (SOP) pengamanan aksi massa pada masa Pemilu 2019 yang telah diinstruksikan langsug oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Hal itu disampaikan Iqbal saat konferensi pers di Media Center Kemenkopolhukam pada Selasa (21/5).

"SOP yang dimiliki oleh TNI dan Polri perlu kami sampaikan juga. Setiap pasukan pengamanan besok atau nanti malam atau kapanpun sudah diinstruksikan oleh Kapolri dan Panglima TNI tidak dibekali dengan peluru tajam. Saya ulangi, tidak dibekali peluru tajam. Kami pastikan. Jadi kalau besok ada penembakan dengan peluru tajam, bisa dipastikan bukan pasukan TNI dan Polri. Ada penumpang gelap," kata Iqbal.(Jam/tribunjabar/tribunnetwork/mam)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved