Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dedi Mulyadi: Banyak Anggota DPR yang Ceraikan Istri, Cari Bini Muda dan Poligami

Anggota DPR RI periode 2019-2024, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa banyak anggota DPR yang mencari bini muda dan poligami.

Penulis: Ardianti WS | Editor: abduh imanulhaq
YOUTUBE
Dedi Mulyadi: Banyak Anggota DPR yang Ceraikan Istri, Cari Bini Muda dan Poligami 

TRIBUNJATENG.COM- Anggota DPR RI periode 2019-2024, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa banyak anggota DPR yang mencari bini muda dan poligami.

Hal tersebut disampaikan Dedi saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa, Selasa (10/7/19).

Mulanya, Najwa Shihab melempar pertanyaan kepada Dedi Mulyadi.

"Apa yang akan beda dengan karier politik yang sudah panjang, pernah DPRD, pernah menjadi 2 kali bupati Purwakarta, di golkar megang jabatan, apa yang akan dipersiapkan menjadi DPR di senayan?" tanya Najwa.

Dedi Mulyadi lantas mengatakan bahwa dirinya menyiapkan mental untuk berhadapan dengan AC ruangan.

"Yang akan beda adalah persiapan diri saya menghadapi dunia yang tidak saya alami, yaitu dunia ruangan yang katanya AC-nya sangat dingin, karena selama ini saya bekerja di luar ruangan, rumah saya tidak pakai AC, ruang kerja saya tidak pakai AC, saya tidak suka dengan hal-hal yang dibuat-buat, saya seneng yang alami, hal yang saya siapin hari ini adalah menyiapkan mental saya untuk menghadapi serbuan angin yang tidak bisa saya tolak," ujar Dedi Mulyadi sambil tertawa.

Dedi Mulyadi lantas mengaku menyiapkan mental saat menjadi anggota DPR RI lantaran gagasannya akan diperdebatkan.

"Persoalan bertarung beragumentasi, membangun gagasan tentang Indonesia, bergaul dengan politisi dalam keseharian, bergaul dengan masyarakat juga biasa keseharian," ujarnya.

"Yang disiapkan itu mental, didebat dengan setiap orang, ide kita ditolak, selama menjadi kepala daerah kan pikirannya selalu diterima oleh pegawainya, walaupun gagasan saya selalu diserang, karena gagasan saya terlalu original, kesundaan,"Imbuh Dedi.

Dedi Mulyadi mengaku saat menjadi bupati selalu bangun pagi untuk bertemu dengan masyarakat.

Namun, saat menjadi anggota legislatif dirinya akan banyak bekerja di dalam ruangan.

"Tapi nanti saya sudah rencanakan bahwa sabtu-minggu tetap berkunjung ke masyarakat," ujar Dedi.

Dedi Mulyadi saat menjadi ketua DPP Partai Golkar dirinya membuat aturan tidak boleh menceraikan istri dan melakukan poligami.

"Iya betul, itu komitmen," ujar Dedi Mulyadi yang disambut tawa penonton.

Dedilantas menjelaskan bahwa banyak anggota DPR yang melupakan istrinya.

"Soalnya banyak anggota DPR yang sudah jadi lupa sama istrinya, maka saya sering bilang ke temen-temen bahwa jangan lupakan istri, soalnya waktu nyalon kalung aja digadai, masak sudah jadi enak-enak sama yang muda, kamu dzolim, jangankan menyayangi rakyat, menyayangi istri aja nggak bisa" ujar Dedi yang disambut tawa dan tepuk tangan penonton.

Melansir dari Tribunjabar.com, ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menganggap kemenangan partai Golkar di sejumlah daerah disebabkan berkah ketokohan kader.

Menurut dia, fakta soal Golkar ini adalah fenomena baru yang terjadi pada Pemilu serentak 2019, khususnya yang dirasakan di Jawa Barat.

Hal itu dikatakan Dedi Mulyadi saat ditemui di rumahnya, Pasawahan, Purwakarta pada Rabu (24/4/2019).

"Kalau Partai Golkar di Jabar itu sebagian besar menang karena ketokohan kader, bukan dari efek elektoral Pilpres," kata Dedi Mulyadi saat dikonfirmasi.

Menurutnya, fenomena baru itu terlihat juga karena tidak ratanya perolehan suara di internal partai.

Misalnya, tampak dari suara Golkar yang kalah secara nasional namun di daerah mengalami kenaikan bahkan kemenangan.

Ketika suara Golkar di provinsi kalah, kondisi terbalik terjadi di kabupaten.

"Contohnya di Jabar, suara Golkar di provinsi ini, terkerek naik meskipun secara penghitungan nasional, suara Golkar kalah dibanding partai lain," ucap Dedi Mulyadi.

Menurutnya, berkah ketokohan ini karena caleg dari partai Golkar di daerah memiliki kedekatan secara emosional di masyarakat.

Caleg tokoh itulah yang mayoritas membawa berkah suara secara cukup signifikan.

Jadi, pemilih Golkar pada Pemilu 2019 mayoritas bukan karena melihat partainya tapi cenderung melihat sosok caleg usungan Golkar.

Selain partai berlambang beringin, ada pula partai yang mendapat berkah dari pilpres atau kepartaiannya.

"Pada pemilu tahun ini, ada dua keberkahan bagi partai. Berkah kepartaian salah satunya PKS atau Gerindra. Serta, berkah ketokohan ini, yang sangat kami rasakan di daerah," ujar dia.

Fenomena yang terjadi dan dirasakan langsung olehnya ini, kata Dedi Mulyadi, sangat unik.

Karena, masyarakat terbukti sudah melek dengan politik dan telah mengalami pergeseran pilihan. Tidak lagi, memilih partai, melainkan memilih tokoh yang sangat dikenalnya.

Karena itu, Dedi berencana akan mengevalusi mengenai pengkaderan yang ditujukan untuk caleg ke depannya.

Karena partai yang terbuka, Dedi Mulyadi akan melamar tokoh-tokoh di masyarakat untuk menjadi representasinya di pemilu selanjutnya.

"Ke depan harus semakin banyak tokoh di daerah yang mumpuni, yang telah disiapkan dari sekarang agar mereka tidak menjadi politisi dadakan," katanya. (*)

Gara-gara Celetukan Aria Bima, Semua Narasumber Tertawa, Fahri Hamzah Tampak Kesal

Lenyapnya Kemanusiaan, Korban Tabrak Lari Dibiarkan Tergeletak di Overpass Manahan Solo

Nasib Danjen Kopassus Pertama, Idjon Djanbi : Jabatan Dilucuti dan Dimakamkan Tanpa Upacara Militer

Dewi Okta Peraih Penghargaan Anindya Wiratama Akmil Magelang, Suka Bohong, Orangtua Dibuat Kaget

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved