Dampak Sistem Zonasi, Sekolah Swasta Merasa Dirugikan, Jumlah Pendaftar Berkurang Dari Target
Penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA-SMK di Jateng menuai permasalahan baru bagi sekolah-sekolah swasta.
Penulis: akbar hari mukti | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA-SMK di Jateng menuai permasalahan baru bagi sekolah-sekolah swasta.
Adanya penerapan sistem zonasi dinilai membuat calon siswa yang mendaftar ke sekolah swasta semakin sedikit.
Salah satunya dialami SMK Palapa Semarang yang hingga saat ini jumlah siswa yang mendaftar tak sesuai target.
Hastanto Yuwono, Wakil Kepala bidang Kesiswaan SMK Palapa menilai penerapan sistem zonasi di PPDB tahun ini berpengaruh ke jumlah siswa yang mendaftar di sekolah swasta.
"Jadi ada perbedaan.
Terkait dengan sistem zonasi yang diberlakukan, dan itu berpengaruh ke SMA-SMK Swasta termasuk sekolah kami," paparnya, Sabtu (13/7/2019).
Hingga saat ini, tercatat baru ada 270an siswa yang mendaftar di SMK Palapa Semarang. Padahal, target sekolah tersebut adalah minimal 350 siswa bisa bersekolah di sekolah yang terletak di kawasan Kedungpane, Mijen, Semarang tersebut.
"Meski tidak signifikan, tetapi ada penurunan jumlah dalam penerimaan siswa baru kali ini," ungkapnya.
Pendaftaran siswa baru di sekolahnya ditutup pekan depan. Meski mengaku optimis, ia menilai target 350 siswa cukup sulit terealisasi.
"Minat siswa paling banyak ke jurusan teknik kendaraan ringan. Jurusan lain kekurangan siswa baru," ujarnya.
Eka Aribawa, Kepala SMK Bina Nusantara juga mengungkapkan hal yang sama.
Jumlah siswa baru yang mendaftar di sekolahnya turun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Memang adanya sistem zonasi khususnya di PPDB SMA membuat sekolah swasta dirugikan."
"Tak cuma kami saja, tetapi nyaris semua sekolah swasta," ujar Eka.
Ia menilai, adanya sistem zonasi semakin membuat para lulusan SMP apalagi yang rumahnya dekat dengan gedung sekolah SMA negeri, semua ikut mendaftar ke SMA negeri tersebut.