Opini Ign Dadut Setiadi: Pemimpin Ingenuitas

Presiden terpilih Joko Widodo telah bertemu dengan Prabowo Subiyanto rivalnya dalam kontestasi pemilihan presiden bertempat di MRT sabtu 13 Juli 2019

Opini Ign Dadut Setiadi: Pemimpin Ingenuitas
Bram
Dadut Setiadi 

Drs Ign. Dadut Setiadi, MM

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi dan anggota The Soegijapranata Institute Unika Soegijapranata

TRIBUNJATENG.COM -- Presiden terpilih Joko Widodo telah bertemu dengan Prabowo Subiyanto rivalnya dalam kontestasi pemilihan presiden bertempat di MRT sabtu 13 Juli 2019 yang lalu, banyak orang menyebutnya sebuah rekonsiliasi politik. Momen tersebut memang sangat dinantikan oleh seluruh rakyat Indonesia, karena sejak Maret sampai dengan Juni 2019 masyarakat Indonesia didalam pikiran dan perasaannya di liputi rasa was was akan situasi perpolitikan di Indonesia.

Pertemuan tersebut mengandung banyak arti dan menjadikan banyak komentar yang bermunculan baik itu yang bersifat positif dan negatif. Namun bagi kebanyakan masyarakat Indonesia itu sebuah momentum yang sungguh mengubah situasi dan kondisi perpolitikan di tanah air menjadi agak nyaman dan menurunkan suhu politik. Terjadinya pertemuan rekonsiliasi tersebut semuanya tidak terlepas dari sikap dan kemampuan dalam mengelola hati serta ditunjang dengan pemikiran dan kepemimpian dari Presiden Joko Widodo dan Bapak Prabowo Subiyanto.

Ingenuitas

Chris Lowney dalam bukunya Heroic Leadership mengemukakan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai empat prinsip dalam memimpin yaitu : Kesadaran diri, Ingenuitas, Heroik/Keberanian dan Cinta. Salah satu yang cukup menarik di dalami dari kempat prinsip tersebut adalah Ingenuitas. Para pemimpin dapat disebut sebagai pemimpin ingenuitas jika seorang pemimpin dapat membuat diri mereka sendiri dan orang lain merasa nyaman di dunia yang terus berubah ini. Mereka harus mampu mengeksplorasi gagasan, pendekatan dan budaya baru bukannya secara defensif menarik diri dari apa yang diam-diam menghadang di tikungan hidup selanjutnya. Jadi menjadi seorang pemimpin ingenuitas punya prinsip –prinsip dan nilai nilai yang tidak dapat ditawar, mereka harus memelihara yang dinamakan “Sikap lepas-bebas” yang memungkinkan mereka beradaptasi dengan penuh keyakinan diri.

Keyakinan dan nilai dasar ibarat sebuah jangkar yang menjadi pegangan erat bagi pemimpin untuk berani beradaptasi dan berinovasi dari segala tatanan perubahan dunia dewasa ini. Seseorang dapat disebut pemimpin Ingenutitas jika kebebasan pribadiuntuk mengejar peluang dikaitkan dengan kepercayaan yang mendalam dan optimisme bahwa banyak peluang yang tersedia di dunia ini. Pemimpin Ingenuitas akan mampu mengelola rohaninya dengan mengadopsi kelakuan, sikap dan pandangan hidupnya yang memungkinkan kemampuan untuk beradaptasi dan kreativitas dengan globalisasi.

Nampaknya kedua tokoh yang baru saja mengadakan rekonsiliasi politik Bapak Joko Widodo dan Prabowo Subiyanto, masing masing memiliki cara dan prinsip Ingenuitas. Hal ini bisa terlihat dengan kemampuan mengelola rohaninya dan pandangan hidupnya, mereka mampu bersikap rendah hati dan akhirnya muncul kemampuan berkreasi untuk bertemu dengan tujuan meredakan suasana dan kondisi perpolitikan di Indonesia setelah mereka menjadi lawan dalam kontestasi pemilihan Presiden terlepas tempat pertemuannya di MRT yang tidak mengurangi suasana sakral dan mengharukan. Dengan prinsip Ingenuitas yang ada pada kedua tokoh negarawan tersebut akhirnya mampu menyadari diri bahwa Negara Republik Indonesia membutuhkan perjuangan dan pemikiran Presiden Joko Widodo dan Bapak Prabowo Subiyanto.

Setelah pertemuan kedua tokoh negarawan tersebut, tentunya sekarang kita semua menunggu pidato politikVisi Indonesia baru yang telah di canangkan pada Minggu 14 Juli 2019 oleh Presiden terpilih Joko Widodo. Visi dan misi akan bisa tercapai dan tidak bisa lepas dari model dan strategi kepemimpinan seorang Presiden. Kita semua berharap Presiden Joko Widodo adalah seorang Pemimpin Ingenuitas yang lepas bebas tanpa terpengaruh oleh partai atau golongan manapun. Presiden kita seorang pribadi yang lepas bebas mampu membangun Indonesia yang APIK (Adaptif, Produktif, Inovatif dan Kompetitif)untuk menuju Indonesia baru yang berdaulat, adil, sejahtera, beriman dan bermartabat diantara negara negara dan situasi dunia yang selalu berubah. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved