Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Hari Pertama Sekolah dan Mitos Bangku Depan, Benarkah Bikin Siswa Lebih Pintar?

Tak ayal, tradisi rebutan bangku depan di hari pertama sekolah masih terjadi pada sebagian sekolah

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/NUR ROCHMAH
Barisan anak-anak yang baru masuk sekolah dasar (SD) di SD Hidayatullah Semarang, melakukan apel dan bersalaman dengan para guru. Senin (17/7/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Hari pertama masuk sekolah selalu disambut antusias siswa dan orang tua.

Mereka rela berangkat sepagi mungkin, bahkan sejak dini hari, agar lebih cepat sampai sekolah. Tujuannya sama, mereka mengincar barisan bangku paling depan.

Tak ayal, tradisi rebutan bangku depan di hari pertama sekolah masih terjadi pada sebagian sekolah.

Tidak di semua sekolah fenomena itu terjadi tentunya. Tetapi cerita soal bangku depan yang 'keramat' boleh jadi diamini setiap orang.

Kenapa bangku depan selalu diperebutkan hingga diperjuangkan mati-matian oleh sebagian siswa dan orang tua?

Fenomena rebutan bangku depan saat pertama masuk sekolah bukanlah tanpa alasan. Boleh jadi, ini tak lepas dari sebuah anggapan yang berkembang pada sebagian masyarakat selama ini, posisi menentukan prestasi.

Bangku depan selama ini identik dihuni oleh siswa-siswa dengan nilai akademik tinggi, serta berperangai positif. Semakin ke belakang, kualitasnya kian berkurang. Hingga bangku barisan paling belakang, identik diisi siswa dengan nilai akademik rendah hingga pembuat onar.

Wajar, anggapan itu membuat sebagian orang berjuang keras untuk menempati dan mempertahankan posisi tempat duduk paling depan.

Siswa di barisan bangku terdepan dianggap lebih dekat dengan posisi guru yang menjadi sumber pengetahuan. Interaksi guru dan siswa di barisan depan juga cenderung lebih sering. Sehinga memudahkan siswa menangkap materi yang disampaikan guru.

Adapun siswa yang duduk di barisan belakang cenderung lebih sering berinteraksi satu sama lain, sehingga kurang bisa menangkap pelajaran.

Tradisi rebutan kursi saat hari pertama masuk sekolah ternyata tidak terlihat di SDN 1 Gunungjati Kecamatan Pagedongan Banjarnegara, Jawa Tengah.

Guru SDN 1 Gunungjati Dwi Nartati mengatakan, para siswa maupun orang tua biasa saja dalam menyikapi hari pertama sekolah. Mereka berangkat lebih awal dari biasanya, tetapi tidak sampai antre sejak dini hari demi memperoleh kursi di depan.

Bagi Dwi, posisi tempat duduk belum tentu menentukan prestasi. Hanya saja, dia mengamini, posisi tempat duduk memang memengaruhi tingkat konsentrasi belajar anak. Posisi duduk depan membuat siswa cenderung lebih fokus dalam memerhatikan pelajaran.

"Kalau peningkatan prestasi tidak juga, tapi pengaruh ke tingkat konsentrasi belajar anak,"katanya

Dwi pun punya kiat tersendiri agar masalah posisi tempat duduk tak jadi bahan rebutan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved