Percetakan Uang Peruri, Tiap Hari Nonstop Mencetak Uang
Di Indonesia, Peruri menjadi satu-satunya BUMN yang diberi mandat Bank Indonesia untuk mencetak uang
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Pembuatan uang rupiah di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) ternyata melalui proses yang panjang dan ketat.
Di Indonesia, Peruri menjadi satu-satunya BUMN yang diberi mandat Bank Indonesia untuk mencetak uang.
Bersama dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Tegal, para jurnalis dari berbagai media di eks Karesidenan Pekalongan berkesempatan mendatangi Peruri di Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/8/2019).
Dalam media gathering tersebut, Bank Indonesia KPw Tegal mengajak rekan media untuk mengenalkan proses pembuatan uang sekaligus untuk mensosialisasikan pentingnya merawat uang kertas.
Proses awal uang kertas di ruang pertama, bahan- bahan kertas yang berasal dari BI terlebih dahulu dicek tiap lembarnya.
Kertas masuk ke mesin offset atau mesin cetak dasar.
Kemudian kertas masuk lagi ke mesin cetak yang menggunakan tinta khusus.
Dalam selembar bilyet terdapat 45 sampai 50 lembar uang kertas.
Kemudian bilyet disortir satu per satu, untuk mengetahui kecacatan yang ada.
Setelah itu dicek lagi, barulah bilyet masuk mesin pemotong dan pengepakan.
Direktur Produksi Perum Peruri, Saeful Bahri mengatakan, tiap harinya Peruri mencetak sekira 60 juta bilyet per hari.
Namun, hal itu tidak menggunakan nominal rupiah.
Melainkan dihitung menggunakan bilyet atau lembaran kertas bahan baku.
"Produksi uang kertas sesuai pesanan Bank Indonesia. Jadi karena penduduk Indonesia cukup besar, kami tiap hari mencetak uang nonstop," katanya.
Menurut Saeful, meski melalui mesin berteknologi canggih, namun kerusakan tiap kali cetak tetap terjadi.
Kerusakan pun bervariasi, tinta kurang tebal, tinta berserak bahkan ada titik sedikit saja sudah dianggap rusak.
Saeful mengatakan, selama ini kerusakan di bawah standar sekira lima persen.
Uang yang rusak pun dari Peruri tetap dikembalikan ke Bank Indonesia.
"Ada batas toleransinya. Akan tetapi selama ini kerusakan di bawah standar sekira lima persen," ungkapnya. (fba)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/peserta-media-gathering-bank-indonesia-kpw.jpg)