Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sebelum Meninggal Tertabrak Kereta Api di Semarang, Biyani Sempat Makan Nasi dan Perkedel

Seorang nenek yang terserempet kereta api di perlintasan tanpa palang pintu belakang Pasar Karangayu, Karangayu, Kecamatan Semarang Barat, Kota

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
Lokasi seorang nenek yang terserempet kereta api di perlintasan tanpa palang pintu belakang Pasar Karangayu, Karangayu, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Selasa (6/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang nenek yang terserempet kereta api di perlintasan tanpa palang pintu belakang Pasar Karangayu, Karangayu, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Selasa (6/8/2019), semula dalam keadaan linglung.

Beberapa warga menuturkan, korban yang diketahui bernama Biyani dengan usia 80 tahun ke atas tersebut sempat ragu-ragu melewati perlintasan kereta api Damarwulan II tersebut.

Hal itu disampaikan Yitno, seorang penjual Soto di warung Soto Ayam "Pak Yitno" yang mendengar kejadian tersebut dari seorang tukang sayur.

"Tidak ada yang melihat kejadian itu.

Namun kata tukang sayur tadi Mbahnya maju-mundur waktu naik rel.

Mungkin ragu karena sudah melihat kereta dari jauh," kata Yitno.

Saat melihat jasad Biyani, Yitno mengaku masih utuh.

Hanya ada sedikit luka di kaki kanannya.

"Saat saya melihat mbahe sudah dalam keadaan tergelebak.

Sekira satu langkah dari rel," kata Yitno.

Saat itu pula Yitno lantas terkaget.

Menurutnya, Mbah Biyani seringkali makan di warungnya dengan uang seikhlasnya.

Mbah Biyani seringkali hanya meminta nasi putih dan lauk perkedel dengan minuman air putih atau teh hangat.

"Tadi pagi Mbahnya makan di sini, seperti biasa nasi putih dan perkedel.

Mau ngasih saya koin Rp 1000, saya bilang nggak usah.

Beberapa lama setelahnya tukang sayur bilang, 'Mbah yang biasa makan di warungmu tertabrak kereta', saya langsung cek kondisinya sudah tidak ada," kata dia.

Yitno lantas bercerita, nenek yang pagi itu mengenakan Jarit dan baju putih dengan penutup kepala yang biasa dikenakan itu memang jarang mengobrol meskipun seringkali ke pasar.

Ia pun mengisahkan, nenek tersebut pernah berjualan bolang-baling.

Tak lama setelah berjualan bolang-baling beralih berjualan kentang, dan pernah juga pakaian.

Namun setelah kondisinya tidak memungkinkan untuk berjualan, nenek tersebut hanya mondar-mandir ke pasar dalam keadaan linglung.

Berdasarkan keterangan Sih, penjual buah, nenek tersebut ke pasar untuk meminta-minta.

Namun Yitno menuturkan, nenek tersebut membawa uang untuk membeli meskipun terkadang seikhlasnya.

"Mbahe kalau beli kadang sesuai harga, kadang seikhlasnya.

Kasian kan sudah tua. Banyak yang bilang anak-anaknya sukses di Jakarta, tapi mbahe seolah terlantar," katanya.

Sementara itu terkait kejadian yang menewaskan Nenek tersebut, Yitno membeberkan, dalam waktu 12 hari ini sudah ada dua korban.

Selain kejadian pagi tadi, kata dia, Jumat lalu juga terjadi kejadian serupa.

"Sering terjadi kecelakaan di perlintasan situ. Jumat malam kemarin itu jam 9 malam sampai badannya remuk," katanya.

Yitno dan warga lainnya lantas meminta pemerintah untuk segera menangani perlintasan tanpa palang pintu tersebut agar tidak ada korban selanjutnya.

"Kalau bisa dikasih terowongan atau jembatan layang agar tidak menimbulkan korban jiwa," ujarnya. (idy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved