Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Petani Garam Brebes Resah Harga Anjlok Hingga Rp 250 Per Kg

Petani garam di Kabupaten Brebes resah, menyusul anjloknya harga komoditas itu anjlok di musim panen kali ini, yaitu Rp 300/Kg.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUN JATENG/M ZAINAL ARIFIN
Petani garam di Desa Krakahan, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, memanen garam di tambaknya, Minggu (18/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Petani garam di Kabupaten Brebes resah, menyusul anjloknya harga komoditas itu anjlok di musim panen kali ini, yaitu Rp 300/Kg.

Seorang petani garam di Desa Krakahan, Kecamatan Tanjung, Brebed, Suraji (48) mengatakan, anjloknya harga garam sudah mulai dirasakan sejak awal bulan. Penurunan harga yang terjadi secara bertahap membuat resah karena hasil panen garam jauh di bawah biaya produksi.

"Kalau cuma dihargai Rp 300/Kg bagaimana petani garam lokal mau untung, sedangkan cost pengeluarannya lebih banyak," katanya, Minggu (18/8).

Menurut dia, untuk satu hektar lahan tambak garam sedikitnya membutuhan modal sekitar Rp 20 juta. Jika hanya dihargai Rp 300/Kg, petani garam di Desa Krakahan dipastikan bakal merugi. "Minimal untuk mendapatkan keuntungan harganya Rp 750/Kg, itupun keuntungannya cuma sedikit," ujarnya.

Suraji menuturkan, harga yang murah membuat banyak petani, termasuk dirinya saat ini memilih tidak memanen garamnya, meski sudah memasuki masa panen. Hal itu dilakukan dengan harapan beberapa minggu ke depan harga garam akan kembali naik.

"Lahan garam saya saja sebenarnya sudah ada yang bisa dipanen. Tapi kalau dipanen sekarang dengan harga Rp 300/Kg tidak cukup untuk menutup modal. Jadi nanti saja panennya, menunggu harga naik," ucapnya.

Senada disampaikan Ketua kelompok petani garam Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Brebes, Arif Ghoni. Di musim panen ini, harga garam anjlok menjadi Rp 250/Kg. "Dari bulan lalu kami (petani garam-Red) sudah merasakan anjloknya harga garam," jelasnya.

Selain karena musim panen, menurut dia, anjloknya harga garam juga disebabkan adanya garam impor. Dari informasi yang diterima, ada beberapa ton garam telah masuk ke wilayah Jateng bagian barat, sehingga berdampak pada harga garam di Brebes.

"Sebenarnya kalau dari segi kualitas garam lokal juga tidak kalah dengan garam impor. Jadi kami harapkan pemerintah bisa menekan impor garam dari luar dan memaksimalkan garam lokal," harapnya.

Kebijakan

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes, Gatot Rudiono menyatakan, pemerintah pusat memiliki kebijakan tentang distribusi komoditas garam. Kebijakan itupun sudah memerhatikan kebutuhan garam nasional.

Agar garam produk petani lokal dapat berdaya saing, ia meminta para petani garam Brebes memroduksi garam KW1 yang harganya mencapai Rp 700/Kg.

"Selama ini produksi garam di sejumlah titik sentra di Brebes baru bisa memroduksi garam KW2 dan KW3, dengan harganya saat ini Rp 250-Rp 300 per Kg. Karena pengaruh impor, garam KW1 bahkan ikut merosot mendekati harga KW2 dan KW3. Sehingga, harga itu dikeluhkan para petani garam yang menganggap kuota impor terlalu berlebih," terangnya.

Gatot menjelaskan, dari hampir 500 hektare lahan produksi garam di Kabupaten Brebes, sekitar 150 hektare di antaranya sudah menggunakan sistem teknologi bio membran. Hal itu untuk memeroleh hasil produksi dengan kualitas yang lebih baik, yaitu KW1 dengan kandungan Nacl sampai 97 persen.

"Kami juga terus melakukan perluasan lahan, agar produktivitasnya naik. Yang awalnya 30-40 ton per hektare, dengan bio membran bisa mencapai 90 ton per hektare," tuturnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved