Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Takut Kehilangan Pekerjaan dan Usaha, Kami Bertetangga dengan Limbah Berbahaya (1)

Ratusan warga di dua desa di Kabupaten Tegal hidup bertetangga dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Tribun Jateng/Akhtur Gumilang
Seorang warga sekitar yang menutup hidungnya dengan kain akibat bau menyengat di lokasi pembuangan limbah B3 di Pedukuhan Dukuhapu, Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Selasa (15/1/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Ratusan warga di dua desa di Kabupaten Tegal hidup bertetangga dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Dua desa itu yakni Desa Karangdawa Kecamatan Margasari dan Desa Pesarean Kecamatan Adiwerna.

Di Desa Karangdawa terdapat beberapa perusahaan pengolahan limbah B3. Namun, lokasi pengolahan hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi permukiman penduduk.

Selain itu, beberapa perusahaan pengolahan diduga menimbun limbah B3 dengan penanganan yang keliru sehingga berakibat mencemari air tanah atau sumur. Warga mengeluh sering mengalami gatal-gatal.

Sedangkan di Desa Pesarean limbah peleburan logam dibuang di tengah-tengah perkampungan. Beberapa warga sekitar meninggal dunia karena penyakit paru-paru. Belum diketahui apakah penyakit mereka dampak dari limbah tersebut. Yang jelas, limbah B3 bisa mengancam kelangsungan hidup warga.

Seorang warga Desa Karangdawa, Eli Iswati (42), menuturkan meskipun rumahnya berada di radius lebih dari 200 meter, namun air sumur di rumahnya masih berbau. Tribun Jateng sempat membaui air sumur milik Eli dan tercium bau seperti semir sepatu. Padahal air tampak jernih.

"Saya nggak berani (gunakan air sumur) buat minum. Untuk minum biasanya saya beli," ucapnya.

Sumur artesis miliknya berada di depan rumah yang terhubung dengan alat penyedot air. Selama ini, dia hanya menggunakan air sumur untuk keperluan mandi cuci dan kakus.

Terkadang ia menggunakan air sumur untuk keperluan masak namun dengan catatan. Yakni air harus didiamkan atau diendapkan dulu selama 24 jam.

"Biasanya saya biarkan dulu. Kata orang biar mengendap racunnya terus baru bisa digunakan," ujar ibu tiga anak ini.

Dia kerap mengalami gatal-gatal di kulit. Namun, kondisi itu, kata dia, sudah menjadi hal biasa. Ampas berbahaya yang ditimbun dan diolah di desa itu berasal dari sejumlah pabrik yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Kondisi miris terjadi di Desa Pesarean, onggokan limbah peleburan logam berdampingan dengan masyarakat. Memang lokasi yang merupakan tanah lapang itu sudah tidak lagi menjadi tempat pembuangan limbah. Namun, hingga kini, gunungan limbah logam masih menggunung dan warga khawatir terganggu kesehatan.

"Beberapa warga sini meninggal. Kena penyakit paru-paru. Nggak tau karena ini (limbah) apa bukan, tapi banyak warga yang kena (paru-paru)," kata seorang warga yang rumahnya berdampingan dengan lokasi pembuangan limbah logam, Edi Ismail (50).

Berdasarkan informasi, tanah yang menjadi lokasi pembuangan tersebut merupakan tanah milik Kasunanan Surakarta. Lokasinya berada di barat kompleks Makam Amangkurat 1 di Tegal Arum.

Tanah lapang pembuangan ampas industri logam itu pun menjadi arena bermain anak-anak. Ayunan terbuat dari karet ban pun dipasang di pohon buah kers (kersen).
Edi sempat kehilangan enam burung merpati. Gara-gara minum di kubangan limbah logam tersebut, burung-burungnya mati.

Limbah logam berwarna abu-abu kusam itu juga sudah tercecer di gang-gang rumah warga. Sesekali terbawa angin kala sepeda motor melintas.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved