340 Karya Kaligrafi dan Chinese Painting Dipamerkan di PO Hotel Semarang
Sebanyak 340 karya seni kaligrafi dan chinese painting dipamerkan di Ballroom PO Hotel Lantai Tujuh Kota Semarang.
Penulis: Jamal A. Nashr | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebanyak 340 karya seni kaligrafi dan chinese painting dipamerkan di Ballroom PO Hotel Lantai 7 Kota Semarang.
Pameran diselenggarakan oleh Asosiasi Kaligrafi dan Chinese Painting Semarang selama dua hari, Sabtu dan Minggu (24-25/8/2019).
Kaligrafi dan lukisan yang ditampilkan merupakan karya seniman asal 33 negara termasuk Indonesia.
Dari Indonesia, karya dihasilkan oleh seniman dari Semarang, Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Yogyakarta, Cirebon, Tegal, dan Surakarta.
"Karya dari seniman Semarang sekitar 40-an. Jumlah yang terbanyak dari Jakarta, hampir 100. Kalau luar negeri paling banyak Malaysia, ada 30 lebih," sebut anggota Asosiasi Kaligrafi dan Chinese Painting Semarang, Liong Hwa Hing.
Menurutnya, pameran ini merupakan yang terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari jumlah seniman luar negeri yang terlibat serta jumlah karya yang dipamerkan.
"Ini yang terbesar. Jakarta sering melakukan pameran kaligrafi namun ini yang terbesar. Semarang sudah dua kali ini, pertama kali 2009," katanya.
Sejak dibuka Sabtu kemarin, ia mengatakan, pengunjung yang datang di luar perkiraan panitia. Saking penuhnya, pengunjung hingga meluber ke lorong di depan ballroom.
"Ternyata pengunjung banyak sekali, hampir 500 orang ketika baru dibuka, sehingga tempat tidak cukup. Terpaksa yang masih di bawah distop. Pengunjung yang datang dari luar negeri banyak termasuk Konsulat RRT dari Surabaya," tuturnya.
Karya kaligrafi yang ditampilkan memiliki jenis yang bervariasi. Mulai dari Zhuan Shu yang menurutnya merupakan jenis kaligrafi Cina tertua.
"Seharusnya ada enam jenis huruf yang sering dipakai kaligrafi kurang lebih empat jenis. Kalau di sini komplit," ucapnya.
Liong juga turut menampilkan lima karya dalam pameran ini. Karyanya nampa berbeda dibandingkan yang lain karena menampilkan kombinasi antara kaligrafi dan lukis.
Kalimat yang ia tuangkan dalam kaligrafi merupakan syair para pujangga Cina kuno.
Satu karyanya yang dikemas dalam jenis Zhuan Shu merupakan kata bijak dari penyair Fan Zhong Yan memiliki arti "Aku tampil di garis paling depan di saat negaraku sedang dirundung kesulitan dan susah. Aku antri di barisan paling belakang di waktu negaraku dalam keadaan makmur dan bahagia."
"Kita mengenalkan budaya kaligrafi dan chinese painting. Banyak orang Jawa juga suka, terutama anak-anak Indonesia yang mau belajar ke Cina supaya lebih mendalami," katanya.
Seorang pengunjung, Andriany Cindy Sitio, mengatakan baru pertama kali melihat pameran kaligrafi dan chinese painting.
Ia mengaku beruntung karena pameran semacam ini jarang diselenggarakan di Semarang.
"Setelah melihat pameran ini jadi tahu banyak jenis tulisan mandarin kuno. Dari lukisan yang ditampilkan juga mencerikan sesuatu," ujar siswa Kelas 11 SMA Kolese Loyola tersebut.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pameran-kaligrafi-dan-chinese-painting-di-ballroom-po-hotel-semarang-minggu-2582019.jpg)