Pemkab Pekalongan Akan Hentikan Pembangunan Sumur Dalam Baru

Berdasarkan hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) penurunan tanah di pesisir utara Kabupaten Pekalongan rata-rata 10 cm-20 cm pertahun.

Pemkab Pekalongan Akan Hentikan Pembangunan Sumur Dalam Baru
TRIBUN JATENG/INDRA DWI PURNOMO
Kasubbid Infrastruktur Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, Ismail saat ditemui Tribunjateng.com di kantornya, Jumat, (30/8/2019) 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Berdasarkan hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) penurunan tanah di pesisir utara Kabupaten Pekalongan rata-rata 10 cm-20 cm pertahun.

Penurunan tanah ini melebihi Kota Semarang yang rata-rata 10 cm pertahun.

Salah satu penyebabnya adalah banyaknya sumur bor atau exploitasi air tanah.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Pekalongan akan menghentikan atau memoratorium penambahan sumur dalam baru di Kota Santri.

"Penurunan tanah atau land subsidence merupakan faktor penyebab utama rob di wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan akibat eksploitasi air tanah dalam dengan banyaknya sumur bor atau sumur dalam," kata Kasubbid Infrastruktur Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, Ismail saat ditemui Tribunjateng.com di kantornya, Jumat, (30/8/2019).

Ismail juga membenarkan jika salah satu faktor penyebab rob adalah adanya penurunan tanah yang berdasarkan hasil penelitian ITB rata-rata 10 cm-20 cm pertahun.

Selain itu, faktor pemicu lainnya yaitu jenis tanah di wilayah pesisir, yakni tanah jenis aluvial.

Menurutnya tanah jenis ini tergolong berusia muda karena terbentuk dari proses sedimentasi sungai selama ratusan tahun, sehingga strukturnya belum kuat atau matang.

"Ketika sumur dalam ini eksploitasinya besar-besaran, kita tahu banyak Pamsimas yang menggunakan sumur dalam, PDAM juga menggunakan sumur dalam, bahkan PDAM Kota Pekalongan sumur dalamnya beberapa di Kabupaten Pekalongan. Yang jelas sumur dalam ini mengambil air di aliran dalam tanah yang kedalamannya 100 meter lebih.

Saat air dalam ini diambil, regenerasi air ini tidak mudah, lama ngisinya lagi, maka growong. Selain tadi tanah baru dan growong, sehingga terjadi penurunan tanah," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Indra Dwi Purnomo
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved