Unik, Pasar di Sragen Ini Hanya Buka Sekali Setahun Tiap Jumat Wage di Bulan Suro
sejak pintu masuk Dukuh Tambak, beragam anyaman bambu hiasi sepanjang jalan menuju pasar tersebut.
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: galih pujo asmoro
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN - Ribuan orang padati Pasar Tambak (Pasar Suro) di Dukuh Tambak, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Kamis (5/9/2019).
Pasar itu cukup unik lantaran hanya ada sekali setahun di Bulan Muharram atau Suro yakni pada tiap malam Jumat Wage.
Barang yang dijual di pasar itu berbahan dasar bambu.
Tak ayal, sejak pintu masuk Dukuh Tambak, beragam anyaman bambu hiasi sepanjang jalan menuju pasar tersebut.
Kirab tumpeng raksasa dan karnaval budaya juga memeriahkan acara tersebut.
Bayan Tambak, Ketut Sujarwo mengatakan Pasar Tambak ini sudah terselenggara secara turun-temurun sejak ratusan tahun yang lalu.
Uniknya, pembeli tidak boleh menawar harga barang yang ada di pasar tersebut.
"Jadi memang berbeda, semisal di pasar umum harganya Rp 5.000 disini bisa Rp 7.000 dan tidak boleh ditawar," terang Jarwo panggilan akrabnya.
Hal itu merupakan tradisi dari nenek moyang terdahulu.
"Dulu ketika ada Pangeran Giri Noto ingin membeli barang-barang di Pasar Tambak, ia tidak pernah menawar, harga berapapun pasti dibeli," terang dia.
Sebanyak 50 stan ada di Pasar Tambak merupakan warga setempat.
Di sisi lain ia yakin setiap satu windu sekali akan banyak pengunjung dan pembeli yang mendatangi Pasar Tambak.
Selain itu, Pasar Tambak juga diselenggarakan di petilasan patok perahu Pangeran Giri Noto.
Jarwo juga berharap tahun depan, Pasar Tambak akan terselenggara lebih meriah dan menjadi wisata religi di Kabupaten Sragen.
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menginginkan tahun depan agar diselenggarakan lebih besar dan meriah lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/suasana-kirab-budaya-di-pasar-tambak-desa-sribit-kecamatan-sidoharjo-kabupaten-sragen.jpg)