Forum Guru

OPINI Mu’linnatus Sa’dah: Nasib Unggah Ungguh Basa Generasi Z di Era 4.0

Sering kita mendengar istilah generasi Z dan revolusi industri 4.0. Mengapa istilah itu menjadi buah bibir? Karena dunia sedang berada di era revolusi

OPINI Mu’linnatus Sa’dah: Nasib Unggah Ungguh Basa Generasi Z di Era 4.0
Dok Tribun JAteng
Mu’linnatus Sa’dah, S. Pd, Guru B Jawa SMP Negeri 1 Cluwak Pati 

Oleh: Mu’linnatus Sa’dah, S. Pd

(Guru B Jawa SMP Negeri 1 Cluwak Pati)

TRIBUNJATENG.COM - Sering kita mendengar istilah generasi Z dan revolusi industri 4.0. Mengapa istilah itu menjadi buah bibir? Karena dunia sedang berada di era revolusi industri 4.0. Era dimana peran otot, mesin uap, serta listrik, tergantikan dengan kecanggihan komputer dan robot yang terhubung dengan internet. Satu di antara yang terdampak revolusi industri adalah generasi Z. 

Menurut wikipedia.com, generasi Z lahir di kisaran tahun 1995–2010. Itu berarti, usia tertua dari generasi Z ini ada di 24 tahun dan dan termuda 9 tahun. Bisa dipastikan, generasi Z tumbuh ketika teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat. Generasi Z tak bisa hidup tanpa gadget. Berinteraksi, berbelanja, mencari informasi, hingga mendapatkan penghasilan pun mereka dapatkan hanya lewat smartphone yang terhubung pada jaringan internet. Hal inilah yang memicu pergeseran etika sosial. Era revolusi industri 4.0 yang serba online, menjadikan interaksi lebih sering dilakukan via media sosial. Interaksi tatap muka generasi Z dengan lingkungan semakin jarang dilakukan.

Fenomena pergeseran etika sosial tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi penulis, seorang guru bahasa Jawa. Bahasa Jawa berbeda dari bahasa lain. Misalnya, dalam hal berbicara, bahasa Jawa mengedepankan sopan santun kepada lawan bicara. Etika seperti ini yang tidak dimiliki mayoritas bahasa lain. Bagi orang Jawa, sopan santun ketika berinteraksi dengan orang lain tak bisa lepas dari yang namanya unggah-ungguh basa.

Kehidupan yang serba mudah dan praktis mempersempit ruang penerapan unggah-ungguh basa. Generasi Z Jawa, terlahir sudah tak paham fungsi dari unggah-ungguh basa sejak kecil. Karena orangtua mereka, hanya membiasakan unggah-ungguh basa ragam ngoko lugu tanpa memperkenalkan ragam krama. Bahkan, tak sedikit yang sedari kecil tak berbahasa Jawa. Hal tersebut yang menyebabkan generasi Z Jawa memposisikan semua lawan bicara sama dihadapan mereka. Jadi, tak jarang terdengar seorang anak kecil memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan kowe. Penulis sendiri kerap menemukan siswa yang berbicara dengan unggah-ungguh basa ngoko. Padahal, yang dihadapi adalah orang yang lebih sepuh.

Sebagai contoh, perkataan yang pernah siswa katakan kepada penulis, “Bu, aku arep takon oleh?” Kira-kira, apa yang kita rasakan jika menjadi lawan bicara si siswa tersebut? Pasti kaget dan miris. Apalagi, yang menjadi lawan bicara adalah guru bahasa Jawa seperti penulis. Penulis secara pribadi merasa tertohok. Karena, nyawa dari pelajaran bahasa Jawa, termasuk di dalamnya adalah unggah-ungguh basa. Fenomena tersebut menjadi pekerjaan rumah yang sangat sulit. Hal ini diperparah dengan jarangnya komunikasi tatap muka karena pergeseran perilaku generasi Z yang lebih nyaman berinteraksi dengan bantuan smartphone. Bagi generasi Z, unggah-ungguh basa terutama ragam krama mungkin hanya didapat dari sekolah, ketika pelajaran bahasa Jawa.

Generasi Z mungkin jarang berbalas komentar di media sosial dengan orang yang lebih tua menggunakan basa krama. Pastinya, mereka lebih nyaman berkomunikasi digital menggunakan bahasa Indonesia. Kesulitan-kesulitan tersebut perlu dicari solusi secara bersama-sama agar generasi Z Jawa, ora ilang Jawane. Meski interaksi lebih banyak melalui media sosial tetapi mereka masih mengedepankan unggah-ungguh basa ketika berbalas komentar dengan orang yang lebih tua.

Unggah-ungguh basa ini, terutama krama, harus tetap dijaga kelestariannya seiring kemajuan zaman. Lalu, bagaimana caranya agar unggah-ungguh basa tetap dikenal generasi Z Jawa di era revolusi digital 4.0 ini?

Agar unggah-ungguh basa tetap tangguh di era revolusi industri 4.0 ini, perlu adanya senergi orangtua dan sekolah. Di rumah, orangtua mulai membiasakan berkomunikasi dengan basa krama meski menggunakan kalimat sederhana, misalnya, “Bapak dhahar dhik, ayo adhik maem!”. Kalimat-kalimat sederhana dari rumah tersebut akan bermakna sekali bagi keberlangsungan unggah-ungguh basa.

Di sekolah, terutama pada mata pelajaran bahasa Jawa, guru harus mencari inovasi dalam pembelajaran menyongsong revolusi industri 4.0 agar materi unggah-ungguh basa yang syarat budaya kearifan lokal dan pendidikan karakter ini tak punah. Inovasi tersebut bisa dalam bentuk media pembelajaran dan lembar kerja siswa yang memanfaatkan kecanggihan teknologi. Sebagai contoh, penggunaan film pendek yang memuat interaksi orangtua dan anak muda sedang berbicara basa krama. Hasil pembelajaran tersebut dikombinasikan dengan penggunaan lembar kerja siswa sistem daring, yang bisa diakses menggunakan smartphone di manapun mereka berada.

Ketika berada dalam kelas, guru bahasa Jawa lebih sering membiasakan berkomunikasi menggunakan basa krama daripada ngoko. Sedangkan guru mata pelajaran lain, juga harus memaksimalkan hari Kamis sebagai hari berbahasa Jawa. Penerapan sehari berbahasa Jawa ini sebagai satu solusi agar unggah-ungguh basa tetap tangguh dan menjadi ciri khas kesopanan orang Jawa.

Ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama. Bukan hanya pekerjaan rumah bagi guru bahasa Jawa seorang. Namun, perlu adanya sinergi dari keluarga dan sekolah supaya generasi Z Jawa, ketika berada di lingkungan sosial maupun digital, tetap mengedepankan unggah-ungguh. Mari bergadengan tangan membimbing generasi Z menuju revolusi industri 4.0 dengan masih menjunjung tinggi kekayaan budaya bangsa, satu di antaranya adalah unggah-ungguh basa. (*)

Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved