Senin, 25 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Alasan Beberapa Crew Bus Enggan ke Terminal Mangkang dan Penggaron

Meski tak lagi masuk ke eks Terminal Terboyo, sejumlah bus AKAP maupun AKDP masih sering berhenti di pinggir jalan menuju Terboyo.

Tayang:
Penulis: Jamal A. Nashr | Editor: Catur waskito Edy
m zainal arifin
pekerja sedang membongkar selasar Terminal Terboyo, Senin (12/3/2018) 

TRIBUNJATENG.COM -- Meski tak lagi masuk ke eks Terminal Terboyo, sejumlah bus AKAP maupun AKDP masih sering berhenti di pinggir jalan menuju Terboyo.

Tak hanya di jalan menuju terminal, sejumlah bus juga berhenti di pinggir Jalan Kaligawe.

Bus jurusan Surabaya dan Solo masih terlihat berhenti di Terboyo sambil menurunkan dan menaikkan barang di Terboyo.

"Ke Terminal Mangkang terlalu jauh, istirahat sopir kurang. Pernah dicoba ke Mangkang tapi tidak kompak akhirnya terjadi kecemburuan," sebut sopir bus jurusan Surabaya-Semarang, Agus Santoso (36), di kawasan Terboyo, Kamis (12/9).

Ia mengatakan, jika harus berhenti di Terminal Mangkang waktu tempuh akan bertambah.

Selama ini, ketika berhenti di Terminal Terboyo membutuhkan waktu tempuh 8 jam dari Surabaya.

Sementara, kalau sampai Terminal Mangkang membutuhkan waktu tambahan 30 menit jika melalui tol.

Menurutnya, bertambahnya waktu tempuh akan mempengaruhi waktu istirahat sopir.

Ia khawatir, jika sopir kelelahan dan mengantuk di jalan akan membahayakan keselamatan ketika berkendara.

Alasan lain awak bus tetap berhenti di Terboyo adalah karena sedikit penumpang dari Terminal Mangkang.

Sehingga sopir berdalih, percuma menempuh trayek jauh ke Mangkang sementara tak membawa penumpang.

"Harapan saya tetap di Terboyo, waktu istirahatanya pas. Soalnya jalan juga sering macet.

Dulu keputusan pemindahan juga tidak melibatkan kami untuk dimintai masukan," katanya.

Senada, sopir bus jurusan Semarang-Solo, Joko Samudro (43), juga memilih tetap berhenti di Terboyo.

Keberadaan penumpang juga menjadi alasannya.

Menurutnya, penumpang dari dan menuju Solo turun serta naik di Terminal Terboyo.

Meski demikian, ia tetap menuju ke Penggaron setelah menurunkan dan mengambil penumpang di Terboyo.

"Sebenarnya trayek yang baru tidak ke Terboyo. Kita kasihan, dari Solo penumpang ke Penggaron tidak ada mereka turunnya Terboyo.

Ada yang kuliah, ada yang kerja. Kita tidak tega kalau menurunkan di Sukun, manusiawilah. Yang penting kita tertib, setelah itu ke Penggaron," tuturnya.

Menurutnya, berhenti di Penggaron menambah biaya operasional. Ia perkirakan 15 liter BBM menguap untuk memenuhi trayek ke Terminal Penggaron.

Waktu tempuh juga bertambah sekitar 30 menit dibandingkan ketika hanya berhenti di Terminal Terboyo.

"Ke penggaron itu boros waktu dan BBM. Sampai ke sana itu melewati beberapa lampu merah, beberapa kepadatan lalu lintas. Sampai di Penggaron kita tidak bisa parkir karena waktu habis," sebutnya.

Sementara itu, ia menyebut Terminal Penggaron tidak layak sebagai lokasi pemberhentian bus AKDP.

Sering ia harus putar balik ketika sampai terminal karena lokasi parkir telah penuh. Akses menuju Penggaron juga melewati jalan yang padat kendaraan.

Selain harus menjalankan regulasi untuk berhenti di Penggaron yang dinilai memberatkan, ia juga harus mengalami sepinya penumpang setelah adanya Bus Trans Jateng Koridor I.

Setelah adanya Trans Jateng, sebagian penumpang beralih menggunakan transportasi umum berplat merah tersebut.

"Dulu sebelum ada Trans Jateng, penumpang lumayan. Dari Bawen penumpang pindah ke Trans Jateng semua. Dulu bisa stor satu juta sekarang di bawah.

Padahal kalau setor Rp 1 juta bayaran saya Rp 100 ribu, sepuluh persen. Kemarin setor Rp 500 ribu, bayaran Rp 50 ribu," keluhnya. (jam)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved