Ngopi
Fokus : Luweng untuk Gandamana
Bambang Kumbayana, yang pada masa tuanya kita kenal sebagai Begawan Drona, pernah merasakan sikap keras dan tanpa kompromi Gandamana.
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Achiar M Permana
Wartawan Tribun Jateng
KOCAP kacarita, Raden Gandamana seorang ksatria berwatak keras. Nyaris tanpa kompromi.
Seorang Bambang Kumbayana, yang pada masa tuanya kita kenal sebagai Begawan Drona, pernah merasakan sikap keras dan tanpa kompromi Gandamana.
Pada suatu hari, Kumbayana yang merupakan saudara angkat Prabu Drupada, raja Kerajaan Pancala, datang. Gandamana tak lain ipar Drupada. Kakak perempuan Gandamana, Gandawati, istri Drupada
Sebenarnya, Gandamana merupakan ahli waris sah takhta Kerajaan Pancala. Dia putra lelaki Prabu Gandabayu, raja Pancala. Namun, karena ingin mengabdi pada Prabu Puntadewa, raja Astina yang juga ayah para Pandawa, dia menyerahkan takhta Pancala kepada sang ipar.
Nah, ketika itu, Kumbayana datang dengan sikap kurang sopan, untuk tidak dibilang kurang ajar. Dia memanggil-manggil nama kecil Drupada, yaitu Sucitra. Dengan tidak hormat.
"Sucitra, Sucitra, keluarlah. Mengapa kau tidak menyambutku. Aku Kumbayana, teman lamamu," teriak Kumbayana.
Rupanya, tidak satu pun pengawal maupun rakyat Pancala yang tahu siapa Sucitra. "Hei, Sucitra, apa kau sudah melupakan saudaramu?" Kumbayana masih berteriak-teriak di dalam istana.
Demi mendengar teriakan orang tidak dikenal di depan istana, dengan cara yang tidak sopan pula, Gandamana meradang. Baginya, orang yang tidak mengenal tatakrama itu perlu diberi pelajaran.
Singkat cerita, dia pun menghajar Kumbayana hingga wajah tampannya hancur berantakan. Tubuhnya yang gagah pun rusak. Dia menjelma pria buruk rupa, bertampang seperti orang tua, yang di kemudian hari kita kenal sebagai Drona.
Gandamana merupakan tokoh asli Jawa, kreasi para pujangga Nusantara. Dia tidak ada dalam wiracarita Mahabarata versi India.
Gandamana bertubuh sentosa, serupa dengan penegak Pandawa: Werkudara. Dia juga digambarkan mirip Antareja atau Anantareja, putra Werkudara dari Nagagini. Seperti Antareja, Gandamana juga wayang asli Jawa, yang tidak ada dalam babon cerita Mahabarata versi India.
Sekilas, wajah dan perawakannya juga mirip Gatotkaca, anak Werkudara dari Arimbi. Konon, ketika jabang Tetuka, nama kecil Gatotkaca, lahir berujud raksasa, oleh dewa diceburkan ke Kawah Candradimuka. Saat itu, para dewa mengambil raga Gandamana, yang telah hidup di surga, sebagai bentuk tubuh Gatotkaca.
Sikap keras Gandamana juga terlihat ketika dia menjadi patih di Astinapura. Dia menjadi pembantu yang amat diandalkan Prabu Puntadewa. Dia bertugas menjaga agar para aparatur Astina melaksanakan kewajiban sesuai tugasnya, berperilaku bersih. Tidak mengambil yang bukan haknya. Siapa pun yang melanggar sumpah jabatan, akan berhadapan dengan Gandamana.
Gandamana juga andalan Puntadewa, ketika menghadapi para musuh yang mengusik. Sebagai ksatria pilih tanding, pemilik sejumlah ajian sakti--Bandung Bondowoso, Wungkal Bener, Sepi Angin, hingga Kalung Robyong--tak mengenal jeri. Siapa pun, bakal dihadapinya demi membela negara.
Kinerja Gandamana memang memikat hati Prabu Pandu. Rakyat Astinapura juga mengaguminya.
Namun, di mana pun orang baik selalu memiliki musuh. Begitu pula Gandamana. Sengkuni, yang diam-diam mengincar kursi patih Astinapura, salah seorang yang sejak lama menyimpan niat untuk melenyapkan Gandamana.
Singkat cerita, Sengkuni merancang siasat untuk menyingkirkan Gandamana. Dia menyampaikan kabar palsu, mengenai musuh yang memasuki perbatasan Astinapura. Saat mendengar laporan itu, Pandu mengirim Gandamana ke perbatasan untuk mengecek dan sekaligus mengatasi musuh.
Gandamana--juga Pandu--tak menyadari, Sengkuni telah menyiapkan siasat culas. Di tengah hutan, para prajurit Sengkuni mengepung Gandamana. Mereka, atas perintah Sengkuni, telah menyiapkan sebuah luweng, lubang jebakan, untuk mengubur Gandamana.
Lubang jebakan itu tertutup ranting dan daun-daunan. Gandamana pun terperosok.
Tak cukup itu, para prajurit setia Gandamana pun menimbuni lubang itu dengan batu-batu besar.
Hari-hari ini, kita tengah berhadapan dengan cerita serupa dengan kisah Gandamana. Sosok Gandamana itu hadir dalam wujud Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Serupa Gandamana, setidaknya bagi saya, KPK juga sosok yang keras hati dan tanpa kompromi. Tak heran, KPK juga memiliki banyak musuh, yang menyiapkan 1001 siasat untuk melemahkan. Atau, kalau perlu, melumpuhkannya.
"Iya, ya, Kang. Kalau dirasak-rasakke, kok ya pancen mirip," celetuk Dawir, sedulur batin saya, yang tumben unjuk persetujuan.
Revisi Undang-Undang KPK, yang berlangsung cepat dan senyap di DPR, oleh banyak pihak disebut sebagai upaya pelemahan komisi antirasuah itu. Begitu juga hiruk pikuk pemilihan pimpinan KPK periode 2019-2023, yang salah satunya membuat sosok kontroversial, yang dinyatakan telah melanggar kode etik berat, terpilih.
Tak kurang, para pimpinan KPK periode 2015-2019, minus Alexander Marwata yang terpilih kembali, menyerahkan mandat kepada Presiden Joko Widodo, sebagai reaksi "protes" atas pelbagai upaya yang mereka anggap melemahkan KPK. Ketua KPK, Agus Rahardjo menyatakan, saat ini KPK diserang dari berbagai sisi, khususnya menyangkut revisi UU KPK. Ia menilai, KPK tidak diajak berdiskusi oleh pemerintah dan DPR dalam revisi tersebut.
"Oleh karena itu setelah kami mempertimbangkan situasi yang semakin genting, maka kami pimpinan sebagai penanggung jawab KPK dengan berat hati, kami menyerahkan tanggung jawab pengelolaan KPK ke Bapak Presiden," kata Agus dalam konferensi pers, Jumat (13/8/2019).
Ini bukan kali pertama KPK mengalami upaya pelemahan. Sejak kasus Cicak versus Buaya jilid I (2008) hingga kini upaya pelemahan itu telah berlangsung berjilid-jilid. Bertubi-tubi.
KPK seperti Gandamana yang dijebloskan ke dalam luweng, dan kemudian ditimbuni batu-batu besar tanpa henti.
"Kalau Gandamana punya Ajian Bandung Bandawasa, yang dengan sekali sentakan, bisa membuat batu-batu yang menindihnya hancur berantakan. La KPK punya apa, Kang?" timpal Dawir.
Yang jelas, KPK memiliki kita, rakyat yang menginginkan Indonesia bersih bebas korupsi. Kini saatnya, kita bergandeng tangan menjelma Ajian Bandung Bandawasa, yang bisa membuat KPK keluar dari luweng, keluar dari upaya pelemahan dan pelumpuhan.
"Halah, gayaem, Kang!" celetuk Dawir, yang seketika membuat saya mak-klakep. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/achiar-m-permana_20170811_073817.jpg)