Pemadaman Hanya Bisa Gunakan Alat Seadanya, Hingga Kini Kobaran Api Masih Terlihat di Gunung Slamet
Akses menuju lokasi kebakaran di Bukit Igir Genting petak 16 itu berjarak sekitar 4 kilometer dari pos pendakian Bosapala Dukuh Sawangan.
Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Gunung Slamet dilakukan secara tradisional karena minimnya akses air untuk menjinakkan si jago merah.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Penanggulangam Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, Tedjo Kisworo saat berada di pos pendakian Basecamp Bosapala, Dukuh Sawangan, Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa kepada Tribunjateng.com, Rabu (18/9/2019).
Seperti diketahui, kebakaran di gunung setinggi 3.428 Mdpl itu terjadi sejak Selasa (17/9/2019) pukul 15.00.
Dari informasi yang dihimpun, mencuatnya kobaran api bermula dari wilayah Lereng Bukit Igir Genting, Dukuh Sawangan, Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.
Lokasi itu tepat berada di sekitar Pos 3 sampai Pos 4 pendakian Gunung Slamet melalui Dukuh Sawangan, Kabupaten Tegal.
Tedjo menyebut, saat ini, sejumlah petugas dari PMI, Polres, Kodim, BPBD, KPH Perhutanan, dan relawan lainnya berupaya menjinakkan kobaran api itu hanya menggunakan arit dan alat seadanya.
Pasalnya, akses menuju lokasi kebakaran di Bukit Igir Genting petak 16 itu berjarak sekitar 4 kilometer dari pos pendakian Bosapala Dukuh Sawangan.
Lokasi kebakaran, kata Tedjo, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 4 jam dari pos pendakian Basecamp Bosapala Dukuh Sawangan.
"Cara memadamkannya gunakan arit. Kami tebang semak-semak yang berpotensi menyebabkan merembetnya api di sekitar lokasi."
"Saat ini, kami bersama sejumlah pihak terus berupaya," ujar Tedjo.
Sementara, Kapolres Tegal AKBP Dwi Agus Prianto yang langsung ikut meninjau itu mengungkapkan faktor arah hembusan angin menjadi satu kendala dalam upaya pemadaman.
Sebab, kata Dwi, arah angin kerap berubah-ubah sehingga kobaran api kian melebar.
Bahkan ke wilayah Kabupaten Banyumas, Brebes, dan sekitarnya.
"Yang terpenting, kami bangun dahulu pondasinya untuk upaya pemadaman ini yakni dengan membuat Pos Logistik dan dapur umum terpadu."
"Jangan misah-misah dan bergerak sendiri-sendiri. Pemadaman ini harus dilakukan secara kolaboratif," tegas Kapolres.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/update-gunung-slamet.jpg)