Degradasi Lahan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng kKan Mengkhawatirkan
Ternyata bukan hanya PLTA yang dirugikan karena degradasi di hulu Serayu, masyarakat dan petani pemilik lahan pun ikut menanggung kerugian
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Degradasi lahan di kawasan dataran tinggi Dieng kian mengkhawatirkan. Tingkat erosi di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu semakin lama kian parah.
Tingginya laju erosi di hulu DAS Serayu itu tak ayal melahirkan sedimentasi yang tebal pada aliran sungai Serayu. Sungai menjadi dangkal, hingga banjir mudah melanda di daerah hilir.
Ini pun menjadi masalah serius bagi operasional PLTA Panglima Besar Jenderal Soedirman atau waduk Mrica Banjarnegara. Bendungan itu terus mengalami pendangkalan hingga memperpendek usia waduk itu.
Ternyata bukan hanya PLTA yang dirugikan karena degradasi di hulu Serayu, masyarakat dan petani pemilik lahan pun ikut menanggung kerugian.
Erosi yang terjadi terus menerus akan menyebabkan hilangnya lapisan tanah atas (top soil). Padahal, lapisan tanah atas ini adalah yang paling subur karena kaya bahan organik atau hara.
"Top soil efektif sampai kedalaman sekitar 40 cm. Dari yang saya baca, diperkirakan 20 atau 30 tahun lagi lapisan tanah subur di Dieng itu habis,"kata Novan Hakim, pegawai BP DASHL Serayu Opak Progo
Novan mengatakan, erosi lahan terjadi karena banyak faktor yang lebih banyak dipicu perilaku manusia.
Dalam mengelola lahan, petani umumnya tanpa memerhatikan konservasi tanah, serta teknik budidaya tidak sesuai dengan kaidah pertanian yang baik.
Pihaknya pun menyarankan petani agar memperbaiki pola budidaya searah kontur. Pengolahan tanah dengan cara ini dinilainya bisa menekan laju erosi dan aliran permukaan.
Meskipun, penanaman searah kontur ini pun bukan jaminan menghilangkan potensi erosi lahan. Terlebih jika diterapkan pada lahan terbuka tanpa tegakan, dengan kelerengan curam, serta curah hujan tinggi.
Faktor lain pemicu longsor adalah kemiringan lahan. Semakin curam lereng maka kian besar peluang erosinya.
Di dataran tinggi Dieng, rasanya sulit menemukan lahan dengan kemiringan curam, hingga puncak bukit sekalipun, yang luput dari penanaman sayur, utamanya kentang.
"Banyak faktor, termasuk tingkat penutupan lahan, jumlah tegakan sebagai pengikat tanah juga pengaruh,"katanya
Idealnya, kata dia, lahan dengan kemiringan 45 persen atau lebih mestinya ditanami tanaman keras yang mampu mengikat tanah.
Masalahnya, sebagian lahan dengan tingkat kemiringan itu dikuasai warga, bukan kawasan hutan lindung atau konservasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/lahan-miring-dieng-dipenuhi-hamparan-tanaman-sayur.jpg)