Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus : Permainan 'Makelar Piknik' Memperburuk Layanan Paket Wisata

Beberapa kasus kecelakaan, melibatkan bus pariwisata yang sedang mengangkut banyak penumpang, baik pelajar maupun rombongan komunitas

TRIBUN JATENG/M ZAENAL ARIFIN

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Beberapa kasus kecelakaan, melibatkan bus pariwisata yang sedang mengangkut banyak penumpang, baik pelajar maupun rombongan komunitas. Bus yang mengangkut rombongan pariwisata itu mengalami kecelakaan di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah maupun DIY atau Bali.

Faktor penyebab kecelakaan antara lain kondisi bus tidak standar, sopir bus tidak menguasai medan, mengantuk atau kecapekan, ugal-ugalan, rute kunjungan tidak sesuai rencana awal (cari jalan pintas) dan sebagainya. 'Kesalahan' itu diperparah lagi oleh permainan oknum travel agen atau makelar piknik.

Oknum travel agen atau makelar piknik menawarkan paket wisata kepada sekolah-sekolah atau komunitas tertentu, dengan harga miring. Mereka merebut segmen pasar PO Bus yang telah resmi menjalin kerja sama. Jika paket standar, misalnya Rp 1,8 juta maka makelar berani kasih harga Rp 1,5 juta saja.

Dengan harga miring itu, makelar mencarikan bus dari luar daerah dalam kondisi kurang standar, atau bus cadangan antar kota antar provinsi (AKAP) dan AKDP.

Tentu kondisi armada bus tidak sebagus bus pariwisata yang disediakan oleh PO bus resmi, sebagaimana dalam kesepakatan. Namun demikian pihak sekolah tidak bisa protes kepada "makelar piknik" karena telah terjadi "kesepakatan" di luar perjanjian.

Dan hal-hal begitu berlangsung dalam jangka waktu lama, saling terikat dan dua pihak diuntungkan. Rata-rata tiap sekolah, minimal ada 3 kali piknik dalam setahun, dengan tujuan di luar provinsi.

Kecelakaan bus pariwisata, yang baru saja terjadi menimpa rombongan pelajar SMPN 1 Subah Kabupaten Batang tanggal 23 Oktober 2019. Sedangkan kasus kecelakaan sebelumnya yang melibatkan bus pariwisata antara lain terjadi di arah Tawangmangu Karanganyar, di Salatiga, di Kopeng, Boyolali, Gunungkidul, Pacitan, dan lain-lain.

Bus pariwisata yang mengangkut pelajar SMPN 1 Subah itu bertolak dari Bandung mengalami kecelakaan di KM 181.400 jalur A Tol Cipali. Dua siswa dan kepala sekolah meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan satu siswa menyusul selang tiga hari usai dirawat di rumah sakit Kabupaten Cirebon, karena koma dan luka parah.

Hingga saat ini, penyebab pasti dari kecelakaan belum diketahui pihak sekolah. Namun menurut penuturan seorang guru yang juga ikut rombongan pariwisata, bus oleng setelah menabrak bagian belakang sebuah truk.

Dia adalah Suroso, guru PKN yang mengajar untuk siswa kelas 7 dan 9 di SMP N 1 Subah Kabupaten Batang. "Saya dan sekolah belum mendapatkan pemberitahuan resmi dari kepolisian tentang penyebab kecelakaan bus pariwisata yang kami gunakan.

Setahu saya sopir bus tersebut masih ditahan di Polres Cirebon," tuturnya saat ditemui di RS QIM Kabupaten Batang.

Suroso saat itu sedang menunggui anaknya, Rara, yang juga menjadi korban kecelakaan bus. Beruntung Rara masih selamat meski mengalami patah tulang di lengan kanan.

Menelisik lebih jauh, pihak sekolah SMP N 1 Subah mengaku menggunakan biro pariwisata asal Pekalongan untuk melakukan piknik ke Bandung.

"Biro itu sudah jadi langganan kami. Mungkin sudah sejak lima tahun yang lalu. Tapi baru kali ini mengalami kejadian seperti itu," ujarnya.

Dia mengaku pihak sekolah memilih biro pariwisata tersebut karena pelayanan yang diberikan memuaskan. "Selama bertahun-tahun tidak ada komplain dari guru lain maupun siswa. Semua bagus pelayanannya," tambah Suroso.

Bahkan usai terjadi kecelakaan, pihak biro pariwisata juga memberikan bantuan terapi trauma healing kepada seluruh siswa dan guru yang ikut berwisata ke Bandung.

"Hampir tiap hari pihak biro juga jenguk anak saya yang masih dirawat di sini. Beberapa kali mereka juga ke sekolah untuk memberikan terapi trauma healing, supaya anak segera pulih dari rasa trauma pasca kecelakaan," ungkapnya.

Tak hanya membantu memberikan terapi, pihak biro pariwisata yang bekerjasama dengan SMP N 1 Subah juga memberikan sejumlah uang untuk perawatan korban yang selamat.

"Ya ada walau tidak banyak. Anak saya juga dapat, selain dari Jasa Marga dan pihak Pemkab Batang," tegasnya.

Akibat peristiwa kecelakaan tersebut pihak sekolah untuk sementara menghentikan kegiatan wisata hingga waktu yang tidak ditentukan. Supaya hilang perasaan trauma setelah kepala sekolah dan tiga siswa meninggal dunia.

"Pastinya kami semua trauma. Tidak hanya untuk guru dan siswa yang ikut piknik saja. Tapi siswa dan guru lain yang satu sekolah. Kami sepakat untuk sementara tidak melakukan piknik dahulu," pungkas Suroso.

Ugal-ugalan sejak Berangkat

Pengakuan orangtua siswa SMPN 1 Subah Kabupaten Batang yang tidak tidur saat terjadinya kecelakaan, sejak awal bus tersebut sering menyalip bus yang ditumpangi rombongan lain.

"Kata anak saya, bus yang kecelakaan itu sejak berangkat selalu mendahului bus lain. Jadi seperti ingin ada di posisi pertama terus," ujar Iwan orangtua Safarudin yang jadi korban selamat.

Saat terjadinya kecelakaan, Iwan mengatakan anaknya tidak mengetahui secara persis mengapa bus bisa hilang kendali.

"Memang sedikit aneh kecelakaan kemarin itu. Hampir semua siswa yang ada di dalam bus tidak begitu tahu persis. Mungkin karena sudah malam dan kondisi jalan tol yang gelap," katanya.

Sebelum berangkat piknik ke Bandung Jawa Barat, Iwan mendapatkan surat edaran dari pihak sekolah jika akan melakukan piknik.

"Kami tidak diajak untuk memusyawarahkan studi tour yang dilakukan anak-anak ke Bandung. Kami hanya mendapatkan surat edaran untuk memilih studi tour antara ke Jakarta atau Bandung," terangnya.

Setiap anak yang ikut piknik ke Bandung harus bayar Rp 700 ribu. Bagi yang tidak ikut, juga harus membayar sebesar Rp 350 ribu.

"Menurut saya itu sedikit memaksa. Harusnya kalau yang tidak mampu ya disubsidi atau tidak diminta bayar kalau memang tidak mau ikut," tegasnya.

Saat mendapatkan kabar ada bus pariwisata yang ditumpangi anaknya mengalami kecelakaan, Iwan langsung pergi menuju Tol Cipali.

"Harusnya jam 2 pagi mereka sudah sampai di sekolah. Jadi kami semua orangtua pasti sudah menunggu. Eh malah ada kejadian itu. Ya saya langsung pergi ke sana," katanya.

Saat di lokasi, Iwan masih melihat banyak korban yang berlumuran darah. Seluruh korban yang mengalami luka kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.

"Beruntung anak saya tangannya hanya kesleo. Saya juga sempat bantu korban lain. Alhamdulillah anak saya tidak trauma dan langsung mau sekolah," imbuh Iwan. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved