BPBD Sragen Sebut Ini Minggu Terparah Kekeringan
Musim penghujan yang tak kunjung datang membuat kekeringan di Kabupaten Sragen semakin parah
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN - Musim penghujan yang tak kunjung datang membuat kekeringan di Kabupaten Sragen semakin parah.
Data yang Tribunjateng.com himpun dari BPBD Kabupaten Sragen per Selasa, (5/11/2019) total tangki untuk droping air di wilayah kekeringan mencapai 5.576 tangki dengan 35.677.000 liter.
Total tersebut dalam kurun waktu hampir lima bulan terhitung daru Juli hingga November dengan perincian BPBD mengirim bantuan sebanyak 1.809 tangki, PMI Kabupaten Sragen 497, PDAM 1.416 dan CSR yang terdata 1.416 tangki.
Kepala BPBD Kabupaten Sragen Sugeng Priyono mengatakan November ialah bulan paling ekstrim bagi BPBD karena bulan ujung pancaroba di tahun ini.
"Jumlah bantuan air bersih ini dipastikan bakal tambah terus. Seminggu terakhir droping air paling banyak. Apalagi Sragen mengalami pemekaran dalam hal kekeringan," kata Sugeng, Kamis (7/11/2019).
Dirinya menyebutkan data awal ialah 7 kecamatan dan 36 desa yang mengalami kekeringan, namun seiring berjalannya waktu menjadi 43 desa.
Sementara info yang pihaknya peroleh dari BMKG, hujan baru akan turun di Sragen sekitar 20 November.
"Hujan pun kan sumur atau tanah tidak langsung ada air, satu dua tiga kali baru rembes aja, nah baru hujan selanjutnya bisa menyimpan air," kata Sugeng.
Tidak hanya kekeringan, Sragen kini juga sedang terkena angin kencang. Setelah di Masaran, baru-baru ini angin kencang menyapu Bumiaji Gondang.
"Jadi separuh anggota kita dilapangan perihal masalah droping air, lain sisi bergerak untuk evakuasi angin kencang hubungannya dengan hujan," kata Sugeng.
Perihal titik angin kencang pihaknya mengatakan belum ada ilmu tentang bagaimana menentukan angin.
Ada beberapa wilayah yang ditengarai terindikasi perjalanan angin, seperti di seputaran Masaran, Plupuh, wilayah barat rel kereta api Gemolong hingga Kalijambe.
Kendati demikian tidak menutup kemungkinan menyerang di wilayah lain karena di tahun kemarin di Sukodono dan Jenar juga terkena angin kencang.
"Kami memetakan angin kencang seluruh kecamatan di Kabupaten Sragen, 20 kecamatan karena hujan angin tidak bisa diprediksi. Yang penting kita harus paham betul tanda-tanda angin kencang," kata dia.
"Semisal siang hari sangat panas terik lalu tiba-tiba langsung redup itu harus hati-hati karena bisanya akan terjadi angin kencang disekitar pukul 15.00-17.30. Kalo itu memang sudah ada ilmunya," lanjut dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/solo-peduli-melakukan-droping-air-bersih-di-desa-gilirejo-lama-kecamatan-miri-kabupaten-sragen.jpg)