Kisah Heroik Jenderal Soedirman, Tulis dan Bacakan Sendiri Sumpah Jabatan, Tak Pernah Diingkarinya
Tetapi suasana kebatinan pengangkatan Jenderal Soedirman dengan pemimpin saat ini tentu berbeda
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Sumpah janji jabatan menjadi bagian penting pada rangkaian seremonial pelantikan pejabat atau pemimpin.
Pejabat atau pemimpin akan diambil sumpah oleh atasannya. Semisal bupati akan diambil sumpahnya oleh gubernur.
Adapun gubernur akan diambil sumpahnya oleh Menteri Dalam Negeri atau Presiden RI.
Tradisi ini juga berlaku di instansi manapun. Rasanya, tidak ada pejabat atau pemimpin struktural di negeri ini yang luput dari tradisi pengambilan sumpah janji.
Dengan menyebut nama Tuhan, di bawah naungan kitab suci, mereka berujar sumpah akan bertanggung jawab dan memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin. Tetapi dalam perjalanannya, kenapa banyak pemimpin yang mengingkari sumpahnya, hingga mengkhianati rakyat yang dipimpin.
Tradisi pengambilan sumpah sebenarnya sudah berjalan sejak dahulu. Hanya, sakralitas sumpah sepertinya telah mengalami degradasi.
Panglima Besar Jederal Soedirman pun sempat diambil sumpahnya saat diangkat menjadi Panglima TNI pertama oleh Presiden Soekarno.
Tetapi suasana kebatinan pengangkatan Jenderal Soedirman dengan pemimpin saat ini tentu berbeda.
Menjadi panglima TNI saat itu adalah pekerjaan berat.
Musuh sudah jelas di depan mata. Pemimpin harus siap mati untuk negara.
Ancaman itu pun nyata. Kondisi perekonomian negara masih amburadul.
Jangankan menggaji panglima dengan nominal yang layak, untuk membebaskan negara dari belenggu penjajah saja masih butuh perjuangan keras.
Gaji maupun fasilitas untuk pejabat atau pemimpin jelas sangat memprihatinkan.
Karenanya, mereka yang diangkat menjadi pemimpin adalah orang-orang pilihan yang ikhlas berjuang untuk bangsa.
Meski tanpa embel-embel tunjangan dan fasilitas mewah, para pemimpin bangsa di era perjuangan kemerdekaan tak pernah mengingkari sumpahnya.
Menjelang pelantikannya sebagai panglima, Soedirman menulis sendiri sumpahnya dalam secarik kertas.
Setiap kata yang tertulis pastilah sesuai dengan kata hatinya.
Tidak mungkin ia menulis sesuatu yang dia sendiri tidak akan mampu melaksanakannya.
Sumpah yang dia tulis dengan sungguh-sungguh itu ia bawa ke tempat dia akan mengucap janji.
Soedirman tentu hafal betul apa yang dituliskannya.
Ia yang menulis dari kata hati, ia juga yang membacakan sumpah itu dengan penuh penghayatan.
"Sumpah pejabat sekarang dengan sumpahnya pak Dirman berbeda. Pak Dirman menulis sendiri sumpahnya dan dibaca sendiri.
Yang lain cuma menyaksikan. Bisa dinilai lebih berbobot mana dengan sumpahnya pejabat sekarang," kata Ajudan II Jenderal Soedirman Mayor TNI (purn) Abu Arifin di Dawuhan Purbalingga
Atasan Soedirman tidak membebaninya dengan sumpah yang dibuat orang lain, namun ia sendiri keberatan melaksanakannya. Karenanya, ia menulis dan membacakan sendiri sumpahnya. Karena nurani tak mungkin mengingkari. Sodirman harus mempertanggungjawabkan sumpah yang dia tulis dan diucapkannya sendiri.
Di antara bunyi sumpah yang ditulis dan dibaca Jenderal Soedirman adalah, sanggup mempertahankan Republik Indonesia sampai titik darah penghabisan.
Arifin coba membandingkan pengambilan sumpah Jenderal Soedirman dengan pemimpin saat ini.
Tentu saja, kualitas sumpah pemimpin beda generasi itu jauh berbeda.
Alih-alih menulis sendiri sumpahnya.
Dalam ritual pengambilan sumpah saat ini, sumpah pemimpin dibacakan oleh atasannya.
Dalam membaca sumpah, mereka hanya meniru apa yang diucapkan pengambil sumpah. Pengambil sumpah pun telah memegang teks itu yang entah dibuat oleh siapa.
"Sekarang misal gubernur terpilih, yang nyumpah itu menteri dalam negeri atau kepala negara. Yang baca yang nyumpah, dia sudah pegang teks. Gubernur hanya mengikuti apa yang dikatakan penyumpah,"katanya
Soedirman nyatanya membuktikan sumpahnya itu. Minggu pagi, 19 Desember 1948, saat Agresi Militer Belanda II, Kota Yogyakarta yang lengang karena hari libur berubah mencekam.
Pesawat Cocor Merah milik Belanda sedang berpesta di udara. Pasukan Belanda telah memasuki kota dari lapangan udara Maguwo. Sebuah pabrik peniti di Lempuyangan yang dikira markas tentara telah hancur dibom.
Mereka ingin menangkap hidup-hidup Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta di istana.
Target lainnya, mereka hendak menangkap hidup atau mati Panglima Besar Jenderal Soedirman yang sedang sakit paru-paru parah.
Panglima Besar Jenderal Soedirman yang saat itu terbaring sakit di kamar rumah dinas di Jalan Bintaran Timur 8, seketika bangkit dengan wajah meradang.
Belanda telah mengkhianati genjatan senjata.
Istri Soedirman, Siti Alfiah dan dokter pribadi Mayor Suwondo menahan tubuh rapuhnya yang memaksa bangkit.
Menurut Arifin, Dirman tak menggrubis nasihat dokter yang memintanya tenang agar kesehatannya terjaga.
Soedirman benar-benar menepati sumpahnya. Ia akan mempertahankan tanah air sampai titik darah penghabisan.
Sumpah itu ditulis dan dibacakannya sendiri saat ia diangkat menjadi panglima.
Ia hanya sakit, meski sudah parah hingga berdiri pun susah. Namun darah masih mengalir di tubuhnya yang menandakan ia masih punya kesempatan untuk melawan. Sampai titik darah penghabisan yang mematikan kehidupannya.
Tak ada yang mampu menahan Soedirman yang keras kepala. Ia memaksa diantar pengawalnya ke istana untuk menghadap presiden. Soedirman dipapah ke mobil menuju istana, di bawah ancaman pesawat Belanda yang berseliweran di atasnya.
Ia menemui atasan bukan untuk meminta perlindungan atau dibebaskan dari tugas karena sakitnya yang parah. Soedirman justru ingin memohon ke presiden agar menurunkan mandat padanya untuk memimpin perlawanan.
Soekarno tak mungkin memberikan tugas pada Soedirman sementara dia sendiri tahu betul kondisi kesehatan panglima yang memburuk.
"Dia minta mandat presiden agar diizinkan melawan penjajah yang berkhianat. Karena dalam sumpahnya, pak Dirman sanggup mempertahankan RI sampai titik darah penghabisan,"katanya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ajudan-ii-jenderal-soedirm.jpg)