Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mahasiswa Asing Ikut Mitigasi Hijau di Bantaran Sungai Bengawan Solo jadi Perhatian Warga

Para relawan dari Pekarya Sungai dan Sibat PMI‎ Kota Solo, serta sejumlah mahasiswa UNS serta dari Belanda dan Jepang, melaksanakan resik-resik sungai

Tayang:
Penulis: yayan isro roziki | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/YAYAN ISRO ROZIKI
Mahasiswi Rotterdam University bersama relawan Sibat PMI, serta anak-anak yang tinggal di sekitar bantaran Bengawan Solo, menanam dan menyirami tanaman akar wangi, sebagai bentuk mitigasi hijau. Kegiatan dilaksnakan di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (23/11). 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - ‎Para relawan dari Pekarya Sungai dan Sibat PMI‎ Kota Solo, serta sejumlah mahasiswa UNS serta dari Belanda dan Jepang, melaksanakan resik-resik sungai dan menanam akar wangi di bantaran Bengawan Solo, Sabtu (23/11) sore.

Kegiatan dipusatkan di bantaran bengawan yang masuk wilayah Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, tepatnya di sisi utara-bawah Jembatan Mojo.

‎Satu di antara mahasiswa asing yang turut dalam kegiatan, Mees Sofie Linders (20), mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut.

Ia terkesan dengan pola mitigasi hijau, dengan menanam akar wangi di bantaran sungai.

Cari Ponsel Harga Rp 1 Jutaan? Ini Daftarnya Mulai Realme, Oppo hingga Samsung

Ratusan Rider se Indonesia Ikuti Salatiga Downhill Championship 2019, Ada Juga Kelas Mantan Atlet

Ironi Guru Honorer Banjarnegara di Seleksi CPNS 2019, Tak Bisa Daftar hingga Pengabdian jadi Ibadah

Bupati Juliyatmono Kenalkan Potensi Wisata dan Kuliner Karanganyar di Acara Panggung Gembira

"Saya senang, menikmati kegiatan ini.

Menanam akar wangi merupakan pengalaman pertama bagi saya," ujar mahasiswi Rotterdam University, Belanda, di sela-sela kegiatan.

Dituturkan, belum lama ini tiba di Kota Bengawan bersama beberapa teman kampus dan supervisor akademik‎nya.

Ia dan rombongan akan tinggal selama kurang lebih empat bulan ke depan.

Selama itu, akan turut dalam sejumlah kegiatan yang ada di Kota Bengawan.

Baik kegiatan dengan civitas akademik dari kampus di Kota Solo, ‎maupun kegiatan yang melibatkan elemen masyarakat lainnya.

"Kita akan tinggal dan mengikuti berbagai kegiatan di Kota Solo dan wilayah sekitarnya," ucap Mees.

Diakui, sambutan dari masyarakat dan relawan yang terlibat dalam kegiatan resik-resik sungai dan mitigasi hijau di bantaran Bengawan Solo cukup ramah dan menyenangkan.

"Saya enjoy, orangnya baik-baik dan ramah," tuturnya.

Kedatangan Mees dan kawan-kawannya, serta sejumlah mahasiswa asing lain dari Jepang tampak menarik perhatian masyarakat sekitar.

Terutama anak-anak, yang tak henti-hentinya mengelilingi Mess dan kawan-kawan.

Terlebih, terdapat seorang relawan dari Sibat PMI Kota Solo yang berpenampilan ala tokoh kartun asal Jepang, Naruto.

Pengamat Sungai Balai Besar Wilayah Bengawan Solo, SM Budi Utomo, mengatakan penanaman akar wangi bertujuan mencegah erosi di bantaran sungai.

Menurutnya, selama ini banyak kasus di mana bantaran Bengawan Solo terkikis erosi.

"Hari ini libatkan 60-an orang, dari berbagai elemen.

Dari Sibat PMI, pekarya sungai, mahasiswa UNS, mahasiswa asing, dan lainnya," kata Budi.

Kenapa akar wangi‎ yang dipilih?

Karena, menurutnya, saat ini tanaman yang disarankan dari pihak balai besar adalah jenis rerumputan.

"Jadi kami memang sengaja tidak menanam tanaman keras di bantaran Bengawan Solo, dan menanam akar wangi sebagai mitigasi hijau," ucapnya.

Diterangkan, selama bertugas sebagai pekarya sungai Kota Solo, ‎pihaknya sering menemukan pohon atau pun rumpun bambu yang tumbang dan mengganggu aliran sungai.

"Itu harus kita bersihkan, agar tak menyumbat aliran.

Dan itu membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu," katanya.

‎Ia menambahkan, melibatkan sejumlah mahasiswa asing dan juga mahasiswa dari UNS dalam kegiatan ini.

Tujuannya, sambung dia, untuk membuka wawasan dan cakrawala penduduk sekitar.

"Kita membuka wawasan warga, bahwa kita bisa melakukan pengurangan risiko bencana, tidak harus ketika bencana terjadi‎ dan tanggap darurat.

Di masa aman pun, kita harus melakukan pengurangan risiko dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat," imbuhnya. (yan)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved