Relawan PKBI Jateng Diberi Pelatihan PFA, Lakukan Deteksi Kesehatan Mental ke Diri Sendiri
Relawan muda perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) Jateng mengikuti pelatihan psychological first aid (PFA).
Penulis: akbar hari mukti | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Relawan muda perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI) Jateng mengikuti pelatihan psychological first aid (PFA).
Pelatihan tersebut merupakan kerjasama tim pengabdian dan pendampingan Fakultas Psikologi USM PKBI Jateng.
Pelatihan dibimbing psikolog muda Fakultas Psikologi USM, Yudi Kurniawan dan Nanang Irawan.
Keduanya mengajak relawan meningkatkan kompetensi deteksi dini tentang masalah kesehatan mental, dengan cara menyadari dan melakukan deteksi kepada diri sendiri, sebelum terjun mendampingi klien.
• Kepala Disnaker Pati: Perusahaan yang Tak Patuhi UMK Jateng 2020 Dikenai Sanksi
• Kabar Gembira untuk The Jakmania, Persija Jakarta Kontrak Marko Simic Durasi 3 Tahun, Ini Kata Ferry
• Puluhan Seniman Mural Berlomba Percantik Stadion Kebondalem Kendal, Pemenang Dapat Rp 15 Juta
"Bagaimana relawan mendampingi klien jika mereka sendiri bermasalah?"
"Secara positif, relawan sehat mental mempunyai peran lebih optimal dalam membantu klien untuk mengatasi masalahnya," jelas Yudi, Rabu (27/11/2019).
Ia menuturkan, sebagai bahan penelitian, relawan diberi pemahaman mengenali konsep kesehatan mental dan pertolongan pertama psikologis, serta melakukan deteksi dini memindai masalah kesehatan mental dengan menggunakan sistem angket.
Dalam proses pendampingan tersebut, Yudi menjelaskan para relawan sebagai pendamping juga diingatkan menjaga etika seperti mengedepankan empati, tak menghakimi, dan tak mementingkan diri sendiri.
"Juga memberi saran yang menenangkan dan memampukan klien untuk keluar dari masalahnya tersebut."
"Artinya harus adanya keterampilan relawan memperhatikan, mendengar, dan memberi bantuan berupa saran atau rekomendasi," jelasnya.
Menurutnya juga menjadi satu tugas relawan untuk meyakinkan klien, serta menghapus stigma bahwa setiap datang ke psikolog ataupun psikiater pasti dianggap memiliki gangguan jiwa. (Ahm)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pkbi-jateng.jpg)