Sabtu, 13 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI : Zaman (Tak) Berdongeng

Pada 25 November 2019, publik mengetahui pesan-pesan pendidikan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui pidato.

Tayang:
Bram
Bandung Mawardi 

Oleh Bandung Mawardi

Kuncen Bilik Literasi

Pada 25 November 2019, publik mengetahui pesan-pesan pendidikan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui pidato.

Teks berisi pesan-pesan sudah beredar sekian hari sebelum puncak peringatan Hari PGRI atau Hari Guru Nasional. Kalimat-kalimat dalam pidato sudah dipikirkan mutu dan dampak. Teks itu memenuhi kaidah-kaidah serius dalam mengungkapkan pemikiran besar.

Kita menduga pesan bakal berbeda penerimaan jika disampaikan secara lisan. Menteri memang berhak menjadikan pidato itu dokumen pemikiran ketimbang ucapan-ucapan jarang memiliki tatanan apik secara kebahasaan.

Peristiwa besar juga berlangsung di Jakarta, 26 November 2019. Berita untuk peristiwa itu tak seheboh Hari Guru Nasional. Di koran-koran, kita membaca dua berita kecil.

Di Republika, 27 November 2019, kita mengutip ujaran Nadiem Makarim dalam Hari Mendongeng Nasional: “Apa maknanya mendongeng dan membaca itu? Maknanya adalah agar adik-adik semua senang dan mencintai cerita dan mencintai buku.

Karena dari cerita itulah kita menciptakan imajinasi dan dari situlah kita berlatih jadi kreatif.” Struktur kalimat memang dalam peristiwa lisan, bukan membaca teks. Ujaran menteri memiliki dua hal terpenting: dongeng dan imajinasi. Kita berkelakar saja ujaran itu memastikan dongeng adalah hasil imajinasi dan merangsang bocah berimajinasi. Perkara dongeng disampaikan di hadapan murid-murid SD, pejabat, orangtua, dan tamu undangan.

Kita menduga pesan dari menteri itu basi. Orang-orang sudah paham dongeng adalah imajinasi. Kita tak perlu memberikan kritik atau membuat surat menasihati menteri. Beliau terbukti memberi perhatian untuk dongeng. Kita berganti ke berita bertokoh istri menteri: Franka Franklin. Perempuan dalam dandanan anggun mendongeng ke ratusan murid SD.

Berita diMedia Indonesia, 27 November 2019, memuat omongan Franka Franklin: “Saya akan menceritakan si kancil yang sebanr-benarnya.

Di sini si kancil diceritakan menjadi sosok yang baik dan suka berbagi kepada teman-temannya.” Sejak dulu sampai sekarang, orang mengingat dongeng di Indonesia melulu kancil.

Ingatan baku tapi bermasalah. Khazanah dongeng Nusantara tak cuma kancil! Si pendongeng sudah berusaha mengubah watak kancil meski kita ingin ada kejutan dari kesanggupan mendongeng dengan tokoh binatang-binatang.

Nadiem Makarim dan Franka Franklin mungkin belum sempat membaca biografi menteri di masa pemerintahan Soekarno. Menteri itu bernama Prijono (1907-1969). Dulu, ia belajar sastra sampai ke Universitas Leiden (Belanda).

Beliau mengerti dongeng. Di pelbagai acara, ia mungkin menganjurkan agar mendongeng itu dilakukan dalam berbagi pesan atau hikmah. Dongeng bukan untuk bocah-bocah saja. Prijono malah menulis buku berjudulDongeng Sato Kewan(1952) dongeng dibaca kaum dewasa. Dongeng kental lelucon dan kritik demokrasi. Pada masa Orde Baru, kita mengenal Fuad Hassan.

Di sastra, ia menerjemahkan cerita-cerita dari negeri asing dan menulis kritik sastra Indonesia. Pada saat menjadi menteri, ia pasti pernah berpidato atau membuat tulisan bertema dongeng.

Di Indonesia, kita bakal terkejut jika ada Menteri Perdongengan Nusantara. Politik sudah menghasilkan ribuan dongeng tak bermutu dan mencipta bebalisme. Dongeng belum terlalu penting masuk dalam kebijakan-kebijakan negara.

Presiden jangan tergesa mengeluarkan keputusan-keputusan bakal memicu polemik mengenai dongeng. Puluhan tahun lalu, Soeharto melalui instruksi presiden sudah membuat sejarah sulit ditandingi: penggelontoran dana menerbitkan buku-buku untuk bocah-bocah di seantero Indonesia.

Di situ, dongeng terpilih diterbitkan dan diedarkan. Dongeng-dongeng lama dan baru. Pada masa Orde Baru, dongeng “masuk” urusan pemerintah. Kita menduga ada kebijakan-kebijakan wagu dalam pelestarian dongeng bertokoh si kancil atau “memaksa” dongeng wajib mengandung pesan-pesan pembangunan nasional.

Rezim Orde Baru berakhir menimpakan segala kecewa dan luka. Orang-orang belum ada keinginan menjadikan Soeharto adalah “bapak dongeng Indonesia” melalui inpres. Sekian orang memilih menghormati pendongeng bernama Soekanto, Suyadi, Seto, Murti Bunanta, dan lain-lain.

Pada abad XXI, kebijakan-kebijakan menteri atas dongeng mungkin berselera mutakhir alias menggunakan perabot dan program teknologis. Dulu, orang-orang belajar dongeng melalui buku bermutu susunan James Danandjaja berjudulFolklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain(1984).

Buku serius dari studi kepustakaan dan ketekunan mendatangi pelbagai tempat. Buku pantas meraih Penghargaan Yayasan Buku Utama, 1987. Kita “wajib” mengutip ketimbanag keblinger dalam mengartikan dongeng: “cerita pendek kolektif kesusastraan lisan.”

Pengertian belum cukup. Kita simak lagi: “Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) atau bahkan sindiran.”

Kita mewarisi dongeng melulu kancil gara-gara studi para sarjana dan pejabat Belanda, ratusan tahun lalu. Franka Franklin pun mengingat kancil saat mendongengkan ke murid-murid. Para sarjana menjadikan kancil melintasi zaman sampai terus teringat di abad XXI: JLA Brandes, BC Humme, Palmer, dan H Kern.

Para sarjana Indonesia ketularan membuat studi-studi meski tak moncer. Kancil pun masuk ke ruang-ruang kelas dan diomongkan pejabat berlagak menasihati publik. Kita jenuh dengan kancil!

Kini, kita berada di situasi tak berdongeng. Hidup keseharian sudah berisi kejutan, kehebohan, berlebihan, muslihat, dan kenekatan. Semua gara-gara ajakan menikmati segala hal bergantung digital.

Dongeng masih ada tapi cenderung mili komunitas-komunitas atau orangtua gampang prihatin dan sendu mengingat masa lalu: masa saat dongeng itu ketakjuban ketimbang benda-benda ajaib berpetaka di abad XXI.

Dongeng masih tema penting dan besar. Kehadiran dan pesan Nadiem Makarim dalam Hari Mendongeng Nasional itu bukti meski kecil dan klise. Hari-hari berdongeng lazim berubah dengan keberlimpahan berita bohong, gosip murahan, dan fitnah-fitnah jahanam.

Dongeng terpaksa milik bocah-bocah dan ibu di ranjang. Dongeng disahkan menjadi pengantar tidur alias membuat bocah memejam mata. Kita belum perlu mengusulkan ke menteri agar ada pelarangan ungkapan: “dongeng sebelum tidur” atau “dongeng pengantar tidur”.

Bocah belum sempat menikmati imajinasi sudah tidur terlelap. Dongeng berdampak ke tidur, bukan bergerak atau bekerja. Kita memastikan ungkapan itu bertentangan dengan seruan Presiden Joko Widodo menginginkan Indonesia itu kerja dan maju. Begitu. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
Live
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved