Forum Guru Nur Rakhmat : Awas Ada Rapor
Penilaian Akhir Semester (PAS) gasal di tahun pelajaran 2019/2020 sudah hampir selesai. Rapor sebagai salah satu “buku sakti” guru
Oleh Nur Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang
TRIBUNJATENG.COM --Penilaian Akhir Semester (PAS) gasal di tahun pelajaran 2019/2020 sudah hampir selesai. Rapor sebagai salah satu “buku sakti” guru serta orang tua untuk melihat seberapa jauh dan seberapa dalam anak mencapai target tujuan pembelajaran menjadi sesuatu yang paling ditunggu kehadirannya di kalangan orang tua maupun guru.
Mengapa demikian? Selain sebagai “buku sakti”, rapor juga masih menjadi pedoman mutlak sebagian orang tua dan guru dalam menilai anak.
Artinya, berdasar hasil rapor yang ada, masih ada fenomena yang berkembang di sebagian masyarakat kita. Bahwa rapor menjadi tolok ukur anak dikatakan pintar atau tidak..
Memang hal tersebut tidak salah, karena rapor memang berisi nilai dan deskripsi atas capaian hasil belajar anak selama masa penilaian atau selama evaluasi berlangsung, baik itu evaluasi aspek pengetahuan ( kognitif), sikap (Afektif), dan keterampilan (psikomotor). Jadi, memang tidak salah jika anak yang rapornya bagus berarti anak tersebut pintar dan begitupula sebaliknya.
Lalu sikap apa yang hendaknya kita wujudkan ?
Bijak
Ya, hemat kami bijak adalah sikap yang tepat diterapkan jika hasil rapor anak sudah kita ketahui. Namun, selain bijak, kita juga harus sadar, bahwa untuk mengetahui dan menilai anak dikatakan pintar dan sejenis pelabelan lainnya, orang tua dan gurupun wajib menjadi lebih dari sekadar orang tua dan lebih dari sekadar guru.
Artinya kita harus paham betul kondisi anak. Bahkan menurut Bapak Munif Chatib, tokoh kecerdasan ganda tanah air, orang tua dan guru atau siapapun yang bergelut dengan dunia anak haruslah bisa dan mampu menjadi penyelam yang baik bagi anak.
Mengapa demikian? Ini dikarenakan berkaitan erat dengan dampak yang ditimbulkan dari adanya pelabelan terhadap anak tersebut. Jika label yang diberikan ke anak tersebut adalah bentuk pelabelan positif seperti pintar, cerdas dan lain sebagainya, tentu hal tersebut bisa sebagai bentuk apresiasi, motivasi bagi anak untuk bisa semakin maju.
Namun, bila pelabelan tersebut berupa ungkapan atau kata yang sifatnya negatif seperti bodoh, atau sebutan negatif lain yang sifatnya terus menerus, tentu hal tersebut bisa membawa dampak buruk ke anak dan berakibat anak bisa menjadi introvet, pendiam, kurang percaya diri dan bahkan bisa menjadi sasaran tindakan bullying oleh teman temannya.
Maka dari itu, sikap bijak yang dapat kita wujudkan di antaranya adalah bersyukur. Ya, syukur adalah salah satu sikap perilaku positif yang wajib kita budayakan di lingkungan kita masing masing. Selain sebagai “bahasa Tuhan”, syukur adalah bentuk tertinggi penerimaan terhadap sesuatu. Bentuknya bisa dengan syukur ucapan, dengan cara memuji, menenangkan anak, tidak memarahinya, dan lain sebagainya.
Selanjutnya yang kedua adalah sadar. Sebagai orang terdekat anak, kita harus sadar kemampuan anak dalam menyerap informasi atau pengetahuan yang didapat. Sehingga, dengan kita sadar, kita juga semakin sabar dan bersyukur, karena sudah mengetahuai salah satu aspek kondisi anak.
Sikap bijak selanjutnya adalah menerima. Sebagai guru dan orang tua yang baik, tentu kita akan menerima apa adanya kondisi anak. Karena dengan menerima, kita juga secara tidak langsung memotivasi anak untuk lebih baik lagi, serta melindungi anak dari tindakan bullying.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/nur-rakhmat-guru-sdn-kalibanteng-kidul-01-kota-semarang.jpg)