Menjelajah Tempat Asyik di Kota London
Pusat Perbelanjaan di London Ini Pembeli Diusir saat Mal Masih Ramai
Meski masih kalah pamor kalau dibandingkan dengan Paris soal barang-barang branded, bukan berarti turis di London harus pulang dengan tangan hampa.
Penulis: Erwin Ardian | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM - Fasilitas umum kota, gedung bersejarah, dan museum adalah tempat yang wajib dilihat kalau pergi ke London.
Namun semua itu tak sempurna kalau belum dilengkapi belanja.
Selalu saja ada alasan untuk berbelanja dan boros di London.
Meski masih kalah pamor kalau dibandingkan dengan Paris soal barang-barang branded, bukan berarti turis di London harus pulang dengan tangan hampa.
Hal pertama yang selalu menjadi alasan buat turis adalah, harga barang-barang branded di London lebih murah dibanding di Indonesia. Kedua, kualitasnya konon juga lebih bagus.
Ketiga, orang yang pergi ke London biasanya wajib membawakan oleh-oleh ke kerabat dan teman di negaranya.
Jika tiga alasan tersebut masih belum mempan untuk menghabiskan uang, maka alasan ke empat inilah yang paling ampuh.
“Kapan lagi kita bisa beli barang di London? Toh belum tentu nanti kita bisa ke sini lagi lho!”
Kalimat itu sering terucap dari teman-teman saya sesama orang Indonesia yang berkunjung ke London.
Nah, alasan ke empat ini yang rawan membuat orang kalap belanja. Jadi, ya tak ada pilihan lain lagi. Harus belanja, dan harus banyak.
Soal uang yang akan habis, pikir belakangan, mumpung di London. Mungkin itulah yang ada di benak semua turis di sini. Termasuk saya.
Untungnya, tak sulit mencari tempat-tempat belanja yang asyik di London. Mulai barang-barang yang branded hingga barang yang biasa, semua ada.
Soal harga juga sangat bervariasi, barang termahal hingga termurah lengkap tersaji.
Beruntung saat naik kereta Underground (bawah tanah) saya bertemu dengan Nia dan Amanda, dua warga Indonesia yang tinggal di London.
Saya segera tahu mereka saudara senegara, saat mendengar orang ngobrol berbahasa Indonesia tepat di belakang saya.
Setelah berkenalan, keduanya dengan senang hati menjelaskan tempat-tempat belanja yang oke di London.
“Kalau mau belanja di Primark saja, di sana barang-barangnya lebih murah,” kata Amanda, di dalam kereta tujuan Queensway, Sabtu (30/11/2019).
Amanda sudah tiga tahun tinggal di London untuk menemani suaminya yang sedang kuliah.
“Sekarang ini lagi ramai lho, soalnya kan ada Black Friday, jadi pengunjung akan lebih banyak dari hari biasa,” kata Nia bersemangat.
Sama dengan Amanda, Nia juga tinggal di London karena menemani suami yang sedang menyelesaikan kuliah.
Menurut Nia, warga Indonesia yang ada di London ini sekitar 4.000-an.
Dan benar, toko yang menjadi favorit orang-orang berkantong cukupan di London adalah Primark.
Primark menyediakan barang-barang berkualitas bagus dengan harga miring.
Saat ada diskon, harga akan makin miring. Apalagi saat musim Black Friday, belanja menjadi sangat menggiurkan.
Event Black Friday ini kalau di negara kita biasa disebut dengan Great Sale. Setiap tahun, Black Friday selalu dirayakan di Amerika Serikat dan Eropa.
Black Friday atau Jumat Hitam, sebenarnya adalah sebutan untuk hari Jumat pertama setelah perayaan Thanksgiving.
Hampir semua toko mulai Jumat (29 /11/2019), memberikan diskon besar untuk merayakan Black Friday.
Saat masuk ke pintu mal Primark Minggu (1/12/2019) pukul 15.10, suasana tak ubahnya seperti mal-mal di Indonesia menjelang Hari Raya Lebaran. Penuh sesak dimana-mana.
Pengunjung yang masing-masing menenteng tas belanja, tampak panik sambil memilih barang.
Mata mereka dengan cepat melihat ke berbagai arah mencari barang-barang yang diinginkan.
Mayoritas barang di Primark adalah pakaian.
Koleksinya cukup lengkap, dan harganya sangat murah untuk kelas London.
Saat musim diskon seperti ini, pembeli yang beruntung bisa menemukan kaus seharga 2,5 Pounds atau sekitar Rp 50 ribu! Pantas saja pengunjung Primark panik karena takut kehabisan stok.
Pengunjung di Primark tak hanya datang dari London. Kalau diamati, lebih banyak warga pendatang yang belanja. Bahasa yang mereka gunakan berbeda-beda.
Selain warga negara-negara Eropa yang bebas visa saat masuk ke Inggris, London juga menjadi tujuan belanja dari orang-orang Timur Tengah dan Asia.
Saat pengunjung masih penuh sesak, tiba-tiba terdengar pengumuman dari pengeras suara mal.
“Para pengunjung, dalam dua puluh menit lagi, kami akan tutup.”
Demikian bunyi pengumuman itu.
“Lho kok baru mau jam 18.00 sudah tutup?” Saya pun bertanya kepada petugas mal.
“Memang di sini semua toko tutup pukul 18.00 pada hari minggu,” kata penjaga toko berwajah India itu ramah.
Mal mengusir pembeli meski masih sore
Pengunjung mal yang mendengar pengumuman bertambah panik.
Mereka segera mengumpulkan belanjaan, kemudian bergegas ke kasir.
Namun ada juga pembeli yang masih bandel. Bukannya menuju kasir, mereka tetap memilih barang, hanya kali ini jalannya lebih cepat.
Tak ada waktu lagi. Beberapa pintu keluar mulai ditutup. Tinggal separuh pintu utama yang masih dibuka.
Satpam toko tinggi besar berkulit hitam, berjaga di sana. Pengumuman soal penutupan mal terus diulang tiap lima menit sekali. Antrean di kasir semakin panjang.
Saat keluar toko, saya sempat melihat satpam berdebat dengan pengunjung yang masih mau masuk. Satpam melarang orang itu masuk, namun orang itu terus memaksa.
Ternyata orang yang nekat masuk itu hanya akan menjemput temannya. Penjaga akhirnya mengizinkan.
Sekali lagi saya melihat bagaimana orang Inggris menghargai waktu. Kalau sudah saatnya tutup, ya pembeli harus pulang, tak peduli mereka masih akan menghabiskan uangnya di mal itu.
Tak peduli berapa potensi keuntungan yang akan didapat.
Primark terletak di kawasan pertokoan Oxford. Kawasan-kawasan pertokoan seperti itu banyak bertebaran di London seperti di Picadilly, Covent Garden, dan masih banyak lagi.
Di sana banyak toko-toko berukuran sedang yang letaknya terpisah di sepanjang jalan. Saat berpindah toko, pengunjung harus keluar ruangan dan merasakan hawa dingin.
Kalau tak ingin merasakan, suhu 1 derajat disertai angin semilir yang menusuk daging saat belanja, Westfield Shopping Center adalah pilihan tepat.
Mal terbesar di United Kingdom itu terletak di Ariel Way, Shepherd's Bush, London W12 7GF, London.
Sekilas Westfield Shopping Center mirip dengan mal-mal besar di Indonesia, namun mal yang ini besarnya luar biasa.
Westfield Shopping Center adalah bangunan besar berlantai 7, dan memiliki 9 lobi atau pintu masuk.
Luas total lantai yang digunakan untuk pertokoan adalah 150 ribu meter persegi. Tempat parkirnya muat untuk 5.500 mobil.
Saking luasnya, pihak mal menyediakan peta digital di beberapa sudut mal agar pengunjung lebih mudah menemukan barang yang dicari.
Peta digital ini bentuknya seperti smartphone raksasa yang berdiri di beberapa sudut ruangan.
Pengunjung bisa menyentuh layar monitor besar untuk mencari barang dan toko, layaknya menggunakan ponsel.
Setelah kita mengetik merk, toko, atau jenis barang yang diinginkan, layar akan menunjukkan peta, lengkap dengan posisi kita berdiri dan arah mana yang harus ditempuh menuju toko yang diinginkan. Mudah sekali, mirip google map, hanya saja ini peta mal.
Selain besar, mal ini sangat lengkap. Sebut saja semua merk ternama di dunia seperti Gucci, Chanel, Adidas, Nike, Levi’s dan lain-lain ada di sini. Mal ini baru selesai direnovasi dari bangunan aslinya pada Maret 2018 lalu.
Kinar, mahasiswi asal Indonesia yang ditemui saat jalan-jalan di Westfield Shopping Center terheran-heran dengan besarnya mal itu.
“Wah gila, ini gede banget. Saya baru pertama ke sini, biasanya saya dan teman-teman belanja di kawasan Oxford,” kata Kinar, Senin (2/12) malam.
Kinar tinggal di London karena ikut program pertukaran pelajar.
Setelah puas keliling, jam di ponsel menunjukkan pukul 20.00 waktu London. Saatnya pulang.
Saya sudah janjian akan dijemput sopir di lobi 1. Sempat bingung mau keluar, Saya pun akhirnya menemukan arah ke lobi 1 setelah memanfaatkan peta di ponsel raksasa. (erwin ardian)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pembeli-antre-saat-akan-membayar-belanjaan-di-primark-mall-di-kawasan-perbelanjaan-oxford-london.jpg)