Cerita Ririn ODHA di Sragen Kembalikan Semangat Hidup
Bangkit dari masa sulit mengetahui bahwa dirinya terkena virus HIV memang cukup berat bagi Ririn Hanjar Susilowati (38).
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN -Bangkit dari masa sulit mengetahui bahwa dirinya terkena virus HIV memang cukup berat bagi Ririn Hanjar Susilowati (38).
Ririn mengetahui dirinya terkena virus HIV setelah dua tahun kepergian suaminya. Suami Ririn ialah seorang TNI yang sedang bertugas di Palembang.
Almarhum meninggal dunia setelah tertabrak truk ketika sedang dinas 2006 silam. Almarhum meninggalkan Ririn dan satu orang anak laki-laki.
Hidup di kota perantauan membuat Rini selalu terngiang-ngiang oleh almarhum, selang beberapa bulan Ririn memutuskan kembali ke Sragen.
Waktu terus bergulir, kesehatan Ririn tiba-tiba drop dirinya juga sempat menderita TBC. Ririn mengalami diare sela dua bulan dan diperkirakan ke Puskesmas.
"Awalnya diare dua bulan ga berhenti-berhenti, akhirnya dibawa ke puskesmas, puskesmas dirujuk ke RSUD Sragen. Setelah dicek ternyata saya terkena virus HIV, rasanya seperti bumi runtuh, ga tau lagi harus gimana, maunya mati aja," terang Ririn kepada Tribunjateng.com, Jumat (6/12/2019).
Setelah didiagnosis terkena virus HIV Juni 2008, Ririn menjalani perawatan di RSUD. Ketika itu, Ririn juga sempat mengalami diskriminasi pelayanan.
"Bangsal sebelah-sebelah saya sudah mulai ngomongin saya yang terkena HIV, dari rumah sakit yang lain diberi makan pake piring nasi saya dibungkus pakai kertas minyak, hati saya rasanya sakit," lanjut Ririn.
Ririn sempat pindah RS, namun tetap mengalami diskriminasi pelayanan, dirinya pernah diisolasi dengan ditempatkan jauh dari orang-orang.
Mengambil obat pun, Ririn harus mengambil ke RS Moewardi Surakarta karena di Sragen belum ada.
"Waktu itu harus ambil ke RS Moewardi karena di Sragen memang belum ada, saya juga mulai berkonsultasi dengan dokter, keluarga mendampingi saya dan menyuport, dan semangat diri saya sendiri karena mempunya satu anak yang harus saya besarkan," lanjut Ririn.
Ririn juga mulai membicarakan perlakuan diskriminasi pelayanan kesehatan yang pernah ia alami dan sharing kepada teman-teman yang juga terkena HIV.
"Ada hikmahnya saya mendapat perlakuan diskriminasi, semenjak itu saya mulai diajak andil bersama Dinkes Sragen mengenai HIV," kata Ririn.
Pada Oktober 2013 obat untuk HIV sudah mulai ada di Kabupaten Sragen sehingga tidak perlu jauh-jauh ke Solo.
Pelayanan bagi penderita HIV di Rumah sakit di Kabupaten Sragen juga sudah tidak ada diskriminasi.