Jenderal Iran Ungkap Balas Dendam Paling Setimpal pada AS Atas Pembunuhan Qasem Soleimani
Iran menyerang pangkalan militer AS di Irak sebagai tanggapan atas kematian Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad
Ketegangan Teheran-Washington mulai meningkat pada 2018 setelah Presiden Trump menyatakan AS menarik diri dari kesepakatan nuklir antara Iran dan sejumlah negara besar Kesepakatan nuklir pada 2015 antara Iran, AS, China, Rusia, Jerman, Perancis, dan Inggris itu mencabut sanksi atas Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.
Kesepakatan itu dimaksudkan untuk membatasi program nuklir Iran dan mencegahnya membuat senjata nuklir.
Namun demikian, Trump menginginkan kesepakatan baru yang juga akan mengekang program rudal balistik Iran dan keterlibatannya dalam konflik regional.
AS juga memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran, yang membuat ekonomi negara itu merosot tajam.
Pembunuhan atas Soleimani terjadi ketika terjadi pertentangan tajam antara AS dan Iran, yang didukung kelompok-kelompok militannya.
Sengkarut itu muncul akibat kematian seorang kontraktor militer AS dalam serangan rudal di sebuah pangkalan AS di Irak.
AS menanggapinya dengan serangan udara terhadap kelompok milisi yang didukung Iran, Kataib Hezbollah. Kelompok milisi kemudian membalasnya dengan menyerang kedutaan AS di Baghdad.
Soleimani dianggap sebagai teroris oleh pemerintah AS.
Ia dianggap bertanggung jawab atas kematian ratusan tentara AS dan berencana melakukan serangan "dalam waktu dekat".
Sejauh ini AS belum memberikan bukti tentang hal ini. Iran bersumpah akan melakukan "balas dendam" atas kematian Soleimani.
Jutaan orang di Iran menghadiri pemakamannya.
Pada peristiwa itu, mereka berteriak "matilah AS dan Trump."
Serangan drone AS terhadap Soleimani juga menewaskan sejumlah anggota kelompok milisi Irak yang didukung Iran, yang juga bersumpah akan melakukan aksi balas dendam. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Jika AS Membalas, Iran Siap Tembakkan Ratusan hingga Ribuan Rudal