Produksi Manisan Kolang-Kaling Gunungpati Siap Bersaing

Desa Jatirejo, Gunungpati, Kota Semarang merupakan salah satu desa dengan potensi yang cukup menarik.

Produksi Manisan Kolang-Kaling Gunungpati Siap Bersaing - rumah-olahan-manisan-kolang-kaling-di-desa-jatirejo-gunungpati.jpg
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Rumah olahan manisan kolang kaling di Desa Jatirejo, Gunungpati, Kota Semarang
Produksi Manisan Kolang-Kaling Gunungpati Siap Bersaing - si-manis-koling-olahan-kolang-kaling-di-desa-jatirejo-gunungpati.jpg
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Si Manis Koling olahan kolang-kaling di Desa Jatirejo, Gunungpati, Kota Semarang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kolang kaling memang laris manis saat bulan Ramadan. Entah untuk bahan kolak atau tambahan bikin es buah. Buah dari pohon aren ini juga bisa dibikin manisan yang enak dan bisa bertahan berhari-hari dalam kemasan standard.

Berbicara tentang kolang-kaling, Desa Jatirejo, Gunungpati, Kota Semarang merupakan salah satu desa dengan potensi yang cukup menarik. Selain merupakan desa wisata, banyak warganya yang menggeluti usaha olahan buah pohon aren ini, sehingga disebut Kokolaka atau 'Kampung Olahan Kolang-Kaling'.

Mereka juga mempunyai paguyuban yang anggotanya adalah para pengusaha olahan kolang-kaling. Salah satu di antara warganya adalah Dwi Sayekti Kadarini (43) yang juga merupakan ketua dari paguyuban di Kokolaka tersebut.

Awalnya ia hanya meneruskan usaha milik mertuanya yang menitipkan kolang-kaling di pasar dalam bentuk kiloan. Namun, ia merasa penjualannya tidak meningkat. Wanita yang akrab dipanggil Ninik itu akhirnya melakukan sebuah inovasi untuk menyajikan kolang-kaling dengan cara yang berbeda.

Ia mengolah kolang-kaling menjadi manisan yang diberi nama 'Simanis Koling'. Tempat tinggalnya ia jadikan sebagai tempat produksi manisan kolang-kaling tersebut. Proses pengolahan produknya itu diawali dengan pemisahan batang kolang-kaling dengan buahnya.

Setelah dipisah, kemudian kolang-kaling direbus dalam dandang besar. Jika dirasa sudah matang, maka kolang kaling ditiriskan dan kemudian melalui proses pengupasan. Tahap selanjutnya kolang-kaling digepengkan kemudian direndam. Setelah melalui tahap-tahap tersebut kolang-kaling siap diproses menjadi manisan.

Ninik memproduksi manisan kolang-kaling sesuai pesanan yang ia terima. Ada tiga varian rasa yang ia tawarkan ke pembeli di antaranya melon, frambos, dan gula jawa. Dengan menjual manisan kolang-kaling seharga Rp 10 ribu percup, ia bisa mendapatkan keuntungan sebanyak Rp 300 ribu dalam sekali produksi. Kemasan berisi manisan kolang kaling bisa tahan sebulan.

Selama ini pemasaran menjadi kendala utama usahanya. Ia menuturkan bahwa produk olahannya belum mampu melejit karena pemasaran yang dilakukan belum maksimal. "Sebenarnya produk kami sudah siap bersaing, hanya saja masih terkendala pada pemasaran. Selama ini paling banyak ya pesanan masuk dari orang-orang yang kenal dengan saya," ujar Ninik kepada mahasiswa UIN Walisongo, Kamis 9 Januari silam.

Ia berharap ke depannya bisa mendapatkan pelatihan pemasaran online yang lebih maksimal. Sehingga pemasaran Simanis Koling ini bisa meluas ke berbagai daerah. Ninik juga mengatakan bahwa mahasiswa bisa menjadi reseller untuk membantu pemasaran produk tersebut. Dia mengaku sudah ajukan proposal ke pemerintah agar dibuatkan rumah produksi kolang-kaling namun belum disetujui. (tribunjateng/mahasiswa UIN Magang/wid)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved