Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Hendra Kurniawan : Imlek dan Sejarah Bangsa

Kebebasan merayakan Imlek sekarang ini tak dapat lepas dari sejarah. Tionghoa di Indonesia memiliki kisah unik yang pada kurun waktu tertentu sempa

bram
Hendra Kurniawan 

Oleh Hendra Kurniawan, M.Pd

Dosen Pendidikan SejarahUniversitas Sanata Dharma Yogyakarta, menekuni kajian Sejarah Tionghoa.

Kebebasan merayakan Imlek sekarang ini tak dapat lepas dari sejarah. Tionghoa di Indonesia memiliki kisah unik yang pada kurun waktu tertentu sempat dilanda praktik diskriminasi.

Meski demikian tak berarti berbicara soal Tionghoa melulu berkutat pada rentetan aturan dan kebijakan diskriminatif pada masa lalu.Termasuk pula soal larangan merayakan Imlek pada masa Orde Baru. Jika hal itu yang terus ditekankan maka niscaya etnis Tionghoa senantiasa dipandang sebagai korban.

Untuk itubutuh perspektif baru dalam mengkajinya. Keberadaan Tionghoa dalam relasi sosial di masyarakat dewasa ini perlu dipandang sebagai bagian dari keharmonisan bersama yang sejatinya sudah dihidupi sejak dulu.Salah satu tokoh nasional yang menaruh perhatian terhadap upaya ini ialah Gus Dur. Beliau dengan tegas menolak persepsi bahwa Tionghoa merupakan foreign subject atau outsider. Menurutnya keharmonisan yang masih terus diupayakan sesungguhnya telah dihidupi oleh nenek moyang di zaman Nusantara.

Kenyataan sejarah menyimpan catatan bahwa Tionghoa telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia sepenuhnya. Wawasan pluralisme sudah dihayatioleh bangsa Indonesia sejak masa lampau. Buktinya semboyan Binneka Tunggal Ika kali pertama muncul pada zaman Majapahit sebagaimana tersurat dalam Kitab Sutasoma karya Empu Tantular. Ketika itu komunitas Tionghoa telah menjadi bagian dari masyarakat Nusantara.

Dalam penyebaran Islam, Tionghoa ikut ambil peranan. Kelenteng Sam Poo Kong yang berdiri gagah di Semarang atau Masjid Cheng Ho yang belum lama ini didirikan di Surabaya menjadi buktinya. Laksamana Cheng Ho, seorang muslim saleh dari Suku Hui dalam pelayarannya ke Nusantara tidak semata-mata untuk urusan perdagangan dan politik negaranya.

Laksamana Cheng Ho membawa serta pengikutnya yang sebagian memutuskan tinggal di pesisir pantai Jawa dan Sumatera. Mereka menikah dengan penduduk setempat dan turut membangun perkampungan muslim Tionghoa. Keberadaan baju koko yang menjadi khas muslim, beduk di masjid, hingga petasan dan ketupat sayur saat Idul Fitri juga tak lepas dari anasir Tionghoa.

Pada masa kolonialisme, orang-orang Tionghoa bergabung dalam laskar koalisi Tionghoa-Jawa pimpinan Kapitan Sepanjang (Khe Panjang alias Tay Wan Soey) melawan dominasi Belanda tahun 1740-1743.Pada tahun 1742 juga meletus perlawanan serupa terhadap VOC di Tegal yang dipimpin oleh Kwee Lak Kwa.

Hal ini bukan isapan jempol. Bahkan untuk mengenang kepahlawanannya didirikan Kelenteng Tek Hay Kiong di Tegal dan Kelenteng Tek Hay Bio di Gang Pinggir, Semarang. Kedua kelenteng ini menghormati Kwee Lak Kwa atau Kongco Tek Hay Cin Jin yang diangkat sebagai dewa asli dari Indonesia.

Memasuki masa pergerakan juga berdiri Partai Tionghoa Indonesia pimpinan Liem Koen Hian.Ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928selain digelar di rumah seorang Tionghoa, Sie Kong Liong, juga dihadiri empat orang pemuda Tionghoa.

Demikian pula saatpersiapan kemerdekaan, beberapa tokoh Tionghoa turut didapuk menjadi anggota BPUPK maupun PPKI. Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok juga menjadi saksi bisu saat Soekarno-Hatta dijauhkan dari pengaruh Jepang oleh para pemuda menjelang Proklamasi.

Hadirnya Tionghoa dalam setiap lintas masa perjalanan sejarah bangsa ini memperlihatkan bahwa kemajemukan menjadi harga mati yang tak bisa ditawar.Keberagaman yang ada merupakan rahmat yang telah digariskan oleh Tuhan.

Menolak kemajemukan berarti mengingkari pemberian Illahi. Gus Dur memandang perbedaan sebagai ethic of dignity. Sebagai karunia Tuhan, Gus Dur optimis bahwa kemajemukan tidak akan memecah belah namun justru akan membawa manfaat bagi bangsa.

Sejak sebelum menjadi presiden,Gus Durtelahmenaruh perhatian pada orang-orang yangtermarginalkan termasuk Tionghoa.Gus Dur pernah membela Budi Wijaya dan Lanny Guito, pasangan pengantin beragama Konghucu yang ditolak pencatatan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil Surabaya. Polemik ini kelak mendorong pengakuan terhadap Konghucu sebagai agama keenamsehingga kebebasan bagi para pemeluknya untuk beribadah lebih terjamin.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved