Ngopi Pagi
FOKUS : Galau Hati Dasabahu
SYAHDAN, malapetaka tengah merundung Kerajaan Sriwedari. Negeri kecil, yang berdiri di bekas taman sari Kerajaan Maespati, itu dilanda wabah penyakit.
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Achiar M Permana
Wartawan Tribun Jateng
SYAHDAN, malapetaka tengah merundung Kerajaan Sriwedari. Negeri kecil, yang berdiri di bekas taman sari Kerajaan Maespati, itu dilanda wabah penyakit.
Pagebluk. Setiap hari, ada saja penduduk yang mati karena wabah itu. Tentu saja, sang Raja Sriwedari, Prabu Dasabahu, galau berat atas pagebluk yang melanda negerinya.
Dalam upaya mencari obat untuk mengatasi pagebluk yang melanda kerajaannya, Prabu Dasabahu datang ke Kerajaan Astina, menghadap Prabu Kresna Dwipayana. Prabu Kresna Dwipayana tak lain adalah gelar Begawan Abiyasa--kakek Pandawa dan Kurawa--saat menjadi raja Astina.
Atas petunjuk dewata yang diterima Prabu Dasabahu, wabah penyakit yang melanda negerinya akan bisa sirna, jika dipasangi tumbal.
Orang yang bisa meredam wabah itu, yang bisa memasang tumbal itu, sesuai petunjuk dewata adalah Raden Pandu, putra kedua Prabu Kresna Dwipayana.
Saat mendengar pernyataan Prabu Dasabahu, Prabu Kresna Dwipayana ragu, apakah putra keduanya bisa melaksanakan tugas berat itu.
Di sisi lain, dia juga khawatir keselamatan putranya, calon pengganti sebagai raja Astina, mengalami masalah di Sriwedari.
Resi Bisma, paman yang juga guru Pandu, meyakinkan Prabu Kresna Dwipayana bahwa anak keduanya itu memiliki bakat alamiah sejak lahir.
"Saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri, ketika Pandu yang saat itu baru berusia tujuh tahun mampu menumpas Prabu Nagapaya, raja Guabarong yang menyerang Kahyangan Suralaya," kata Bisma meyakinkan.
"Keberhasilan Pandu di Kahyangan Suralaya dulu adalah berkat perlindungan dewata," sahut sang prabu.
"Jika nanti Raden Pandu diizinkan berangkat ke Kerajaan Sriwedari, pasti juga tetap mendapatkan perlindungan dewa," sahut Bisma.
Singkat cerita, Prabu Kresna Dwipayana pun mengizinkan putranya pergi, membantu rakyat Kerajaan Sriwedari dari pagebluk. Bersama Prabu Dasabahu, Pandu berangkat ke Sriwedari.
Para pengiringnya, para punakawan yang setia, turut serta. Kiai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.
Betapa kaget Pandu setiba di Sriwedari. Negeri itu bak kampung mati. Sunyi. Penduduk tinggal sedikit.
Di istana, Patih Jayakusuma menyambut mereka. Selama Prabu Dasabahu pergi untuk mencari obat pagebluk yang melanda kerajaannya, Patih Jayakusumalah yang menjalankan roda pemerintahan. orang kedua di Sriwedari.
Kepada rajanya, Patih Jayakusuma menjelaskan, selama Prabu Dasabahu pergi ke Astina, semakin banyak penduduk Sriwedari yang meninggal terkena wabah penyakit. "Penduduk yang masih hidup, sebagian pergi mengungsi ke negara tetangga," katanya.
Singkat cerita, Pandu pun memulai upaya menangkal pagebluk. Atas petunjuk Kiai Semar, juga dengan Ilmu Pengabaran yang diperoleh dari Resi Bisma, Pandu pun sukses mengatasi pagebluk yang melanda Kerajaan Sriwedari.
Kisah Pandu yang terekam dalam lakon Pandu Nyirep Pageblug itu hadir ke kepala saya, seiring dengan merebaknya virus corona, beberapa hari belakangan.
Wabah serupa Sindrom Pernapasan Akut Berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia, pada 2002-2003, itu bermula dari Wuhan, Provinsi Hubei, China.
Hingga Selasa (28/1), seperti disitat AFP, korban meninggal akibat virus dengan nama resmi Novel coronavirus atau 2019-nCoV dilaporkan telah mencapai 106 orang, dengan hampir 4.500 orang terinfeksi. Sebagian besar berasal dari Provinsi Hubei, lebih khusus lagi Kota Wuhan.
"Lo, Sampean anggep China lagi kena pagebluk ya, Kang. Ngawur ae," celetuk Dawir, sedulur batin saya, dari balik tengkuk.
Pelbagai isu berseliweran, bahkan berkembang sangat liar. Termasuk tentang azab Tuhan kepada China atas perbuatan mereka terhadap kaum Muslim Uighur, hingga senjata biologi yang bocor dari sebuah laboratorium di Wuhan Institute of Virology.
"Sampean ya percaya? Ngono kok nulis nggaya-nggaya nulis buku Dusta Yudistira: Awas, Hoax Bertakhta di Media Kita! barang. Koya!," sahut Dawir lagi, yang membuat saya tak bisa berkata-kata. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/achiar-m-permana_20170811_073817.jpg)