Timnas Indonesia
Fokus : Pemain Muda untuk Timnas Indonesia
Jika mengingat kembali hasil Timnas Indonesia di kualifikasi Grup G Piala Dunia 2022 Qatar, sepertinya sudah saatnya Indonesia memotong generasi.
Penulis: galih permadi | Editor: galih permadi
Kesempatan bermain pemain muda di kasta tertinggi menjadi ganjalan.
Sempat pada kompetisi Liga 1 2017, PSSI melalui PT LIB membuat terobosan regulasi yang mewajibkan klub memakai jasa tiga pemain di bawah usia 23 tahun.
Juga mewajibkan memainkan sang wonderkid paling sedikit 45 menit.
Sayangnya, regulasi ini hanya seumur jagung, hanya 4 bulan berlaku, lalu ditangguhkan hingga musim 2017 berakhir.
Manajemen klub mengeluhkan kesulitan pemain muda berkualitas untuk berkompetisi di kasta tertinggi.
Apalagi jika dipandang bermain bagus, kemudian dipanggil Timnas Indonesia sehingga klub kesulitan mencari pemain yang sepadan.
Musim 2018, regulasi berubah.
Klub diwajibkan memanggil minimal tujuh pemain U-23 namun tidak mewajibkan memainkan para talenta muda.
Regulasi ini berlaku untuk Liga 1 2020.
Regulasi 2018 itu nyatanya cukup andil melahirkan talenta muda berkualitas bagi klub atau Timnas Indonesia.
Sebut saja Irfan Jaya, Frets Butuan, Alfath Fathier, dan Arif Satria.
Lalu di musim 2019 muncul nama Todd Ferre, Asnawi Mangkualam, Rachmat Irianto, Syahrian Abimanyu, Terens Puhiri, dan Nadeo Argawinata.
PSIS Semarang, Persebaya Surabaya, dan Barito Putera sejauh ini getol mendatangkan dan mempromosikan pemain muda.
PSIS mempromosikan delapan pemain U-18 dan mendatangkan Alfeandra Dewangga Santosa penggawa Timnas U-19 Indonesia serta terbaru, Mahir Radja Satya Djamaoeddin.
Diharapkan kehadiran pemain U-23 tidak hanya sebagai formalitas memenuhi regulasi Liga 1.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/galih-permadi_20180522_075259.jpg)