Selasa, 12 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wisata Bersih Desa, Warga Kandri Gelar Nyadran Kali

Ratusan warga Kandri, Kecamatan Gunungpati melakukan prosesi Nyadran Kali di Sendang Gede, Kamis (30/1). Tradisi Nyadran Kali ini merupakan kegiatan

Tayang:
Istimewa
Warga Desa Kandri, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah mengikuti kegiatan Nyadran Kali, di mata air atau sendang setempat, hari ini, Kamis (13/12/2018). Dalam acara itu, mereka membawa beberapa sesaji dan makanan untuk dibawa ke sendang dan dimakan bersama-sama sebagai simbol perwujudan rasa syukur. 

TRIBUNJATENG.COM -- Ratusan warga Kandri, Kecamatan Gunungpati melakukan prosesi Nyadran Kali di Sendang Gede, Kamis (30/1).

Tradisi Nyadran Kali ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan setiap Kamis Kliwon, Jumadil Akhir.

Membawa bakul berisi makanan, gunungan hasil bumi, dan kepala kerbau, warga bersama-sama menuju Sendang Gede.

Bagi mereka, sendang ini menjadi bagian dari sejarah yang tidak terlupakan.

Juru Kunci Sendang Gede, Ahmad Supriyadi mengatakan, tradisi Nyadran Kali ini sebagai bentuk ucapan syukur bahwa masyarakat Kandri sudah diberi sebuah sendang yang memiliki banyak manfaat.

Mulanya, sendang ini merupakan mata air yang besar. Masyarakat setempat takut apabila sendang tersebut menjadi rawa. Kemudian, dengan berbagai cara mereka berusaha menjadikan mata air itu bisa mengecil dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

"Dulu supaya bisa dimanfaatkan, disumpeli dengan kepala kerbau, gong, dan jaddah. Setelah itu air bisa mengecil," ungkap Supriyadi.

Karena itu, dalam setiap prosesi nyadran kali, lanjut Supriyadi, kepala kerbau selalu dihadirkan sebagai simbol untuk mengingatkan masyarakat terhadap yang terjadi dahulu kala.

Sementara gunungan berupa hasil bumi, menjadi wujud syukur masyarakat telah diberi rezeki yang melimpah.

Prosesi Nyadran Kali kemudian ditutup dengan makan bersama menggunakan daun pisang yang digelar memanjang. Wakul berisi nasi dan lauk pauk ditumpahkan ke daun pisang, lalu dimakan bersama.

"Makan bersama ini untuk merekatkan masyarakat agar bisa saling mengenal," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, Nyadran Kali ini menjadi bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal di Kelurahan Kandri.

Di sisi lain, ini juga menjadi upaya mewujudkan wisata bersih mengingat Nyadran Kali ini juga dalam rangka membersihkan Sendang Gede.

"Setiap desa wisata punya atraksi tersendiri. Ini menjadi keunikan Desa Wisata Kandri," ucapnya. Meski digelar setiap tahun, kata Iin, Nyadran Kali selalu dikemas dengan hal yang berbeda.

Tahun ini, selain prosesi Nyadran Kali, masyarakat juga menggelar pawai obor dan doa bersama yang dilaksanakan pada Rabu (29/1) malam.

Pemkot Semarang akan terus mendukung kegiatan ini dan berharap membantu mempromosikan, agar ke depan bisa mendatangkan wisatawan lebih banyak.

"Dari sisi acara sudah bagus. Tinggal packagingnya (kemasan) harus terus ada inovasi.

Kami akan bantu promosi sehingga tradisi ini bisa dinikmati tidak hanya warga setempat, tapi banyak wisatawan yang datang," tambahnya. (Eka Yulianti Fajrin)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved