Breaking News:

OPINI Dr Nugroho Trisnu Brata : Menjaga Perbatasan RI

Belum lama ini kita dihebohkan oleh berita pelanggaran ZEE (zona ekonomi ekslusif) Indonesia di Laut Natuna Utara oleh kapal-kapal nelayan Cina

bram
Nugroho Trisnu Brata 

Menurut Plato keadilan akan terwujud jika setiap orang dapat menjalankan tugasnya masing-masing dengan tetap menghormati hak-hak orang lain sehingga tidak terjadi kekacauan. Di kawasan perbatasan, jika pemerintah RI memiliki komitmen mewujudkan keadilan dan welfare state, seharusnya aspek-aspek; pendidikan, kemiskinan, kesehatan, anak- anak dan wanita, serta lapangan pekerjaan dijadikan prioritas pembangunan di daerah perbatasan.

Perbatasan sering dilihat sebagai zona ketidakstabilan, ketidakpastian, keterpinggiran, dan penuh bahaya serta kriminalitas. Dalam buku Borderlands: Ethnographic Approach to Security, Power, and Identity, Hasting dan Wilson (2011) berpendapat bahwa studi perbatasan menarik perhatian etnografer/antropolog sebagai lensa yang unik yang akan digunakan untuk melihat persimpangan dari kekuatan nasional, transkultural, dan transnasional yang membentuk keamanan dan ketidakamanan di era globalisasi.

Dalam kasus lain, migrasi lintas batas negara terjadi karena didorong oleh keinginan untuk berlindung dari kewajiban pajak, menghindari penindasan politik dan ekonomi, atau memanfaatkan peluang ekonomi. Selalu ada ketidaksetaraan borders, sehingga borderlanders memiliki sikap tanpa beban dan mencari berbagai akal untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan memanfaatkan kondisi perbatasan yang cair.

Di perbatasan Pulau Sebatik Kalimantan Utara kami pernah meneliti keberadaan “Sekolah Tapal Batas” Darul Furqon. Tujuan utama sekolah ini adalah membantu anak- anak usia sekolah agar mau bersekolah baik bagi anak-anak TKI yang dilarang sekolah di Malaysia atau anak-anak setempat di sekitar sekolah.

Kombinasi pendidikan di dalam kelas, bermain dengan cara beradaptasi dengan lingkungan alam, pendidikan agama di masjid sekolah, dan ketrampilan serta tanggung jawab saat di asrama adalah metode pendidikan yang perlu dikembangkan untuk menyiapkan anak-anak ini agar nantinya menjadi generasi muda Indonesia yang tangguh, ulet, cerdas, dan memiliki karakter cinta Indonesia.

Jadi menjaga perbatasan RI tidak hanya pada aspek pertahanan dan keamanan saja. Namun harus lebih menyeluruh termasuk menjadikan perbatasan sebagai area pembangunan bagi pertumbuhan ekonomi, memajukan pendidikan masyarakat, area perdagangan lintas negara, pusat-pusat industri baru, dan membangun mental cinta negara. Dengan cara itu maka perbatasan menjadi lebih aman dan tempat yang menyenangkan bagi warga negara Indonesia. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved