Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wawancara Eksklusif : Bupati Natuna Minta Dokter dari Jakarta ke Natuna, Ini Alasannya

Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal kemudian mendatangi kantor Kemenkopolkam dan DPR di Jakarta, Selasa (4/2), terkait observasi para WNI tersebut.

KOMPAS.COM/HADI MAULANA
Bupati Natuna, H Abdul Hamid Rizal 

TRIBUNJATENG.COM -- Nama Natuna kembali mencuat setelah pemerintah Indonesia memilih kawasan itu sebagai tempat observasi 238 warga negara Indonesia yang dievakuasi dari Kota Wuhan Provinsi Hubei, China.

Tambah mencuat setelah warga setempat melakukan aksi unjuk rasa menolak penggunaan Pangkalan Udara TNI AU di Raden Sadjad, Ranai, sebagai lokasi observasi selama 14 hari.

Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal kemudian mendatangi kantor Kemenkopolkam dan DPR di Jakarta, Selasa (4/2), terkait observasi para WNI tersebut.

Ketika bertemu Komisi IX DPR, Abdul Hamid didampingi Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti, Ketua DPRD Andes Putra, serta elemen masyarakat dan mahasiswa.

Kedatangan Hamid itu juga untuk menyampaikan enam tuntutan warga Natuna.

Adapun tuntutan itu antara lain memindahkan karantina ke kapal perang, jaminan kesehatan seperti posko di Natuna, meminta pemerintah mendatangkan dokter dan psikiater, meminta Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berkantor di Natuna.

Selain itu meminta agar kebijakan pemerintah pusat ke depannya dapat disosialisasikan, dan meminta pemerintah daerah bisa menjadi penyambung lidah masyarakat kepada pemerintah pusat.

"Kami juga mengharapkan adanya tenaga tenaga medis dari Jakarta datang ke sana (Natuna), sehingga masyarakat tenang," kata Hamid dalam pertemuan dengan Komisi IX DPR RI. Berikut petikan wawancara dengan Bupati Abdul Hamid Rizal.

Bagaimana awal mula Natuna jadi tempat observasi WNI dari Wuhan?

Sebelumnya, terus terang saja, belum ada pemberitahuan dari pemerintah pusat. Kami berita itu pada Sabtu (1/2/2020) dari media elektronik dan staf saya.

Tadi disampaikan oleh Pak Menteri (Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian), ini dalam keadaan begitu mendesak, begitu mendadak.

Sehingga informasi itu terlambat disampaikan kepada pemerintah daerah maupun kepada masyarakat. Akibatnya masyarakatnya menerima informasi simpang siur dan bias. Informasi itu saya dapat dari Pak Sekda.

Pertama, itu lihat jelasnya waktu di televisi. Nggak ada (surat pemberitahuan dari pemerintah pusat). Jadi nggak ada surat. Saya diberi tahu saja, rapat di bandara, terus beliau (Sekda) WA saya.

Apakah Karantina mengganggu aktivitas warga?

Aktivitas sih ada. Memang agak berkurang. Tapi Insya Allah ke depannya akan reda dan aktivitas mulai lagi. Sekolah mulai lagi. Kemarin tiga hari diliburkan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved