Teroris Tobat

Kisah Pertobatan Mantan Napi Teroris di Depan Ganjar dan Pelajar di Solo

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menggandeng mantan napi teroris Bom Bali untuk mengkisahkan hidupnya di depan siswa-siswi SMA

TRIBUNJATENG.COM, SOLO -- Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menggandeng mantan napi teroris Bom Bali untuk mengkisahkan hidupnya di depan siswa-siswi SMA dan sederajat se-eks Karesidenan Surakarta di SMAN 8 Solo, Rabu (12/2/2020).

Mantan napiter bernama Joko Triharmanto alias Mas Jack atau Jack Harun itu diundang khusus Ganjar untuk berbicara soal pencegahan radikalisme dan upaya deradikalisasi.

Oleh gubernur, Mas Jack diberi pertanyaan kenapa dirinya terlibat dalam aksi terorisme dan bergabung dengan kelompok Noordin M Top.

"Kala itu kami melihat berita keliru di media. Dimana ada pembantaian saudara kita dan kami didoktrin untuk membalaskan dendam," ucapnya di depan siswa siswi SMA/SMK/MAN negeri dan swasta.

Saat menjalani doktrin pertama kali, dia diberikan pertanyaan menjebak untuk memilih Alquran atau Pancasila. Sebagai umat Islam tentu ia memilih Alquran. Padahal, keduanya bisa berjalan beriringan.

Setelah itu, ia menerima doktrin-doktrin menyesatkan. Mas Jack menyebut kala itu ia berpikir apa yang diterimanya merupakan kebenaran.

"Saat ini, saya sadar dan mengaku itu salah. Saya merasakan penyesalan yang amat sangat mengingat orangtua menangis ketika saya ditangkap. Berbuat amal soleh itu tidak harus membunuh, menciderai, dan melukai," ujarnya.

Ia pun berpesan kepada generasi muda agar pandai-pandai memilih guru. Kemudian, jangan langsung termakan isu yang disiarkan berita yang tidak jelas atau hoax.

Mantan napiter yang kini berjualan soto itu juga meminta guru agar tidak mengucilkan murid yang nakal. Justru mereka harus dibina, didekati, agar tidak bertambah nakal yang juga bisa berpotensi melakukan aksi radikal.

Dalam kesempatan itu, Ganjar berharap supaya para pelajar mengambil pelajaran hidup berharga dari Mas Jack.

"Teknologi infornasi itu penting, medsos penting. Tapi jangan terpancing berita hoax dan propaganda karena itu salah," ucapnya.

Gubernur juga menegaskan agar kalangan milenial dapat konfirmasi dan tabayun jika menerima informasi yang belum tentu kebenarannya.

"Yang paling penting carilah guru yang benar agar bisa dimintai klarifikasi dan sebagainya. Ingat, hubbul wathan minal iman (mencintai tanah air sebagian dari iman)," tandasnya.

Acara yang dibungkus sarasehan dan dialog penguatan NKRI bagi kepala sekolah, guru, siswa itu juga mengundang tokoh agama seperti penceramah Gus Miftah; Dewan Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama (YPLAG) Surakarta, KH Dian Nafi; Ketua MUI Jateng, KH Ahmad Daroji. (mam)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved