Berita Video
Video Hari Pers Nasional, Bedah Buku Dusta Yudhistira Karya Wartawan Tribun Jateng Achiar M Permana
Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2020, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pati menggelar bedah buku “Dusta Yudistira” karya Redaktur Tribu
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, PATI – Berikut ini video Hari Pers Nasional, bedah buku Dusta Yudhistira karya wartawan Tribun Jateng Achiar M Permana
Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2020, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pati menggelar bedah buku “Dusta Yudistira” karya Redaktur Tribun Jateng, Achiar M Permana, di Aula Bakorwil I Jawa Tengah, Sabtu (15/2/2020).
Tak hanya bedah buku, diadakan pula diskusi bertema “Literasi Media untuk Menghindari Jebakan Hoaks di Sekitar Kita”.
Tema diskusi ini merupakan satu di antara topik yang disorot Achiar dalam buku kumpulan esainya.
Selain Achiar sebagai penulis buku, dalam kegiatan ini PWI Pati juga menghadirkan dua pembicara lain sebagai pembedah, yakni Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS dan Budayawan Pati, Anis Sholeh Ba’asyin.
Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokompim) Sekretariat Daerah Kabupaten Pati, Ahmadi, juga hadir dalam kegiatan ini.
Ketua PWI Jateng, Amir Machmud, menilai acara ini memiliki manfaat bagi insan pers dan konsumen media sekaligus.
Di antaranya membiasakan berdiskusi, membahas berbagai fenomena. Itu bagian dari kebutuhan (insan) pers untuk mengasah daya kritis dan memperkuat visi.
"Kedua, untuk masyarakat, terutama anak muda. Kita boleh dikatakan membutuhkan literasi media dari berbagai level," katanya.
Ia mengungkapkan, kegiatan ini mampu membuka ruang pengetahuan mengenai media. Semisal mengenai hoaks.
"Hal tentang jurnalistik yang belum banyak diketahui masyarakat semacam ini akan memperkaya pengetahuan anak-anak muda kita,” urai Amir mengenai acara yang diikuti puluhan peserta ini.
Para peserta antara lain berasal dari perwakilan SMA/SMK dan bagian kehumasan dari berbagai instansi yang ada di Pati.
Amir menambahkan, di dunia informasi sekarang ini, ketika disrupsi berlangsung dan komunikasi menjadi sesuatu yang tidak klasikal seperti pada masa lalu, pengetahuan yang dibagikan dalam forum ini sangat dibutuhkan masyarakat.
Ditanya mengenai dampak yang diharapkan dari forum bedah buku dan diskusi ini bagi iklim pers di Pati, Achiar M Permana mengungkapkan, ia berharap pers di Pati semakin sehat.
“Dalam pengertian, proses berjurnalistik mesti didudukkan sesuai khittahnya. Bahwa pers, media, mesti memenuhi asas check and cross check. Tidak melepas informasi tanpa mengecek terlebih dahulu, mencerdaskan masyarakat, dan sebisa mungkin menepis kemungkinan kepentingan hadir dalam pemberitaan,” ungkap dia.
Dalam buku kumpulan esainya, lanjut Achiar, dirinya menitipkan harapan kepada insan pers dan masyarakat konsumen media.
Pada kalangan wartawan, ia berharap mereka bisa lakukan kerja jurnalistik sesuai dengan bagaimana seharusnya wartawan bekerja. Di antaranya dengan tidak melepas kabar bohong.
“Di sisi lain, untuk masyarakat konsumen media, mereka harus cerdas membandingkan antara satu media dengan media lain. Mereka sebaiknya tidak mudah terpengaruh, tidak mudah percaya apa pun yang tersaji di media, karena tetap ada peluang kehadiran hoaks di sana,” ungkap dia.
Untuk diketahu, buku Dusta Yudistira berisi kumpulan esai Achiar yang memuat refleksi atas berbagai fenomena mutakhir dengan memadankannya pada berbagai kisah pewayangan.
Tema hoaks yang kemudian menjelma judul buku “Dusta Yudistira”. Sebagaimana media massa, Yudistira merupakan tokoh kesatria yang jujur.
Dalam satu kisah, ketika ditanya mengenai kematian Aswatama oleh Begawan Drona, Yudistira mengalami pergolakan batin.
Ia tahu pasti bahwa yang mati bukanlah Aswatama, melainkan Estitama, gajah yang dibunuh Bima atas perintah Sri Kresna.
Namun, Yudistira menjawab “Estitama telah mati” dengan “esti” samar dan “tama” lantang. Sehingga Begawan Drona menganggap Aswatama, anaknya, benar-benar mati.
Menurut Achiar, secara hukum positif, Yudistira tidak akan terbukti berbohong. Namun, secara substansi Yudistira bisa dianggap sengaja menjadikan makna ucapannya meleset di pikiran pendengarnya.
“Yang dilakukan media hari ini mirip dengan yang dilakukan Yudistira. Media selalu memiliki dalih telah sesuai kode etik jurnalistik di balik framing yang disajikan melalui berita-beritanya,” ungkap dia.
Sementara, Budayawan Pati Anis Sholeh Ba’asyin, dalam forum bedah buku dan diskusi, menyorot persoalan hoaks sebagai efek dari tarik-menarik antara kepentingan ekonomi, korporasi, pemodal, maupun politik media.
Ia juga menggarisbawahi rendahnya budaya literasi yang menurutnya kian memperparah fenomena hoaks. (Mazka Hauzan Naufal)