Forum Mahasiwa
Forum Mahasiswa Wahyu Egi Widayat : Pramuka dan Humanisme
Menarik membaca tulisan yang berjudul “Pramuka dan Keselamatan dalam Berkegiatan” oleh Ferika Sandra di rubrik ini pada Kamis (27/02/2020).
Sepuluh, suci dalam bertindak, berbicara dan berfikir. Segala bentuk tindakan yang tidak mencerminkan kesucian tidak pernah diajarkan di dalam pendidikan Pramuka. Sehingga sikap toleransi begitu tinggi, tidak pernah membeda-bedakan orang lain.
Kesemua darma tersebut harus terpatri di dalam diri Pramuka. Bukan hanya oleh anggoda muda yang terdiri dari Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega, namun juga para pembina dan anggota dewasa lainnya. Sehingga subtansi dari Pramuka adalah kegiatan yang menyenangkan serta mendidik untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung di dalam dasa darma.
Pengembangan Diri
Untuk pengamalan dari dasa darma yang ada, anggota Pramuka diberi kebebasan menempa dirinya pada bidang-bidang lain. Bukan hanya pada materi sejarah, tali-temali, semaphore, sandi-sandi, atau hanya tepuk tangan.
Pramuka lebih dari itu, karena dari usia Siaga (7-10 tahun) sudah diajak untuk mengenal kebudayaan di Indonesia. Mulai dari budaya lokal sampai pada budaya nasional.
Usia 11-15 tahun dikenal dengan golongan Penggalang. Diarahkan untuk mempersiapkan dalam pembangunan masyarakat. Melalui kegiatan yang terlibat langsung dengan masyarakat. Bakti sosial salah satu alternatif kegiatan Penggalang. Terlibatnya dalam permainan yang edukatif dan menantang sesuai dengan porsi usianya.
Penegak dan pandega (16-25 tahun) sudah pada ranah mencari jadi diri. Pada usia ini, peserta sudah mulai berjalan sendiri, hanya 25 % pendampingan dari orang dewasa dan usia Pandega orang dewasa hanya pada ranah pengawasan.
Pengembangan pada usia tersebut sudah lebih komplek. Peserta dalam mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah. Mereka dapat bergabung pada Satuan Karya (SAKA), Dewan Kerja, atau unit Pramuka yang lain.
Sesuai dengan regulasi yang ditetapka oleh Kwartir Nasional, saka terdiri dari yaitu, Saka Bhayangkara tentang Kebhayangkaraan yang dibina langsung oleh anggota kepolisian, Saka Dirgantara tentang kedirgantaraan bernaung di TNI Angkatan Udara, Saka Wirakartika bernaung di instansi TNI Angkatan Darat, di lingkungan TNI Angkatan Laut terdapat Saka Bahari.
Saka Taruna Bumi berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, Saka Widaya Budaya Bakti tentang seni dan pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menaungi Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru, Kementerian Pariwisata dengan Saka Pariwisata.
Pada bidang kesehatan terdapat Saka Bakti Husada, bidang penyuluh keluarga berencana ada Saka Kencana. Saka Milenial membahas teknologi digital. Akan tetapi saka milenial hanya ada di Jawa Tengah.
Alternatif lain selain saka yaitu unit. Setiap Kwartir dapat membuat unit kepramukaan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dimaksudkan pengembangan Pramuka bukan hanya pada regulasi yang ada, akan tetapi kebebasan dalam pengembangan diri.
Kwartir Nasional telah mengeluarkan petunjuk penyelenggaraan tentang Pramuka Peduli (Pramuli). Pramuli mengajarakan anggota pramuka untuk saling tolong menolong. Tolong menolong untuk membentuk rasa kemanusian, sehingga ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan Pramuli hadir untuk memberikan bantuan.
Selain terhadap sesama manusia, Pramuli bertugas untuk merawat alam. Melalui kegiatan yang bersifat konservatif agar keseimbangan alam terjaga. Serta mengurangi bencana yang diakibatkan oleh ekploitasi manusia.
UBALOKA adalah unit yang dibentuk oleh Kwartir Daerah Jawa Tengah. Unit tersebut fokus pada bidang pertolongan atau Search and Rescue. Pada unit ini peserta didik dibekali dengan teknik penyelematan. Teknik penyelamatan dipelajari secara keseluruhan, termasuk pada segala medan. Unit tersebut berkolaborasi dengan Badan Sar Nasional atau Basarnas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/wahyu-egi-widayat.jpg)