Berita Tegal

OJK: Banyak Debitur Terdampak Corona Belum Ajukan Keringanan Kredit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal memperkirakan masih banyak debitur terdampak virus corona atau covid-19 yang belum mengajukan keringanan kredit.

KONTAN/Cheppy A Muchlis
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG.COM, TEGAL -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal memperkirakan masih banyak debitur terdampak virus corona atau covid-19 yang belum mengajukan keringanan kredit.

Kepala Kantor OJK Tegal, Ludy Arlianto mengatakan, masyarakat terdampak covid-19 masih banyak yang belum tahu kebijakan keringanan kredit atau restrukturisasi kredit. Padahal, stimulus itu merupakan hak bagi masyarakat terdampak.

Sedangkan Industri Jasa Keuangan (IJK) terkait, menurut dia, memiliki kewajiban untuk melakukan penilaian dan memutuskan debitur yang berhak memperoleh keringanan.

"Ini harus tepat sasaran. Jangan sampai orang-orang yang sebetulnya mampu dan tidak terdampak justru mengajukan restrukturisasi. Jangan sampai budget yang dimiliki IJK justru habis untuk merestrukturisasi kredit orang-orang yang tidak berhak," katanya, kepada Tribun Jateng, Senin (20/4).

Kisah Dokter Muda Tangani Ribuan Pasien Corona di Wisma Atlet

Muhammadiyah Telah Tetapkan Ramadhan Jumat Ini, Berikut Imbauan Terkait Wabah Virus Corona

Harga Emas Antam di Semarang Hari Rabu ini Mengalami Kenaikan Rp 11.000, Berikut Daftar Lengkapnya

Diduga Dendam, Keluarga Perawat RS Jadi Korban Pembacokan, Korban Merangkak Bersimbah Darah

Ludy menuturkan, keringanan kredit sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 11/2020 itu bisa berupa pemotongan suku bunga, pengurangan tunggakan pokok, pengurangan tunggakan rumah, top up atau utang menjadi modal, dan terakhir penundaan pembayaran pokok dan atau bunga.

"Jadi prakteknya ada IJK yang memberi penundaan pembayaran selama enam bulan, tiga bulan, dan ada yang sampai 12 bulan. Hal itu berdasarkan kriteria yang ditetapkan di setiap lembaga keuangan," ungkapnya.

Ludy menyatakan, prosedur dan mekanisme pengajuan permohonan keringanan kredit sudah ada. Debitur bisa menyampaikan secara langsung dengan mendatangi kantor lembaga keuangan terkait, atau bisa melalui online.

Intinya, dia menambahkan, debitur harus pro-aktif menyampaikan permohonan keringanan pembayaran kredit, sesuai dengan lembaga keuangan tempat debitur aktif, seperti bank, BPR, atau leasing.

Ia menyakinkan, OJK Tegal secara aktif akan mendorong lembaga keuangan untuk memproses pengajuan keringanan debitur.

"Jangan sampai terlambat. Jangan sampai kreditnya macet baru mengajukan permohonan keringanan kredit. Secara SOP, itu pasti akan ditolak," tandasnya.

Adapun, hingga kini OJK Tegal mencatat sebanyak 35.396 debitur di wilayah eks Karesidenan Pekalongan sudah mendapat keringanan kredit dengan total outstanding kredit sebesar Rp 1,4 triliun.

Jumlah itu antara lain dari debitur perbankan sebanyak 14.394 orang dengan nominal kredit Rp 1,33 triliun, dan industri keuangan non-bank PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebanyak 20.470 debitur dengan nominal Rp 44,63 miliar.

Dari perusahaan pembiayaan atau leasing sebanyak 527 debitur dengan nominal Rp 20,99 miliar, dari PT Pegadaian sebanyak lima debitur dengan nominal Rp 340,92 juta.

Sementara debitur yang masih dalam proses pengajuan keringanan kredit berjumlah 73.641 debitur. "Jadi tidak benar kalau ada yang bilang masyarakat tidak dilayani. Namun memang pihak bank, leasing, Pegadaian serta IJK yang lain butuh waktu untuk melakukan penilaian terhadap pengajuan keringanan kredit," papar Ludy. (fba)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved