Ngopi Pagi

FOKUS : Bersyukurlah

Nek aku duwe gaji Rp 20 juta, aku mesti duwe tabungan sitik-sitik, paling ora iso nggo urip nek pas wayah susah ngene

tribunjateng/bram
ARIEF NOVIANTO Wartawan Tribun Jateng 

Oleh Arief Novianto
Wartawan Tribun Jateng

"Nek aku duwe gaji Rp 20 juta, aku mesti duwe tabungan sitik-sitik, paling ora iso nggo urip nek pas wayah susah ngene (kalau saya punya gaji Rp 20 juta, setidaknya saya pasti punya tabungan, paling tidak bisa untuk hidup di saat susah seperti ini-Red)," kata satu tetangga saya, dalam diskusi ngalor-ngidul di pos ronda kampung, kemarin malam.

Yah, hal itu menanggapi sebuah unggahan viral di media sosial (medsos) tentang seorang warga yang mempunyai gaji puluhan juta, tetapi kini hidup cukup sulit di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

Dalam unggahan itu disebutkan, dia memiliki gaji Rp 20 juta/bulan, tetapi selama pandemi covid-19 ini gajinya harus dipotong 50 persen menjadi Rp 10 juta/bulan.

Dengan angka itu, ia harus mencicil berbagai kebutuhan, seperti membayar kredit rumah dan mobil, sehingga uangnya pun hanya tersisa Rp 500.000.

Ia pun kini berharap mendapatkan bantuan pemerintah, karena sisa gaji yang dimiliki saat ini tak lagi mampu mencukupi kehidupan harian keluarganya.

Sebelumnya juga sempat viral di jagat maya yang dibagikan akun Twitter @_pasiholan. Akun itu menceritakan temannya yang berprofesi sebagai karyawan swasta dengan gaji Rp 80 juta/bulan kini harus menerima kenyataan pahit karena kena PHK perusahaan.

Padahal, karyawan itu hidup dalam kemewahan. Disebutkan, temannya memiliki cicilan kredit mobil mewah dan kredit rumah di Kota Wisata. Saat ini, tabungannya sudah tipis, dan ia merasa kebingungan dengan kondisi yang dialami. Akibatnya, rumah tangganya pun kini berantakan.

Baik unggahan orang bergaji Rp 20 juta/bulan maupun soal temannya bergaji Rp 80 juta/bulan itupun langsung menuai respon negatif warganet. Berbagai hujatan dan bully-an pun dialamatkan kepada yang bersangkutan.

Rasanya, bagi sebagian besar masyarakat, apalagi yang memiliki penghasilan pas-pasan, atau bahkan yang penghasilannya hanya bisa dimakan pada hari yang sama, membaca unggahan itu akan merasa seperti tertampar dan syok, termasuk saya.

Hal itupun sangat berbanding terbalik dengan yang dilakukan Salomi Malaka, seorang ibu asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang masuk dalam daftar warga miskin, menolak bantuan sembako dari pemerintah pusat. "Saya harus usaha sendiri. Tuhan sudah kasih saya 10 jari dipakai untuk usaha. Tidak ada alasan lain," ucapnya.

Baru-baru ini juga viral sebuah video yang memperlihatkan seorang nenek, warga miskin di Malalak, Sumatera Barat menolak bantuan beras yang diberikan untuknya. Bukan tanpa alasan, ia mengembalikan beras itu karena menurutnya ada masyarakat yang lebih membutuhkan.

Saat itu, petugas datang ke rumahnya sambil membawa sekarung beras dan garam. Namun, ia hanya mengambil garamnya, dan mengembalikan beras itu. Dia menolak beras itu dengan sangat sopan dan ramah.

Yah, sangat berbeda. Setidaknya, hal itu menunjukkan betapa social distancing (jarak sosial) -- bukan imbauan pemerintah dalam pencegahan covid-19 -- itu nyata di tengah masyarakat. Bahkan, hal itu juga menunjukkan betapa 'jomplang'-nya respon sosial yang terjadi di masyarakat dalam masa pandemi covid-19 ini.

Kedewasaan dalam menyikapi masa sulit seperti saat ini rasanya menjadi tantangan bagi setiap orang. Sikap hati bersyukur dan legowo tampaknya harus menjadi yang utama, dengan tidak melupakan tenggang rasa. Setidaknya, bersyukurlah untuk hari ini. (*)

Penulis: arief novianto
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved