OPINI
OPINI Setia Naka Andrian : Lelucon dan Migrasi Bahasa Stiker
KATA “stiker” saat ini sudah masuk dalam KBBI V sebagai ilustrasi yang biasa digunakan dalam media sosial, seperti emotikon. Jika menilik awalnya
Setia Naka Andrian
Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang
KATA “stiker” saat ini sudah masuk dalam KBBI V sebagai ilustrasi yang biasa digunakan dalam media sosial, seperti emotikon. Jika menilik awalnya, ia hanya diartikan sebagai lembaran kecil kertas atau plastik yang ditempel.
Saya jadi ingat masa SMA dulu. Kerap kali selepas pulang sekolah, saya hinggapi lapak penjual stiker di pinggir jalan dekat Pasar Kota Kendal. Saat itu saya begitu menggemari stiker. Saya membeli beberapa stiker-stiker bernuansa musik, dari logo band pop, rock, hingga metal. Lengkap pula dengan judul atau kutipan syair lagunya.
Stiker yang saya gemari pun menyasar dunia balapan motor, lengkap dengan seabrek logo sponsor yang melingkupinya. Ada pula stiker tokoh-tokoh kartun yang lucu-lucu, dari mulai Mickey Mouse, Tasmania, hingga Doraemon. Stiker-stiker itu diam-diam memenuhi pintu kamar, kaca jendela rumah, sampul buku pelajaran, sekujur tubuh motor, dan helm.
Bagi saya saat itu, stiker seakan menjadi simbol tersendiri bagi dinding-dinding keangkuhan anak-anak muda pada zamannya. Stiker hadir dengan dalih mewakili teriakan kebebasan anak muda melalui gambar, logo, dan berhamburan kata-kata tentunya.
Bahkan tidak sampai di situ saja. Di lapak yang kerap saya sambangi itu juga menyediakan emblem dengan nuansa dan nafas yang sama. Barangkali hanya beda pada bahannya saja. Jika stiker itu terbuat dari plastik, sedangkan emblem berbahan kain bordir atau kain yang diberi gambar cetak (sablon) serupa yang ditempel di kaos. Emblem itu pun pelan-pelan nangkring di beberapa koleksi topi, celana, jaket, dan bermacam baju tebal lainnya.
Lengkap sudah, semua dipenuhi tempelan! Bahasa stiker berhamburan di rumah, jalanan, punggung, dan kepala manusia. Diam-diam juga turut bersembunyi di balik meja-meja sekolahan. Bahasa stiker menggoda, menggairahkan, menyejukkan, memotivasi, membakar semangat, pun kadang menyesatkan.
Tidak cukup itu, saat era kemunculan WhatsApp yang telah digemari berbagai kalangan, stiker atau gambar-gambar itu bermigrasi ke layar ponsel pintar. Mereka sudah kian enggan menempel di kaca jendela, motor, helm, dan media lainnya.
Kecuali saat ada suporter bola pengedar stiker keliling berlabel klub kebanggaannya. Mau tidak mau mereka akan mengoleksinya di kaca jendela rumah. Dengan harapan, saat ada yang berdatangan lagi dengan membawa stiker dengan warna klub yang sama, mereka dapat menolaknya dengan lebih tenang.
Kita begitu mafhum, siapa saja dapat dengan cuma-cuma mengunduh atau menyimpan stiker-stiker itu. Sangat mudah, hanya dengan klik gambar dan tambah ke favorit. Selanjutnya kita sudah dapat menempelkannya dengan leluasa dalam setiap adegan percakapan. Baik dalam jaringan pribadi atau WhatsApp Group (WAG) dengan bejibun anggota. Kehadiran bergelimang stiker itu menjadi lelucon tersendiri. Mengundang gelak tawa orang-orang yang sedang sibuk memelototi layar ponsel pintar di tangannya.
Stiker itu selanjutnya sudah tak lagi hanya yang diproduksi massal semata, yang hanya bawaan dari WhatsApp saja. Orang-orang telah lebih leluasa berkesempatan untuk menciptakannya sendiri. Bahkan tidak pula hanya menggunakan gambar-gambar kartun, line drawing, atau clip art semata.
Mereka bisa menggunakan foto-foto apa saja, atau bahkan menggunakan wajahnya sendiri. Sesekali mereka pun dapat mengedit wajah temannya dengan sesuka hati untuk dijadikan bahan stiker. Dibubuhilah wajah yang lucu dan wagu itu dengan kata-kata yang cenderung nyeleneh dan seenak-enaknya. Namun tetap dengan dalih merawat keakraban dan kebahagiaan dalam grup komunitas itu.
Tak jarang kita menjumpai peperangan stiker dalam WAG. Apalagi saat-saat ini, sedikit-sedikit siapa saja akan melenggang membuat grup baru. Sudah lengkap memiliki grup teman TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah. Namun masih saja ada grup satu kompleks rumah tinggal, teman satu kegemaran, atau lainnya.
Bahkan WAG sementara untuk menggunjing saja dibukakan grup sedemikian rupa dengan nama dan gambar sampul sedemikian rupa. Bayangkan saja, kelompok-kelompok kecil berisi tiga-empat orang saja langsung digiring dalam sebuah WAG itu.
Stiker-stiker bertebaran. Mereka berkelakar, saling melempar dan adu serang stiker di grup itu. Meski sebelumnya ia juga panen stiker dari grup-grup lain yang telah diikuti. Bahkan sempat dalam sebuah grup bersama beberapa teman kuliah, saya dan beberapa teman bersepakat pada hari Jumat dilarang mengirim stiker dalam grup tersebut.
Hari Jumat adalah hari berkata-kata. Bahkan tidak hanya dilarang mengirim stiker saja, mengirim emotikon yang hanya bulatan berwarna kuning kecil-kecil pun dilarang. Mengirim gambar juga dilarang, apalagi kirim video!
Namun kami tak habis akal, meski dilarang mengirim stiker, kami tetap mengirim kata-kata yang menempel dalam stiker. Persis seperi yang melekat dalam stiker koleksi kami tersebut, baik yang kami ciptakan sendiri atau stiker-stiker yang sudah tenar sebelumnya.
Misal, “Laki-laki biadab!”, “Kau tak kan pernah mengerti!”, “Habis komentar cuci tangan ah!”, “Maaf, grup disemprot dulu ya!” (disemprot gas disinfektan), “Menurutku panjenengan wis wayahe rabi maneh!” (Menurut saya, Anda sudah saatnya menikah lagi), “Wis ngene durung?” (Sudah begini belum?) Begini: menunjuk adegan memasukkan makanan ke mulut dengan tangan.
Bahkan tidak cukup itu, penggalan syair puisi pun turut ambil bagian dalam peredaran stiker-stiker itu. Stiker-stiker bermigrasi memenuhi halaman ponsel pintar yang maha luas. Kita seakan dibuat tak berdaya menepis godaannya. Apalagi saat-saat merebaknya pagebluk kali ini. Orang-orang berdiam diri di rumah, sejenak melupakan kegelisahan dan berbagai ketakutan lain dengan cekikikan menaruh kedua bola matanya di layar ponsel pintar.
Tidak hanya remaja, dewasa, atau orang tua, bahkan yang sudah lanjut usia sekalipun tak mau ketinggalan untuk mengoleksi dan mencipta stiker-stiker terbaiknya. Produksi kata-kata berhamburan. Bahasa mengendarai stiker-stiker itu dengan kencang. Kita seakan kian tak kuasa mengejarnya.(*)
• Jadwal Bundesliga Malam Ini: Borussia Dortmund vs Schalke 04 di Liga Jerman, Live Mola TV
• Incar Tas Berisi Uang Rp 200 Juta Milik Nasabah Bank di Kudus, Residivis Ini Dapat Pakaian Kotor
• KOPLAK! Pasien Positif Corona Ngamuk Saat Dijemput Petugas, Sengaja Peluk Warga Agar Tertular
• Bripda Herman Kalap Pergoki Istrinya di Kamar Bersama Serda HS, Ambil Pistol Tembak Berkali-kali