OPINI

OPINI Wijanto Hadipuro : Masa Depan Pemerintahan Negara

Saat ini di tengah pandemi Covit-19, di sejumlah komunitas-komunitas kecil berkembang diskusi tentang dampak Covit-19 dan masa depan pemerintahan

ISTIMEWA
Wijanto Hadipuro 

Oleh Wijanto Hadipuro

Staf Pengajar Unika Soegijapranata.

Saat ini di tengah pandemi Covit-19, di sejumlah komunitas-komunitas kecil berkembang diskusi tentang dampak Covit-19 dan masa depan pemerintahan negara dan sistem ekonomi kapitalis konvensional.

Tulisan David Harvey (2020) dan Slavoj Žižek (2020) menjadi makanan ringan diskusi melalui berbagai media digital. Harvey dan terutama Žižek melihat saat ini pemerintahan negara ada di bawah komando World Health Organization (WHO). WHO memegang peran kolektif, koordinatif, dan komprehensif (lihat pernyataan Dr. Tedros Adhanon Ghebreyesus, pimpinan WHO yang dikutip Žižek).

Žižek berargumen bahwa pendekatan komprehensif tentunya ada di luar jangkauan satu pemerintahan negara. Juga perlu dilakukan secara kolektif yang mengindikasikan perlunya koordinasi dan kolaborasi internasional, yang lagi-lagi melemahkan peran pemerintahan negara. Informasi juga harus dibagikan dan harus terencana secara koordinatif pada tataran global. Kolektif, koordinatif dan komprehensif seperti inilah yang bagi Žižek kemudian disebutkan sebagai bentuk komunisme yang diperlukan dunia saat ini.

Menurut Žižek alternatif pilihan lainnya adalah pada barbarianisme survival of the fittest. Di kalangan kecil tertutup mulai ada diskusi bagaimana jika fasilitas rumah sakit tidak lagi memadai bagi mereka yang positif Covid-19? Masih menurut Žižek yang perlu dikorbankan adalah yang paling lemah dan paling tua. Biarkan mereka yang menjadi korban saja dan jangan sampai mereka memenuhi fasilitas rumah sakit. Biarkan rumah sakit hanya untuk the fittest. Sebuah barbarianisme yang berwajah kemanusiaan.

Sebelum Harvey dan Žižek, sebenarnya diskusi yang kemudian menjadi hangat kembali adalah alternatif sistem ekonomi yang dikemukakan oleh Kate Raworth (2017) tentang Doughnut Economics. Bagi Raworth, semua orang dan khususnya para calon pemimpin tahun 2050-an masih diajari ilmu ekonomi dengan buku teks tahun 1950-an yang sebenarnya berakar pada pemikiran dan kondisi tahun 1850-an.

Ilmu ekonomi, dan tentunya sistem ekonomi, sudah tidak lagi memadai untuk menangani tantangan sosial dan ekologis saat ini, seperti ketimpangan dan perubahan iklim. Sistem ekonomi saat ini yang hegemonik menghasilkan sebuah paradoks, ada kemajuan ekonomi yang luar biasa melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi di lain pihak pada saat yang sama terjadi deprivasi luar biasa.

Pandangan Raworth dikontekstualisasi oleh Žižek yang mengatakan bahwa ide seseorang memerlukan ‘more’ tampaknya tidak realistis saat ini. Mampu bertahan saja sudah lebih dari luar biasa, apalagi berharap pada ‘more’. Bagi Raworth, pertumbuhan ekonomi ada batasnya yang dia sebut sebagai ecological ceiling yang merupakan bagian lingkaran luar dari donut dalam ilmu ekonomi donatnya. Pada sisi lingkaran dalam donat, adalah pondasi sosial seperti kebutuhan dasar akan air, sanitasi, kesehatan, dan pendidikan. Di tengah lubang donat adalah ketunaan (illiteracy), kemiskinan, dan kelaparan. Sistem ekonomi yang berkelanjutan digambarkan oleh ‘daging’ donat dan itulah yang harusnya dilakukan saat ini: sediakan pondasi dasar dan tanpa melewati batas ekologis.

Praktek Penanggulangan Pandemi

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved