Ngopi Pagi
FOKUS : Menyasar Keramaian
BERDAMAI dengan keadaan. Kalimat itu bisa bermakna ambil solusi terbaik dengan beradaptasi terhadap kondisi terkini. Sama halnya dengan kondisi
oleh Iswidodo
Wartawan Tribun Jateng
BERDAMAI dengan keadaan. Kalimat itu bisa bermakna ambil solusi terbaik dengan beradaptasi terhadap kondisi terkini. Sama halnya dengan kondisi saat ini bahwa masalah pandemi Covid-19 tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Bisa saja penanganan atau pengendalian Covid-19 butuh waktu bertahun-tahun karena dipengaruhi beberapa faktor.
Para ilmuwan di dunia berlomba-lomba melakukan penelitian dan ujicoba untuk menemukan Antivirus tersebut. Meskipun nantinya bila antivirus telah diproduksi massal juga belum ada jaminan pengendalan Covid-19 tuntas. Masih ada masalah lain, bahkan WHO menyebut virus corona tidak bisa musnah 100 persen. Yang bisa dilakukan adalah pengendalian dan pencegahan penularan.
Lalu bagaimana menghadapi problem dunia yang pelik ini.
Sejumlah negara telah berdamai dengan keadaan, bukan menyerah atau terserah. Mereka coba menerapkan protokol kesehatan di berbagai bidang termasuk pendidikan, ekonomi, keagamaan, kebudayaan dan sebagainya. Hidup berdampingan dengan virus corona.
Sambil menunggu adanya antivirus mereka mulai membangun kehidupan baru atauNewNormal. Tetap beraktivitas, tingkatkan produktivitas tapi dengan penerapan ketat protokol kesehatan yaitu jaga jarak, bermasker, rajin cuci tangan pakai sabun, membiasakan pola hidup bersih dan sehat, tidak berkerumun, dan teratur cek suhu tubuh.
Di Indonesia termasuk Jateng sedang digalakkan test Swab atau PCR dan Rapid Test dengan menyasar keramaian baik di pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan. Tim Gabungan melakukan test (rapid test dan Swab) kepada ratusan pedagang dan pengunjung pasar tradisional hasilnya mengejutkan. Dari ratusan pedagang yang ditest itu ditemukan puluhan orang positif dan reaktif.
Artinya, dimungkinkan makin banyak orang menjalani test maka makin terkuak fakta bahwa sebenarnya sudah banyak orang terinfeksi virus corona melebihi data resmi. Itu test menyasar kerumunan di pasar tradisional.
Dan memang sebagian pedagang pasar maupun pengunjungnya belum tertib mengenakan masker, belum jaga jarak aman (1-2 meter), masih berkerumun dan belum disiplin cuci tangan pakai sabun .
Jika itu disepelekan maka penanganan Covid-19 makin rumit. Penerapan kehidupan New Normal butuh waktu makin lama. Karena hidup berdampingan dengan corona harus disiplin penuh kesadaran. Hidup normald aturan baru bukan hal mudah. Butuh kesiapan fisik dan mental. Misalnya siswa duduk di kelas harus berjarak maka otomatis kapasitas ruang kelas hanya separuh atau sepertiga dari biasanya.
Prinsipnya masyarakat tetap produktif dan aman dari Covid-19. Contoh mudah saat ini sudah muncul kesadaran pemilik toko atau warung pasang pembatas kaca atau plastik bening untuk pencegahan penularan virus. Di sejumlah mesjid diatur sedemikian rupa agar jemaah berjarak, tidak bersalaman, disediakan sabun cuci tangan dan lain-lain..
Nantinya jika New Normal sudah siap diterapkan, berarti tanda-tanda kehidupan baru segera dimulai. Penyekatan jalan dilonggarkan, pembatasan kegiatan masyarakat dicabut secara bertahap, moda transportasi juga mulai bergairah lagi, pariwisata dan sektor ekonomi lainnya perlahan akan pulih. Kuncinya adalah semua pihak menaati protokol kesehatan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/iswidodo-wartawan-tribunjatengcom-ok_20171019_070705.jpg)