Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Wejangan Badranaya

ALKISAH, ketika situasi kacau, Ki Lurah Semar Badranaya kerap menjadi jujukan. Tempat meminta nasihat atas segala persoalan.

Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/dokumen
Achiar M Permana 

Oleh Achiar M Permana

Wartawan Tribun Jateng

ALKISAH, ketika situasi kacau, Ki Lurah Semar Badranaya kerap menjadi jujukan. Tempat meminta nasihat atas segala persoalan.

Kendati "hanya" berperan sebagai punakawan, Semar sejatinya dewa. Dewa yang mengejawantah. Dia merupakan penjelmaan Batara Ismaya, kakak Batara Guru, sang pemimpin para dewa.

Tokoh Semar merupakan kreasi para pujangga Jawa. Tokoh tersebut tidak ada dalam pewayangan versi India, baik wiracarita Mahabarata maupun Ramayana.

Bersama tiga "anaknya"--Nala Gareng, Petruk, dan Bagong--Semar merupakan punakawan, atau ada yang menyebut sebagai panakawan.

Kata punakawan, konon, berasal dari kata 'puna' yang berarti 'susah' dan 'kawan' yang berarti teman, yang bisa dimaknai sebagai teman di kala susah. Selain itu, ada juga yang menafsirkan panakawan berasal dari kata 'pana' yang berarti 'terang' dan 'kawan', yang berarti teman untuk menuju jalan yang terang.

Semar adalah rakyat jelata yang mengabdi sebagai pengasuh para ksatria. Dia orang biasa, yang bertugas mendampingi para ksatria baik.

Dalam kisah Mahabarata, dia berada di kubu Pandawa, melayani Puntadewa, Werkudara, Janaka, Nakula, dan Sadewa. Semar memiliki "kuncung putih", yang menyiratkan makna bahwa isi kepalanya adalah pikiran yang suci, selalu positif, dan hanya berlandaskan kebenaran.

Tokoh Semar melejing ke kepala saya, tepat ketika peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2020. Terlebih, ketika menyimak pergelaran wayang climen dalang muda asal Yogyakarta, Ki Seno Nugroho, via live streaming, Minggu (31/5/2020) malam. Pada pergelaran itu, Ki Seno memainkan lakon Wahyu Panca Tunggal, yang relevan dengan Hari Lahir Pancasila.

Dalam pewayangan Ki Seno, Semar memberikan wejangan tentang "Wahyu Panca Tunggal" kepada para Pandawa untuk menyelesaikan persoalannya. Lakon itu tentu sinambung dengan situasi negara, yang sedang berada dalam deraan Covid-19.

"Kayane awake dhewe wis butuh Ki Semar kok, Kang. La keadaan semakin bubrah seperti ini? Kopete rak bar-bar," tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Sejak 2016, 1 Juni resmi ditetapkan menjadi Hari Lahir Pancasila lewat Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi menyampaikan, keputusan ini melalui pidato pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Gedung Merdeka, Bandung pada 1 Juni 2016. Tanggal 1 Juni juga ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Pada masa pandemi corona, yang mendera Indonesia sejak awal Maret 2020, peringatan Hari Lahir Pancasila terasa istimewa.

Bukan tanggal merahnya yang menjadikan istimewa. Sama sekali bukan. Toh tanpa tanggal merah, sebagian besar rakyat Indonesia sudah "libur" sejak beberapa bulan lalu. Sebagian terpaksa menjalani work from home (WFH) atau kerja di rumah, setelah corona merajalela. Sebagian lainnya malah lebih parah karena harus melakukan WFH untuk seterusnya, setelah keluar surat pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved